Home » Bulletin SADAR » Buletin SADAR Edisi: 356 Tahun VII – 2011, ISSN: 2086-2024, PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP HIPERREALITAS

Buletin SADAR Edisi: 356 Tahun VII – 2011, ISSN: 2086-2024, PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP HIPERREALITAS

April 2011
S M T W T F S
« Mar   May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Arsip:

Oleh : Fredy Wansyah*


Menghebohkan! Itulah apresiasi terhadap perilaku masyarakat hari ini. Perilaku yang cenderung merealitaskan dunia yang bukan realitas. Hasilnya, masyarakat sangat menggemari realitas itu yang seharusnya bukan realitas.

Perilaku itu, misalnya, yang baru-baru ini terjadi, cerita Briptu Norman dengan goyang India-nya di dalam penyedia layanan video (Youtube). Selain itu, cerita lagu “Udin Sedunia” dan kisah miris penipuan pernikahan yang bermula dari fesbuk. Tidak hanya itu, bila kita telusur lagi waktu-waktu yang telah lewat, ada “Keong Racun” ala Sinta-Jojo.

Ada pula kisah-kisah kepedulian yang menggunakan fesbuk maupun twitter, seperti penggalangan dukungan Bibit-Candra dan koin Prita Mulyasari. Bahkan, sikap-sikap politik praktis pun ada yang menggunakan media fesbuk dan twitter sebagai media kampanye atau penggalangan massa, misalnya trik politik Obama, dan kisah konflik Mesir yang diduga pada awalnya twitter turut serta sebagai media publik.

Hal-hal terkecil selain fakta-fakta di atas, kita juga sering mendengar perbincangan dalam lingkungan sehari-hari yang menceritakan perihal status fesbuk seseorang. Status fesbuk dianggap sesuatu yang nyata, sehingga mendapatkan reaksi yang serius melalui perbincangan-perbincangan serius. Inilah dunia hiperrealitas.

Contoh menarik dari Baudrillard, di dalam Ritzer, mengenai analogi apa itu hiperrealitas adalah pornografi. Bahwa pornografi dianggap lebih seksual dibandingkan seks, yang kemudian disebutnya dengan term hiperseksualitas. Jadi, dunia-dunia yang belum jelas sumber serta fakta riilnya seperti apa yang ada di dalam media-media dunia maya sama halnya seperti sebuah pornografi tadi, yang dianggap lebih riil dan layak berada pada realitas.

Dalam perspektif Baudrillard, uraian-uraian faktual di atas tadi menandakan bahwa masyarakat kita cukup aktif sebagai masyarakat konsumen. Masyarakat konsumen merupakan masyarakat yang bergantung pada kapitalisme, yang kemudian dikendalikan melalui komoditas-komoditas sebagai perebutan makna di balik konsumsi. Makna di balik konsumsi tadi disebut dengan istilah kode.

Misalnya, dengan membeli kartu perdana telepon seluler yang menawarkan gratis sms seharian berarti kita menandakan diri sebagai pengguna aktif sms dan sibuk berinteraksi. Arti-arti di balik konsumsi tersebut adalah arti yang dikendalikan oleh sistem kapital tadi. Oleh karena itu, sebagai komoditas, fesbuk atau dunia maya tidak sekadar media sosial atau sarana informasi, melainkan ada arti di balik itu.

Pengguna dan Faktor

Pada suatu media menyatakan bahwa perkembangan fesbuk mencapai 135 persen per tahun. Pada awal tahun 2009 pengguna aktif fesbuk di Indonesia telah mencapai 1 juta. Bila persentase tadi dikombinasikan dengan jumlah pengguna aktif 2009, maka dapatlah akumulasi pengguna fesbuk saat ini di Indonesia, yakni mencapai 3 juta lebih pengguna aktif.

Penggunaan fesbuk yang terus berkembang pesat didasari oleh faktor pemberitaan dan faktor fasilitas. Faktor pemberitaan ini merupakan pemberitaan fenomena-fenomena yang berkaitan terhadap fesbuk. Media pemberitaannya adalah media-media massa mainstream, seperti stasiun televisi ternama. Dampak atas pemberitaan tersebut adalah ketertarikan terhadap apa yang diberitakan tadi. Sedangkan faktor fasilitas maksudnya, sarana-sarana yang disediakan telepon seluler untuk mengakses fesbuk semakin mudah dan relatif bervariasi. Penyediaan itu tidak lagi terbatas oleh harga.

Uraian perihal fesbuk ini terkait pula dengan penggunaan internet. Bila pengguna fesbuk semakin meningkat, berarti kuantitas tersebut menandakan pengguna aktif dunia maya (internet) pula. Begitu pula terhadap faktor peningkatannya yang tidak jauh berbeda dengan pola-pola peningkatan pengguna layanan internet lainnya, salah satunya adalah Youtube.

Mau tidak mau, sebagai konsekuensi masyarakat konsumen, kita harus memberikan kepada publik perihal kesadaran. Kesadaran mengenai masyarakat konsumen yang terasosiasi terhadap nilai-arti yang dikehendaki dalam suatu komoditas tertentu. Jika tidak, konsekuensinya adalah, kita akan menjadi masyarakat realitas yang diartikan melalui komoditas oleh produsen komoditas itu.

* Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Padjajaran, sekaligus Anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.

** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau http://www.prakarsa-rakyat.org).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: