Home » Peduli Buruh Migran » Pupus Sudah Mimpiku Meraih Ringgit Di Negeri Jiran

Pupus Sudah Mimpiku Meraih Ringgit Di Negeri Jiran

October 2009
S M T W T F S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip:

Maksud hati meraup ringgit di negeri orang, apa daya cerita duka yang justru kudapatkan. Begitulah sepenggal cerita diri yang mencoba mengadu peruntungan di negeri Jiran. Bukan Ringgit yang kudapat, justru lumpuh yang kubawa pulang.

Namaku Misriah aku berasal dari Desa Pekajang, Kecamatan Kedung Wuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sebuah desa yang tergolong minus, penduduk desa mengandalkan hidup dari bertani dan menjadi buruh di kota, begitu pula dengan keluargaku, boleh dibilang hanya hidup pas-pasan. Sejak suamiku meninggal dunia, aku hidup dengan kedua anakku.

Lepas dari kemiskinan! Inilah tekadku ketika memutuskan hendak merantau ke Negeri Jiran sebagai buruh migran. Melihak kondisi anakku yang masih membutuhkan biaya, rasanya tidak mungkin aku hanya berdiam diri.

Tahun 2005, hatiku sudah bulat hendak merantau mengubah nasib keluargaku. Restu dari kedua anakku menjadi modal yang sangat berharga saat kulangkahkan kaki pergi ke PJTKI. Malaysia tujuanku. Bayangan Ringgit yang bakal mengucur ke kantong dan wajah bahagia kedua orang anakku, kian membulatkan tekad untuk melangkah terus.

Di penampunagn salah satu PJTKI dengan membawa bekal Rp. 300.000, aku mengurus surat-surat dan keperluan lainnya. Uang sebesar itu sangat berarti sekali buatku, dengan sangat hati-hati aku menggunakannya. Bahkan ketika di penampungan pun aku tidak pernah sama sekali membeli makanan dari luar.

Dua bulan aku di penampungan akhirnya bisa terbang juga ke Malaysia. Di kota Kuala Lumpur ini aku bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Awalnya majikanku agak cerewet namun tidak aku ambil hati karena terbayang wajah kedua anakku yang menunggu di rumah. Enam bulan gajiku dipotong oleh agen yang menyalurkanku bekerja. Setelah masa potongan selesai, setiap dua bulan sekali aku bisa mengirimkan nafkah untuk kedua anakku di kampung.

Setelah waktu berjalan tidak, terasa sudah dua tahun aku bekerja, aku dapat pulang ke kampung halaman untuk melepas rindu pada kedua anakku dan keluarga besarku. Dua bulan aku diberi cuti oleh majikanku untuk bisa pulang. Tapi rasa rindu pada anakku belum terobati, majikanku sudah menelpon untuk segera kembali ke Malaysia.

Dengan berat hati aku berangkat lagi ke Malaysia untuk melanjutkan bekerja, walaupun kedua anakku melarangku untuk pergi lagi. Tapi karena tekadku untuk bisa mengubah nasib anakku lebih baik lagi, aku terpaksa pergi walaupun kedua anakku tidak merelakan.

Kemalangan mulai menimpaku

Sampai juga akhirnya aku di Negeri Jiran ini. Dengan langkah mantap aku berjalan menuju ke rumah majikanku. Dengan senyum majikanku menerima kedatanganku lagi. Namun setelah tiga bulan aku bekerja, tanpa diberitahu apa kesalahanku, majikanku langsung memecatku dan malam itu harus pergi dari rumahnya.

Dengan pikiran kalut aku keluar dari rumah majikanku untuk mencari tempat berteduh karena hari sudah malam dan gerimis. Pikiranku menerawang jauh ke kampung halaman dimana kedua anakku tinggal. Tidak terasa air mata ini mengalir tanpa bisa aku tahan.

Beruntung pagi itu ada pemilik kedai, dimana aku beristirahat, menawarkan pekerjaan membantu masak di kedai. Dengan senang hati akupun menerima tawaranya. Dan di sinilah awal malapetaku itu.

Aku harus bangun jam 4 pagi untuk belanja dan setiba di rumah harus membersihkan rumah pemilik kedai. Setelah itu akupun mulai menyiapkan bahan untuk dimasak, sekitar jam 2 sore baru selesai memasak, lalu aku harus menunggu serta melayani pembeli di kedai. Makanpun aku tidak sempat karena apabila majikanku tahu kalau aku makan, maka ia akan marah dan memakiku. Dengan berat hati aku jalani pekerjaan itu. Dari hari ke hari rasanya tenagaku tidak lagi kuat, 20 jam sehari masa kerjaku.

Usiaku sudah tidak muda lagi, 48 tahun. Dengan bekerja seperti itu badanku lambat-laun mulai terasa sakit dan pada awal bulan Januari 2009 aku jatuh dan tidak bisa bangun lagi. Kedua tanganku tidak bisa digerakkan bahkan mataku juga tidak bisa melihat. Rasanya seperti sudah berakhir hidupku ini. Di tempat majikanku, aku tidak pernah mendapatkan layanan kesehatan, bahkan ke dokterpun tidak. Makanpun aku hanya mengais sisa-sisa makan orang yang dibuang di sampah. Karena aku sudah tidak berguna lagi bagi majikanku maka aku ditempatkan di gudang belakang dekat tempat sampah.

Pertengahan bulan Maret aku ditolong kawan dari Indonesia yang melihatku seperti mayat hidup, lalu aku diantar ke KBRI Kuala Lumpur untuk dipulangkan ke Indonesia. Gajiku selama 7 bulanpun tidak diberikan oleh majikanku.

Kembali ke kampung halaman

Walau hatiku menangis, tapi apa boleh buat, aku jalani hidup ini dengan ketabahan, mungkin karena sudah cukup masa istrirahatku aku minta untuk segera dipulangkan ke Indonesia.

Akhirnya aku diantar ke bandara bersama ketigabelas kawan buruh migran lainnya untuk dipulangkan ke Indonesia. Hatiku perih bila menyadari kondisiku seperti ini. Dalam perjalananpun aku tidak bisa tidur karena menahan nyeri yang amat dalam, karena apabila aku bergerak rasanya lepas semua tulang-tulangku.

Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya pesawatku mendarat juga di Bandara Soekarno-Hatta. Begitu aku dibawa turun dari pesawat akupun masih dilanda kebinggungan. Bayangan, reaksi kesedihan kedua anakku jika mengetahui ibunya yang jauh merantau pulang dengan membawa derita.

Aku masih berpikir, mampukan aku bertahan untuk pulang ke Pekalongan dengan kondisiku yang masih lemah ini? Apalagi perjalanan masih memakan waktu satu hari satu malam lagi. Dari Bandara Soekarno-Hatta aku diantar ke shelter milik pemerintah untuk ditampung. Beberapa hari di shelter aku tidak mendapatkan pelayanan medis padahal kaki, tangan dan badan sangat susah aku gerakkan apalagi mataku yang tidak bisa melihat apapun.

Beruntung, di shelter aku bertemu dengan LSM yang mau membantu untuk memeriksakan aku ke rumah sakit. Dengan ringan tangan mereka membantuku untuk mencarikan keluargaku di Pekalongan yang akhirnya mengetahui kepulanganku.

Entah apa yang terbersit di benak keluarga ketika mereka mengetahui aku pulang ke Indonesia dengan yang sangat memilukan ini. Setelah aku dibantu salah satu yayasan sosial akhirnya aku dirawat di Pelayanan Kesehatan St.Carolus di Salemba. Lambat laun fisikku mulai membaik, walaupun belum bisa duduk maupun melihat. Dengan setia anakku menungguiku di Carolus. Karena jarak keluargaku jauh tempat dimana aku dirawat, mereka memintaku untuk segera pulang meski kondisiku lumpuh, tanpa uang sepeserpun.

Antara sedih dan rindu untuk pulang kampung halaman, tepat tangal 21 April 2009 akhirnya aku berangkat pulang ke kampung halaman, kembali pulang dengan menyisakan segudang kepiluan.

* Ditulis oleh Lily Pujiati, Koordinator Peduli Buruh Migran berdasarkan cerita Ibu Misriah. Tulisan ini disadur dari Suara (Hong Kong), 18 September 2009.

** Foto: Peduli Buruh Migran


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: