Home » musik » Musik Adalah Bahasa Universal

Musik Adalah Bahasa Universal

December 2009
S M T W T F S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Arsip:


Pertemanan saya dengan Hideko Takahashi dimulai ketika kami belajar bahasa Italia bersama di Istituto Italiano di Culturale, pusat kebudayaan Italia yang terletak di daerah Menteng. Anggapan “the world is so narrow” memang benar adanya, karena sebelumnya saya pernah berjumpa dengan beliau pada acara konser violin Midori Goto di kediaman duta besar Jepang beberapa bulan sebelumnya. Sebagai istri salah seorang diplomat yang bekerja di Kedutaan Jepang, tentu beliau diundang pada acara tersebut. Oleh karena itu, ketika pertama kali melihatnya hadir pada kuliah pertama di Istituto, saya yakin sekali, “Ibu ini pasti yang waktu itu ada di konsernya Midori,”

Ternyata memang benar, itu adalah Hideko. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk akrab dengan Hideko-san karena ia memang orang yang sangat supel dan terbuka. Bahkan ia seringkali ikut serta apabila teman-teman di kelas mengadakan acara wisata kuliner ke tempat-tempat makan unik. Ia bahkan tidak segan untuk ikut makan di warung soto mie Jl. Bandung (yang berupa warung kaki lima di pinggir jalan), datang dengan mobil Toyota Fortuner berplat CD sehingga mengundang perhatian setiap orang yang ada di warung tersebut. *Yang was-was malah kami yang mengajak, takutnya sakit perut*

Waktu pun berlalu, ternyata Hideko-san tidak melanjutkan kuliah bahasa Italia di Istituto karena suaminya dimutasi ke Roma. Akhirnya kelas “makan-makan” Istituto sepakat mengadakan farewell party untuk Hideko-san di restoran Anatolia Kemang. Kebetulan malam itu Jakarta macet total sehingga saya adalah orang kedua yang tiba disana setelah Hideko (untuk disiplin soal waktu, orang Jepang memang nomor satu). Sambil menunggu teman-teman yang lain, kami mengobrol panjang, terutama mengenai musik dan kebudayaan.

Hideko mengemukakan bahwa saat ini Jepang sedang mengalami masalah ekonomi. Iklim finansial yang tidak begitu bagus belakangan ini membuat kehidupan semakin sulit. Menurutnya, anak-anak muda di Jepang saat ini tidak berorientasi untuk berkeluarga karena untuk menanggung penghidupan sendiri saja sudah sulit, apalagi untuk menghidupi anggota keluarga apabila menikah kelak. Mencari pekerjaan di Jepang saat ini sulit sekali, sementara biaya hidup sangat tinggi. Hideko mencontohkan, di Tokyo (yang termasuk dalam daftar kota termahal di dunia), secangkir kopi di sebuah kedai dapat mencapai 80 ribu rupiah!

Ngomong-ngomong, teringat pada cerita Hideko-san, saya sedikit merinding ketika kemarin ini membaca artikel wawancara majalah Prisma (Juni 2009) dengan Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Ketika membahas masalah “hutang luar negeri Indonesia yang tidak akan pernah terbayar sampai kapan pun,” Ibu Ani menjawab: “Ini masuk ke dalam filosofi mengenai suatu negara apakah dia berutang terus sampai keabadian? Jepang, contohnya. Demografinya mulai mengecil, generasi tuanya sudah mencapai 60 persen. Karena makin tua berarti makin banyak kebutuhan untuk kesehatan, jasa-jasa, karena sudah tidak bekerja lagi maka “makan” dari tabungannya. Siapa yang akan menyediakan semua kebutuhan mereka ini? Generasi yang lebih muda, yang makin mengecil, yang harus menanggungnya, plus beban utang masa lalunya yang lebih dari seratus persen. Jadi negara itu akan terus masuk ke dalam lilitan utang. Terus terang, kalau saya jadi menteri keuangan Jepang barangkali akan frustrasi dan tidak tahu akan berakhir seperti apa,”

Farewell party di Anatolia, Kemang

Hidup memang penuh ketidakpastian, tapi paling tidak masih ada seni yang mempersatukan umat manusia. Rupanya Hideko-san adalah seorang pianis juga. Ia belajar piano sejak kecil, namun ketika harus menemani suaminya dinas di berbagai negara, terpaksa kontinuitas permainan pianonya harus menyesuaikan dengan ritme kehidupan ibu-ibu diplomat (merangkap ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki). Beliau sangat antusias ketika membicarakan masalah makanan dan seni yang menurutnya mempersatukan manusia dari berbagai negara yang memiliki perbedaan kultur dan budaya. Sebagai contoh, sebelum ditugaskan di Indonesia, Hideko sempat tinggal selama beberapa tahun di Teheran, Iran. Disana anak-anaknya les piano dengan guru berkebangsaan Spanyol dan memainkan lagu-lagu komponis Barat dan karya komponis Iran. Begitu pula Hideko kagum ketika tahu bahwa saya bisa menyanyikan lagu opening dorama “Tokyo Love Story” dalam bahasa Jepang, dan ia bertanya pada saya, “You sing that song, but do you know what’s the meaning of the words?”. Saya jawab, tidak. Kemudian ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Kemudian, dua hari sebelum Hideko-san berangkat ke Roma (berangkat tanggal 26 Oktober), ia mengundang saya ke apartemennya untuk memberikan tanda mata perpisahan. Saya datang dengan Lilis Ho, salah seorang kawan dari Istituto. Ketika berjumpa dengannya, rupanya ia memberikan sejumlah buku musik, bermacam-macam partitur yang sangat menarik. Yang paling menyita perhatian saya adalah buku musik terbitan Iran, yaitu Etude op 599 Carl Czerny dan dua buku karya komponis Iran, Fariborz Lachini.

Etude Czerny op 599 merupakan “makanan pokok” bagi para pelajar piano. Rupanya di Iran, tulisannya menggunakan bahasa Arab untuk judul, sedangkan tanda tempo masih ditulis dalam huruf latin. Ketika sedang terkesima melihat buku-bukunya, Hideko-san bilang, “You can read it right? You’re a moslem and I think you can read all of those Arabian characters,” Saya bilang, bisa, sambil berpikir kira-kira bacaannya apa, karena huruf Arab yang digunakan untuk bahasa sehari-hari biasanya adalah Arab “gundul” (tanpa penanda vokal ‘a’, ‘i’, atau ‘u’) dan sedikit berbeda dengan yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Etude op 599 (Carl Czerny)
Tapi coba kita lihat, di pojok kanan atas adalah (dari kanan ke kiri) aksara modifikasi ta + sin = che, disusul ra, dan nun dengan penunjuk huruf ya sebagai vokal ‘i’. Karena huruf pertamanya diberi penanda vokal ‘i’, maka bacaannya kira-kira “Chir-nii” (Czerny). Sedangkan huruf kecil yang “terbang” diatas “Chir-nii” adalah kaf, alif (untuk menandakan vokal ‘a’), ra, dan lam, maka bacaannya kira-kira “Karl”. Menarik sekali!
Judul menggunakan aksara Arab, tapi tanda tempo tetap alfabet Latin
Selain Etude Karl Czerny, Hideko-san juga memberikan dua buah buku komposisi piano karya komponis Iran, Fariborz Lachini. Sang komposer yang lahir pada 1950, belajar komposisi di Eropa dan merupakan anggota Masyarakat Komposer Prancis (Société des Auteurs-Compositeurs – SACEM). Setelah kembali ke Iran, ia aktif membuat musik untuk pendidikan anak-anak dan komposisi musik film. Berikut ini adalah kumpulan impresi akan musim gugur yang tersusun dalam album “Golden Autumn”.

“Golden Autumn” karya Fariborz Lachini, volume 1

Salah satu lagu dalam “Golden Autumn”
Ternyata memang benar, musik dan seni adalah suatu produk kebudayaan yang menembus batas – transendental. Musik menyatukan perbedaan dan latar belakang dalam sebuah perdamaian universal. Semoga Hideko-san bisa tetap membawa kebaikan dimana pun ia berada.
Have a good life in Rome!

The last photograph with Hideko and Lilis Ho


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: