Home » Bulletin SADAR » Edisi: 242 Tahun V – 2009, LITERASI MENGUBAH KEHIDUPAN

Edisi: 242 Tahun V – 2009, LITERASI MENGUBAH KEHIDUPAN

October 2009
S M T W T F S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip:

Oleh Eka Pangulimara H *

Dunia seperti yang ada sekarang praktis tidak akan semaju dan secanggih ini tanpa kehadiran literasi dalam perikehidupan manusia! Revolusi Perancis yang dianggap sebagai babak awal kemajuan manusia modern lahir dan ditopang literasi melalui teknologii cetak yang dipelopori Guthenberg. Pencetakan tulisan memastikan transfer informasi secara massal sehingga kesadaran komunal nan kritis masyarakat Perancis terhadap kekuasaan terbentuk dan bersetuju menggulingkan kerajaan yang otoriter.

Jepang yang terbelakang, terutup dan miskin menjelma sebagai negara terkemuka, maju dan makmur berkat literasi pula. Negara itu melalui apa yang dinamakan Restorasi Meiji, menterjemahkan buku-buku dari Barat secara besar-besaran. Karena itu pula transfer pengetahuan sekaligus kemampuan teknologis masyarakat Jepang terpola. Dalam kurun tak lama, Jepang tumbuh sebagai negara raksasa, produsen alat-alat berteknolgi tinggi dan merajai pasar dunia.

Deskripsi terbalik bisa kita arahkan pada bangsa Indonesia. Literasi bukan hal yang terakrabi oleh masyarakat kita. Buku-buku merupakan benda yang asing bagi mayoritas masyarakat. Kebudayaan membaca belum sempat terbentuk (yang ironisnya segera tergantikan oleh budaya menonton televisi!).

Sebagai gambaran tragis, meskipun jumlah penduduk Indonesia ratusan juta, namun pembaca sebuah koran yang dianggap terbesar di negeri hanya berkisar setengah juta orang! Penerbitan buku-buku pun masih minim dalam kisaran ribuan judul/tahun, plus dengan catatan setiap buku yang terjual pun berjumlah minim.

Sementara pemerintah sendiri kurang jelas keberpihakkannya pada buku atau literasi. Yakni tiadanya campur tangan dalam mendorong haga buku agar murah dan terjangkau masyarakat.

Campuran yang sempurna ini tidak heran melahirkan profil bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kurang maju dalam pelbagai bidang, marjinal dalam pergaulan internasional, miskin, sekaligus menjelma bangsa yang pintar mengkonsumsi ketimbang berproduksi.

Maka, ajakan untuk membaca (yang sebenarnya terus-menerus direproduksi) tetap dan kian relevan sampai kapanpun. Kebutuhan membaca bukan lagi sekedar membuka wacana pribadional, melainkan untuk tujuan yang lebih besar dalam ukuran kebangsaan. Ibaratnya, masa depan kita sebagai bangsa dan negara ditentukan oleh kesadaran kuat untuk membaca.

Tak tergantikan

Agak hiperbolis, pengarang Remy Silado mengatakan ihwal yang membedakan manusia dengan makhluk bukan (sekedar) pada otaknya, tapi pada kemampuan menciptakan buku. Tak ada makhluk selain manusia yang mampu membuat buku. Padahal, melalui buku inilah aspek pembelajaran dalam kehidupan terpastikan. Karena makhluk lain tak pernah membuat buku dan membacanya, mereka tak pernah belajar dan hanya mengandalkan insting.

Dunia memang tengah mengalami perkembangan pesat dalam pola komunikasi, melalui internet dan seluler. Informasi dan segala hal yang berkaitan dengannya dapat diperoleh jauh lebih mudah dibanding masa-masa sebelumnya. Buku dan media-media informasi dalam bentuk cetakan mendapat tantangan baru untuk tetap diandalkan manusia sebagai piranti pengetahuan dan informasi.

Namun sebegitu jauh, buku belumlah tergantikan. Perannya masih besar, bahkan di negara-negara dengan kemelekan terhadap internet sudah sedemikian besar. Membaca buku dan koran tetap merupakan pilihan utama dan penting menghadirkan informasi. Prediksi bahwa koran bakal tergusur oleh web-web informasi yang lebih cepat diakses ternyata tidak terbukti.

Hal ini disebabkan membaca buku atau koran menawarkan sensasi yang berbeda dibandingkan ketika membaca informasi yang sama saat membuka internet. Dalam soal kenyamanan membaca, buku atau koran jauh lebih unggul. Bacaan sama di internet seringkali tetap perlu dicetak agar lebih enak dibaca, dimana kadang-kadang justru lebih boros (bandingkan saja membeli koran Joglosemar yang berharga cuma Rp 1000 dengan men-download berita di warnet yang bisa jadi jauh lebih mahal).

Deskripsi sederhana bisa kita acu pada kasus novel “Ayat-ayat Cinta” karya Habiburahma El-Shirazy atau “Da Vinci Code” karya Dan Brown yang dua-duanya fenomenal. Kedua naskah itu juga beredar dalam bentuk file terkompresi yang tersebar melalui e-mail. Namun membaca novel tersebut (meskipun file yang diperoleh gratis) butuh diprint lebih dulu, kecuali yang hanya ingin sekilasan saja membacanya. Walhasil, pembajakan buku versi internet kurang berdampak ketimbang film, lagu dan foto.

Dalam konteks Indonesia, meskipun ada gerakan internetisasi desa-desa, buku tetap merupakan literasi utama yang perlu digalakkan secara terus-menerus. Pemasyarakatan internet bagaimanapun masih perlu waktu yang teramat panjang, termasuk membutuhkan tingkat kepemilikan komputer di tiap rumah tangga. Ketimbang menunggu masa semacam ini tercapai (atau malah tidak tercapai melihat gelagat krisis ekonomi dunia yang kian menjadi!), pemasyarakatan buku jelas lebih realistis.

Keberpihakkan Pemerintah

Karena menyangkut masa depan bangsa, upaya memperkuat animo membaca tidak ada salahnya jika diperlakukan sebagai gerakan terorganisir. Pertama, masyarakat tidak bisa dibiarkan sendirian guna mendongkrak minat baca anggotanya. Kedua, mendongkrak minat baca memerlukan contoh, kampanye dan pembiayaan yang tidak sedikit. Posisi terakhir ini memerlukan lembaga kredibel dan profil semacam ini hanya dimiliki oleh sosok bernama pemerintah.

Kita bisa meniru India yang serius menerbitkan buku-buku sehingga harganya lebih murah. Warga India makin teredukasi dengan adanya buku-buku murah ini dan terbukti mereka (bersama Cina) jauh lebih siap menyongsong globalisasi ketimbang Indonesia.

Apabila belum memungkinkan mensubsidi buku, pemerintah perlu membenahi distribusi buku-buku yang memakan biaya produksi lebih dari setengahnya (harga buku mahal salah satunya disebabkan biaya pendistribusian). Entah dengan mekanisme seperti apa-apa, penanganan distribusi ini lebih memastikan kepemilikan buku oleh seseorang tak perlu sampai merogoh kocek dalam-dalam.

Pada intinya, industri perbukuan sebaiknya tidak dipandang sebagai industri biasa yang memiliki hukum untung-rugi (komersial).

Peran lebih pemerintah dimungkinkan pula melalui pembangunan perpustakaan hingga ke pelosok desa. Program ke arah ini memang sudah berjalan melalui insentif terhadap taman-taman baca milik masyarakat. Namun hal ini tidak cukup karena kurang menjamin ketersediaan taman baca hingga mencakup seluruh area.

* Penulis adalah Pengurus Pusat Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.

** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau http://www.prakarsa-rakyat.org).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: