Home » Bulletin SADAR » Buletin SADAR Edisi: 377 Tahun VII – 2011, ISSN: 2086-2024, SENI PERLAWANAN YANG BERPIHAK PADA RAKYAT TERTINDAS

Buletin SADAR Edisi: 377 Tahun VII – 2011, ISSN: 2086-2024, SENI PERLAWANAN YANG BERPIHAK PADA RAKYAT TERTINDAS

October 2011
S M T W T F S
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arsip:

Oleh : Ibob*

Sejarah perkembangan seni dan budaya perlawanan Indonesia memang menarik untuk diikuti. Seni budaya Indonesia berangkat jauh sebelum zaman pra-kemerdekaan. Seni dan budaya daerah masa itu lebih berkembang ketimbang budaya nasional yang memang belum terkonsep dengan jelas. Budaya rakyat hanya bergerak di tataran bawah, dari rakyat untuk rakyat, dan memang hanya untuk rakyat. Budaya asing lebih kuat mempengaruhi.

Pasca kemerdekaan, seni dan budaya daerah Indonesia mulai muncul mewarnai jagat kesenian. Produk seniman Indonesia mulai muncul dan dipamerkan lewat pentas-pentas dan pameran. Masa itu kebudayaan lebih mengarah pada seni perjuangan untuk mengusir dan melawan penjajah. Para seniman senang menyebutnya dengan nama seni revolusioner atau seni perlawanan.

Awal kemerdekaan, orientasi seniman mengarah pada seni rakyat. Pada awal kemerdekan pula, Presiden Sukarno mengharuskan setiap partai politik membentuk sebuah organ ataupun lembaga kesenian dan budaya. Hal ini berlandaskan Trisakti yaitu berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam budaya. Instruksi Sukarno ini secara tidak langsung merupakan aplikasi dari paham yang ketiga, bahwa Indonesia harus bisa menjaga dan mengembangkan budaya aslinya sesuai dengan pribadi bangsa.

Di masa itu banyak organ kesenian yang tumbuh subur di Indonesia. Salah satunya adalah Lekra yang mewakili kubu kiri dan manikebu dari golongan kanan. Perseteruan antar pelaku seni ini menggambarkan dengan jelas bahwa ada jurang pemisah setelah Indonesia lepas dari genggaman Kolonial Belanda. Sukarno yang pada saat itu telah mengambil hati rakyat Indonesia mencoba memerangi pengaruh Blok Barat pasca Perang Dunia II. Memang pada saat itu Indonesia condong pada Blok Timur. Terlebih dengan munculnya karya seniman Lekra yang mengandung ideologi dan artistik yang tinggi. Itu termaktub dalam metode berkarya 1-5-1 seniman Lekra.

Metode 1-5-1 dapat dijabarkan sebagai berikut:

Pertama, politik sebagai panglima merupakan simbol kesadaran masyarakat akan segenap dinamika sosial yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik dan bersifat politis. Tapi juga merupakan prinsip pertama sebagai ilmu kepemimpinan, baik individu maupun kolektif untuk selalu berpihak kepada rakyat.

Kedua, meluas dan meninggi adalah bagaimana sebuah karya seni bisa menjaring kesadaran secara politis dan luas jangkauan kuantitatifnya terhadap masyarakat dan menitikberatkan pada tingginya ideologi.

Ketiga, tinggi mutuideologi dan artistic. Untuk mencapai tataran 2 tinggi itu harus didapatkannya kesadaran politik, sementara tinggi mutu artistik merupakan penerjemahan kenyataan dalam bentuk karyanya.

Keempat, tradisi baik dan kekinian revolusioner dipahami sebagai etika yang didasari ideologis revolusioner, sedangkan dimensi realitas masyarakat diwakili oleh kekinian revolusioner dalam tatanan sosial di masyarakat.

Kelima, realisme sosial dan romantisme revolusioner. Realisme sosial dan romantik revolusioner merupakan bentuk kesadaran ideologi dalam berkesenian. Sebuah tekad perjuangan menuju kemenangan sosialisme lewat jalur kesenian.

Satu yang terakhir adalah turba (turun ke bawah) yang merupakan sebuah bentuk tindakan guna melihat kenyataan yang terjadi di sosial masyarakat itu sendiri.

Dalam seni perlawanan. seni bukanlah sesuatu yang tak terjangkau dan abstrak. Karya seni yang melawan adalah bagaimana membangun kesadaran seniman pada pemahaman yang nyata dan dilihat dari hasil pengamatan getaran yang dialami oleh rakyat. Tak ada keindahan yang dibuat-buat.

Seni harus berpihak. Tidak semata-mata urusan estetika saja. Seni untuk seni adalah kredo yang melarikan diri dari kenyataan bahwa rakyat masih ditindas. Tentu bukan berarti estetika itu tidak penting, hanya saja estetika harus tunduk pada realisme sosialis. Mendewakan estetika akan berarti melarikan diri dan membohongi hati nurani, suatu sikap menyerah dan tak siap memikul tanggung jawab sebagai warga negara dan seniman.

* Penulis adalah seniman KePAL-SPI (Keluarga Seni Pinggiran Anti Kapitalis), sekaligus Anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.

** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau http://www.prakarsa-rakyat.org).



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: