Home » sejarah » Mengenang Kepergian bang Oji : Kawan, Guru dan Ayah Bagi Kami.

Mengenang Kepergian bang Oji : Kawan, Guru dan Ayah Bagi Kami.

December 2009
S M T W T F S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Arsip:

Lewat seorang kawan, saya mengenal bang Oji. Minimal mengenal nama bang oji sebagai seorang figur yang luar biasa. Waktu itu, sekitar tahun 2003,  ketika saya bertarung melawan proses PHK yang  melelahkan, ddisela-sela diskusi advokasi atas kasus PHK yang sudah berjalan 3 tahun itu,  seorang kawan di LBH  Jakarta bercerita tentang sakitnya Bang Oji.  Saya bertanya-tanya, siapakah bang Oji, yang orang bercerita tentang namanya dengan hormat, kagum dan iringan doa kesembuhan bagi dirinya?

Lama sesudah itu, rasa penasaran saya   menjadi semakin besar ketika saya mendapatkan kiriman sebuah jurnal terbitan lembaga bernama LIPS. Saya tidak tahu dari mana LIPS mengetahui alamat pabrik tempat saya bekerja, yang jelas jurnal itu sangat terlambat saya terima karena semua kiriman pos untuk serikat di sortir oleh pihak keamanan pabrik tempat saya bekerja. Amplopnya dibongkar, isinya diacak-acak. Tapi beruntung jurnal itu masih bisa saya baca. Kiriman yang rusak, hilang atau bahkan tak dapat saya terima, saya yakin jumlahnya lebih banyak lagi.

Pertemuan pertama saya dengan Bang Oji akhirnya terjadi dalam sebuah pendidikan di Parung Bogor, ketika beliau menyampaikan tentang kursus ekonomi politik. Jujur, saya agak bertanya-tanya, inikah bang oji yang bagitu lama saya penasaran tentang namanya? Akhirnya penasaran itu terjawab ketika  dalam perkenalan sebelum sesi,  moderator memperkenalkan namanya. Fauzi Abdullah, bisa dipanggil Oji. Gak usah pakai Pak, Bang atau bung. Oji saja juga boleh. Sebuah ungkapan canda tapi memberikan gambaran nyata bahwa pribadinya sangat terbuka dan tak ribet dengan status. Menganggap  setara dengan siapapun. Dan itu yang sangat  menonjol dari penampilannya : baju yang sederhana bahkan sangat sederhana untuk bang oji dengan kebesaran namanya.

Pertemuan yang cukup membuat saya terhenyak adalah ketika dalam sebuah diskusi Panel bertajuk  ”Warisan Otoritarianisme Orde Baru”, dimana saya mendapatkan kesempatan menjadi salah salah panelis, bersanding dengan dua pembicara lain dari FNPBI yang mati-matian memperjuangkan argumentasinya kenapa memilih salah satu partai dalam Pemilu 2009 sebagai  afiliasi politiknya. Dan seorang pembicara lain dari SPN yang juga mengungkap landasan moralnya kenapa memilih partai berbasiskan agama untuk memaksa anggota menerima keputusan elit  pimpinan untuk memilih dalam pemilu 2009. Dalam diskusi panel itu, saya menyampaikan sikap  tegas KASBI kenapa harus Golput dalam Pemilu 2009.

Dalam diskusi panel itu, bang oji hadir sebagai pembahas presentasi dari ketiga panelis. Dari situlah saya terhenyak ketika beliau mengatakan bahwa  keputusan memilih partai dengan alasan untuk tujuan kesejahteraan buruh, untuk memuliakan anggota, untuk kebesaran serikat  buruh sah-sah saja asalkan : keyakinan  itu dibangun dengan berlandaskan pada massa anggota yang maju, terdidik dan terpimpin dengan sikap politik yang jelas. Tanpa itu, sama saja artinya menjual anggota untuk kepentingan elitnya. Jawaban ini, jujur membuat saya bungah dan sekaligus menohok  komentar beberapa akademisi dalam ruangan diskusi yang meskipun (beberapa diantaranya) bergelar doktor tapi analisanya sangat dangkal dan pragmatis. Pertemuan berikutnya, saya tak ingat lagi  karena berita yang saya denganr lebih banyak tentang kondisi kesehatannya yang sangat menurun.

Pertemuan dengan Bang Oji, yang selalu dalam suasana penuh kesederhanaan, memberikan sebuah keyakinan bagi saya bahwa  perjuangan panjang dan berliku bagi gerakan buruh (di) Indonesia telah melalui masa-masa yang sangat sulit, ke depan akan semakin sulit karena represi kaum modal semakin kuat. Tapi, kayakinan bahwa keberhasilan perjuangan ke depan, harus diletakkan pada keyakinan membangun sebuah gerakan berbasiskan pada kekuatan massa anggota, tentu saja massa anggota yang terdidik, terpimpin. Di tengah massa anggota itulah, para pemimpin serikat buruh dari tingkat pabrik hingga yang ada di pusat berjuang. Siapa yang mengingkarinya, masa niscaya akan gagal.

Dan kabar kepergiannya yang yang terlalu cepat itu, saya terima melalui pesan singkat beberapa kawan malam itu, membuat saya harus lebih dalam menundukkan kepala,  sebagai wujud kepedihan atas kepergiannya dan tentu saja sebagai wujud  penghormatan atas kepergian seorang kawan, guru dan ayah yang baik bagi kami semua. Dan kita tentu saja harus menuliskan nama Bang Oji dalam lembaran-lembaran putih sejarah pergerakan kita. Sejarah  yang  kita tuliskan sebagai penghormatan dan solidaritas terhadap kaum pekerja yang ditulis dengan tinta darah, air mata dan tetesan keringat berjuta kaum pekerja itu, tak bisa tidak harus menuliskan nama Bang Oji, dengan tinta merah yang sangat jelas.

Selamat jalan Bang. Kami tahu perjuangan ke depan sangat berat, tapi setidaknya kami tentram karena telah kau rintis  jalan itu, jalan bagi masa depan kita semua. Kepedihan atas kepergian bang Oji, tak lama setelah kepergian sahabat terbaik kita yang lain Kawan Yehezkiel Prabowo, adalah sebuah kehilangan bagi gerakan buruh Indonesia.

Selamat jalan dan terima kasih Kawan!

Khamid Istakhori

KASBI

salam,
khamid

bangkitlah kaum tertindas, bangkitlah kaum yang lapar….
kehendak yang mulia dalam dunia senantiasa bertambah besar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: