Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Jaringan Islam Liberal

Jaringan Islam Liberal

October 2009
S M T W T F S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip:

Friends,

Berikut tanya jawab dengan dua orang rekan berbeda tentang aliran liberalisme dan makna dalam hidup kita. Tentang pembaharuan dalam praktek keagamaan bersama, dan tentang arti atau makna yg kita berikan terhadap hidup kita sendiri. Apa dan mengapa? Kenapa saya harus jadi liberal untuk menjadi manusia seutuhnya? Baca saja:

+

PERCAKAPAN 1: JARINGAN ISLAM LIBERAL

T = Saya ingin tanya pendapat Mas Leo tentang Islam Liberal. Selama ini yang saya tahu, mereka berusaha untuk menyajikan alternatif lain dalam beragama Islam.

J = Iklannya memang seperti itu, tetapi tidak semua orangnya ok. Ada juga aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) yg masih bisa mengeluarkan ucapan kafir, dsb… Banyak aktivis JIL merasa hidup di atas air mendidiih yg sudah tidak perlu lagi. Mereka bilang sekarang jaman sudah berubah. Bukan air yg mendidih tetapi lebih tepat es batu karena global warming sudah melanda Indonesia juga. Tetapi, air itu tetap saja mendidih karena ada kompor yg menyala terus.

Kompornya adalah para ulama konservatif yg selama ini meraup untung dari pembodohan umat. Dunia Islam yg kalang kabut kebakaran jenggot itu dikompori oleh kelas ulama yg selama ratusan tahun menempati kasta tersendiri, dihormati seolah-olah mati hidupnya umat ditentukan oleh mereka. Mereka merasa berhak menginterpretasikan ucapan “Allah” (dalam tanda kutip).

Pedahal orang yg mengerti tahu bahwa Allah itu konsep saja, dan apapun yg kita mau bilang tentang Allah tidak akan menjadi masalah bagi Allah. Allah itu konsep mati, dan yg hidup adalah kesadaran di diri kita manusia. Kalau dikatakan Allah meridhoi anda, contohnya, maka anda akan merasa nyaman. Kalau dikatakan Allah melaknat anda, maka anda akan merinding. Pedahal Allah di situ cuma satu kata saja, tidak memiliki faedah apapun selain untuk membuat impressi di dalam kesadaran anda. Yg bereaksi itu pikiran anda. Pikiran anda bisa mengkonsepkan apapun, dan bereaksi sesuai dengan konsep atau “software” (dalam tanda kutip).

Agama dan Allah-nya itu software. Bisa di-revisi terus-menerus. Ada penciptanya juga. Pencipta pertama yg digelari nabi maha besar, pencipta kedua yg digelari imam maha besar, pencipta ketiga adalah imam cukup besar, pencipta keempat imam besar ukuran biasa, pencipta kelima imam kurang besar, dst… Revisi demi revisi sudah digulirkan dan di-aplikasikan kepada “hardwares” (dalam tanda kutip).

Hardwares adalah pikiran umat. Software atau agama yg lebih up to date akan menghasilkan output atau perilaku umat yg lebih relevan untuk jaman. Software atau agama yg sudah terlalu konservatif atau ber-orientasi ke masa lalu, otomatis akan menghasilkan output atau perilaku manusia yg error. Penuh kemarahan dalam beragama. Mereka yg beragama dengan penuh kemarahan adalah hardware yg menggunakan software jenis lama atau ajaran yg sudah tidak cocok… Akibatnya orangnya error, merasa diri manusia paling mulia satu dunia, merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan manusia lain yg tidak memeluk Islam. Dan akhirnya mereka menjadi badut saja. Badut paling lucu adalah para teroris Islam semacam Noordin M. Top dan Jemaah Islamiyah. Badut yg tidak terlalu lucu adalah para “pejuang” (dalam tanda kutip).

Pejuang Islam di facebook bergerilya memaki orang yg tidak sepaham. Mereka memaki karena diajarkan oleh software yg dipasang di otak mereka, bahwa pemeluk Islam berhak memaki orang lain. Bahwa mereka akan masuk Sorga, dan orang lain akan masuk Neraka. Bahwa Allah akan membela mereka. Pedahal tidak ada Allah, dan orang-orang yg berkelakuan tidak senonoh ini akan mudah saja kita tendang. Tendang saja, block saja. Saya sendiri sudah beberapa kali menendang unwanted persons yg memakai software error berlabel Islam. Ternyata kita bisa tendang mereka. Ternyata tidak ada Allah yg datang tergopoh-gopoh membela para teroris Islam ini.

Agama dan Allah-nya itu software, hardware adalah kita manusia. Tetapi mereka yg menangguk untung dari royalty yg dibayarkan kepada software versi lama tentu saja akan mencak-mencak tidak mau terima ketika umat beralih ke software versi baru. Royalty akan berpindah kantong, dan itulah issue-nya. The issue is money. Uang dan kekuasaan. Mereka yg merasa jualan mereka tergeser akan meributkan software jenis baru. Yg diperebutkan adalah para pengguna, para hardwares, yaitu kita semua.

Air mendidih adalah emosi umat yg beragama dengan marah. Mereka adalah pengguna software agama versi lama. Mereka marah karena sedari kecil mereka diprogram oleh software jenis lama bahwa Islam itu agama yg terakhir dan sempurna. Turun dari atas langit dibawa oleh Malaikat Jibril. Karena terakhir dan sempurna seharusnya dihormati oleh satu dunia. For your infformation, Allah SWT yg muncul di Al Quran itu gila hormat luar biasa, sehingga tentu saja umat yg percaya Allah menurut Islam harus dihormati juga. Begitu logikanya. Tetapi ternyata umat Islam dianggap biasa saja, tidak ada bedanya dengan orang lain. Mau atheist kek, mau Islam kek, orang satu dunia tidak perduli. Sama-sama manusia. Pedahal menurut mereka seharusnya atheisme itu dinjak-injak dan Islam dipuja-puji, tetapi nyatanya tidak begitu. Nyatanya justru Islam yg jadi cemoohan satu dunia karena umatnya terbelakang dan berkelakuan seperti hewan terluka.

Ada megalomania di Islam. Ulama Islam juga banyak yg terkena penyakit kejiwaan itu sehingga mereka mau umat mencium tangan mereka, pedahal jaman cium tangan sudah lama berlalu. Sekarang salaman saja sudah cukup. Tetapi,… bahkan diajakin salaman sama wanita juga tidak mau. Haram, katanya. Akhirnya jadi serba salah. Akhirnya orang akan bilang Islam itu agama aneh. Agama yg sempurna kok kayak begitu? Kayak bait lagu aja, ada kata sempurnanya. Atau, kayak iklan rokok Sampurna itu. Iklan, segalanya iklan, dan buktinya boleh bilang cuma ada di awang-awang.

Agama yg diskriminasi wanita kok sempurna? Orang beragama dengan penuh kemarahan kok sempurna? Percaya takhayul bahwa ada malaikat Jibril yg turun dari atas langit kok dibilang sempurna? Apalagi ketika dibilang bahwa semua agama lain di dunia ini sudah ketinggalan jaman dibandingkan dengan Islam yg paling akhir dan sempurna. Bukti yg tak terbantahkan lagi justru memperlihatkan bahwa Islam yg paling ketinggalan jaman. Wilayah terbelakang di dunia ditempati oleh mereka yg menganut Islam secara turun temurun. Pakistan, Bangladesh, Iran, Saudi Arabia,… semuanya terbelakang. Cupat. Fanatik. Penuh takhayul. Mempraktekkan diskriminasi dan poligami. Menginjak-injak HAM (Hak Azasi Manusia).

T = Islam Liberal selalu mengotak-atik ayat-ayat Al Qur’an yang dirasakan sudah tidak up to date lagi atau yang dirasakan tidak manusiawi, agar lebih sesuai dengan kondisi sosial masyarakat saat ini. Misalnya saja ayat tentang poligami. Mereka berusaha mengotak-atik ayat tsb, yang istilah kerennya “menafsirkan ulang”, agar sesuai dengan zaman. Mereka katakan bahwa sebenarnya Islam itu agama yg mengajarkan hidup monogamis. Karena Muhammad bermonogamis lebih lama daripada berpoligami, dan berpoligami itu karena kondisi tertentu yang masih bisa dibenarkan. Dikatakan pula bahwa poligami dalam Islam itu untuk membatasi jumlah istri orang-orang sebelum Islam datang. Dsb… dsb….yang akhirnya disimpulkan poligami itu haram dalam Islam.

J = Itu sah saja. Re-interpretasi itu sah saja karena semua agama merupakan buatan manusia. Islam Liberal cuma mencontoh Kristen Liberal yg sudah melakukan re-interpretasi sejak 100 tahun lalu. Tapi Kristen sudah memulai usaha itu dari titik yg jauh lebih maju dibandingkan dengan Islam. Kristen sudah re-interpretasi agama sejak hampir 2,000 tahun yg lalu ketika kitab-kitab Yahudi mereka ambil alih.

Kristen sudah mengeliminasi praktek poligami sejak hampir 2,000 tahun yg lalu, sedangkan Islam masih mempraktekkannya sampai sekarang. Malah sudah dilembagakan segala macam. So, tantangannya berat sekali untuk membawa Islam ke abad post modern ini. Ibaratnya seperti membawa cara berpikir Mekkah post Jahilliyah berpindah 1,300 tahun sekaligus. Susah sekali. Dan itu juga sebabnya banyak orang Islam Liberal jadi stress. Mereka mau re-interpretasi, tetapi tradisi re-interpretasi itu sendiri boleh bilang langka di Islam. Apalagi penganut Islam biasanya dihimbau dan dipaksa secara halus maupun kasar untuk tidak menggunakan otak mereka dengan alasan Allah tidak bisa dijangkau oleh otak manusia.

Pedahal Allah itu cuma konsep saja. Asalnya dari konsep Yehovah Elohim di agama Yahudi. Yehovah tidak boleh diucapkan, haram, dan sebagai kata gantinya dipakailah antara lain kata Adonai dan Eloah. Dari Eloah lalu menjadi Allah (lafal Arab). Dan itu kata ganti untuk merujuk Yehovah yg tidak boleh diucapkan karena dianggap sangat sakral.

Di kepercayaan aslinya, yaitu agama Yahudi, segala syariat yg diberikan oleh Musa atas nama Yehovah sudah sejak 2,500 tahun yg lalu mengalami re-interpretasi. Ditulis ulang dengan pengertian berbeda oleh banyak pembaharu atau yg sekarang dikenal sebagai para nabi… Yahudi sekarang bermacam ragam, dan kelompok fanatik kecil sekali. Sebagian besar Yahudi justru moderat. Dengan kata lain, manusia yg normal-normal saja.

Yg tidak normal itu Islam. Umat Islam justru diajarkan untuk menyangkal bahwa Islam merupakan copy paste dari agama Yahudi dan Nasrani. Pedahal asli copy paste. Ayat-ayat di dalam Al Quran itu asalnya dari kitab-kitab Yahudi dan Nasrani yg susunannya berurutan. Tetapi di Al Quran urutannya lompat-lompat sampai orang tidak bisa mengerti lagi bahwa ada sejarah kepercayaan semitik yg melahirkannya. Tetapi untuk mengajarkan kejujuran seperti itu berarti harus re-interpretasi tentang kepercayaan Muhammad buta huruf. Tentang Jibril yg datang tiba-tiba bawa ayat,… pedahal orang yg berpikir normal bisa tahu dengan mudahnya bahwa ayat-ayat itu hampir semuanya berasal dari kitab-kitab Yahudi dan Nasrani.

Orang-orang yg tidak pernah membaca Tanakh (kitab suci Yahudi) dan Perjanjian Baru (kitab suci Nasrani) tentu saja tidak tahu. Saya tahu karena saya menguasai kitab-kitab itu. Dan kalau orang menguasai kitab-kitab asal dari Al Quran, orang akan mengerti bahwa agama Yahudi itu diciptakan oleh manusia. Dan sudah ada reformasi berkali-kali di dalam agama Yahudi bahkan sebelum Nasrani muncul. Yg sekarang dikenal sebagai nabi-nabi dalam Islam itu adalah mereka yg melakukan reformasi agama Yahudi. Dan semuanya dicatat di dalam kitab-kitab Yahudi itu. Dicatat dengan jujur apa adanya segala jatuh bangun reformasi yg mereka lakukan.

Nasrani boleh bilang kelanjutan dari agama Yahudi, reformasi terhadap agama Yahudi yg saat itu sudah terlalu kaku diatur oleh syariat. Islam adalah kelanjutan dari Yahudi dan Nasrani, walaupun lebih banyak Yahudinya menurut saya. Di luar penerimaan terhadap Isa sebagai Imam Mahdi, boleh bilang isi dari Islam itu Yahudi. Syariat Islam itu syariat Yahudi yg merupakan hasil reformasi terhadap Yahudi awal. Dulu yg diambil alih oleh Islam sudah merupakan kemajuan luar biasa bagi penduduk Mekkah yg masih jahilliyah, tetapi sekarang sudah ketinggalan jaman lagi. Harus direformasi lagi, harus di-update lagi. Agama itu software, dibuat oleh manusia, dan harus dikeluarkan versi baru terus-menerus.

T = Kalau saya perhatikan, Islam Liberal ini justru sedang melakukan pembodohan umat. Karena kenyataannya tidaklah demikian. Karena nabinya sendiri berpoligami itu karena memang pengen kawin lagi setelah melihat perempuan cantik.

J = Re-interpretasi semacam itu sah saja. Kita bisa bikin mitos baru. Agama itu isinya mitos-mitos. Ada mitos agama yg terakhir dan sempurna. Ada mitos nabi yg gagah perkasa mengawini banyak wanita sekaligus. Dan sekarang ingin dibuat mitos nabi yg aslinya monogami dan terpaksa mempraktekkan poligami karena ingin mereformasi praktek jahilliyah sebelumnya. Itu sah saja… Agama-agama itu dibuat oleh manusia biasa, walaupun selalu dengan membawa nama Tuhan yg di sini lebih dikenal sebagai Allah. Sang Tuhan ini pelengkap penderita saja dalam agama semitik. Kalau tidak bawa nama Tuhan maka kurang afdol, umat tidak percaya. Maka dibawalah Tuhan. Pedahal Tuhan itu konsep saja.

Dari Musa yg bilang Tuhan namanya Yehovah dan haram disebut, sampai kata Eloah/ Allah sebagai pengganti untuk menyebut Yehovah, semuanya itu konsep saja. Makanya bisa di-reformasi. Bisa di-tata ulang. Sah saja. Memang seperti itu caranya.

T = Namun mungkin upaya mereka ini bisa dijadikan alternatif lain untuk orang-orang yang masih ingin beragama Islam, sehingga orang-orang tsb ber-Islam dengan cara yg lebih santun dan damai.

J = Iyalah. Saya secara moril selalu mendukung JIL. Saya dukung niat mereka. Terkadang saya suka kesihan juga melihat beberapa aktivis JIL yg dicaci-maki oleh orang Islam terbelakang dan fanatik. Mungkin mereka sudah kebal sekarang. Semua pembaharu di agama semitik selalu dicaci-maki, anyway… Caci maki itu tradisi semit, yaitu Yahudi dan Arab. Nasrani juga agama semitik, penganutnya suka mencaci-maki orang yg tidak sepaham juga. Tetapi itu jaman dulu karena sekarang umumnya Nasrani sudah jauh lebih beradab. Relatif sudah liberal. Sudah jauh lebih ok dibandingkan Islam.

+

PERCAKAPAN 2: MELIHAT BAHTERA NUH

T = Bicara mengenai mimpi, beberapa tahun lalu saya pernah bermimpi yg cukup mengganjal fikiran saya. Pernah saya tanyakan hal ini kepada salah satu rekan Mas Leo sebelum saya mengenal Mas Leo di facebook ini. Tapi saya ingin tahu pandangan Mas Leo langsung tentang mimpi saya ini, apakah ada satu kandungan arti di dalamnya.

J = Bagaimana mimpinya?

T = Suatu hari saya berada pada sebuah padang gurun pasir yg nyaris tanpa ada pemandangan lain yg dapat saya lihat. Saya hanya melihat satu-satunya bahtera mirip cerita nabi Nuh yg terdampar di tengah padang gurun itu.

J = Bahtera nabi Nuh yg terdampar di tengah padang gurun merupakan sesuatu yg impossible, tidak mungkin. Menurut pakem aslinya, bahtera Nuh terdampar di gunung Ararat ketika air bah menyurut. Gunung Ararat itu letaknya di Turki sekarang. Gunungnya tinggi sekali, dan atasnya dilapisi salju abadi. Air bah melanda seluruh bumi, begitu yg tertulis di kitab “Bereshith” di dalam Tanakh atau kitab suci Yahudi. Bereshith artinya “kejadian”, isinya tentang penciptaan bumi oleh Yehovah Elohim dalam waktu tujuh hari saja. Ada mitos Adam dan Hawa di Firdaus. Ada mitos Yakub yg bergulat dengan seorang malaikat ganteng sepanjang malam dan bisa bertahan hidup sehingga akhirnya lalu diberi nama Israel oleh sang malaikat itu. Israel itu nabi Yakub, nenek moyang orang Yahudi.

Dari sini muncullah mitos-mitos berikutnya, turun temurun semuanya tentang orang Yahudi dan syariat mereka, tentang bagaimana mereka sebagai bangsa dan pribadi-pribadi berhadapan dengan Tuhan semesta alam yg mereka namakan Yehovah Elohim…

Yehovah Elohim terlalu sakral untuk disebut, sehingga dipakailah kata ganti. Bisa disebut Adonai, bisa El Shaddai, bisa Eloah, dll.. Tetapi ini mitos juga karena kita saat ini bisa saja berteriak-teriak mengucapkan kata Yehovah, dan itu tanpa ada dampak apapun. Ternyata Yehovah cuma sepotong kata saja, cuma konsep saja. Yg jelas bagi kita, kata Yehovah itu sakral sekali bagi agama semit pertama yg menganut monotheisme. Yahudi itu boleh bilang monotheist pertama di satu dunia yg berhasil melembaga dan dijalankan ribuan tahun sampai saat ini. Agama-agama semit sebelumnya politheistik. Agama Yahudi yg diciptakan oleh Musa merupakan reformasi dari praktek politheisme di Timur Tengah. Musa membawa essensi ajaran Mesir Kuno ke dalam agama baru itu, dan para pembaharu berikutnya, yg sekarang kita kenal sebagai nabi-nabi setelah Musa, memasukkan berbagai kepercayaan tambahan yg asalnya dari Mesopotamia kuno. Ajaran Mesir kuno plus Mesopotamia kuno semuanya masuk ke dalam agama Yahudi itu yg direformasi terus-menerus dan baru dibukukan secara resmi sekitar 2,000 tahun lalu.

Berbagai macam kitab yg ditulis oleh para pembaharu kepercayaan Yahudi akhirnya dikumpulkan dan disebut sebagai Tanakh. Isinya bermacam-macam, ada Taurat yg berisikan hukum-hukum syariat Yahudi dan dipercaya diberikan oleh Yehovah kepada Musa di gunung Sinai. Ada kisah raja-raja Yahudi, termasuk Daud dan Sulaiman. Ada Zabur yg merupakan kumpulan lagu yg digubah oleh Daud. Semuanya buatan manusia belaka, yg menuliskan jatuh bangun perjuangan batinnya di hadapan Yehovah Elohim…

Bukan berarti bahwa benar ada Yehovah Elohim yg cuma istilah saja, tetapi benar bahwa semua manusia itu pada hakekatnya spiritual, yaitu bisa melakukan refleksi atas pikiran di dirinya sendiri. Refleksi diri dilakukan oleh manusia yg berpikir. Berpikir lalu bertindak. Lalu refleksi lagi. Lalu ada insights yg dituliskan dan dianggap suci oleh manusia lainnya. Dianggap bahwa itulah perkataan yg berasal dari Yehovah Elohim, pedahal asalnya dari si manusia itu sendiri. Refleksi jatuh bangun si manusia rohaniah itu.

Kisah para nabi Yahudi adalah kisah spiritual, refleksi pribadi, pergulatan batin. Ini semua ada di dalam kitab suci Yahudi (Tanakh) yg kemudian di copy paste oleh Islam. Al Quran itu banyak sekali mengambil ayat dari Tanakh. Pedahal Tanakh sendiri isinya refleksi pribadi manusia-manusia biasa. Refleksi pribadi ketika para manusia biasa melakukan reformasi di dalam masyarakat Yahudi. Para manusia yg melakukan reformasi agama ini sekarang dikenal sebagai nabi-nabi atau telah di-nabikan.

Reformasi agama adalah tema dari Tanakh atau kitab suci Yahudi. Reformasi agama adalah juga tema dari Perjanjian Baru atau kitab suci Nasrani. Mereka yg sekarang dipuja-puji sebagai orang suci di Nasrani: Yesus, Petrus, Paulus, Yohanes,… semuanya adalah pembaharu. Mereka adalah orang-orang liberal.

Semua pembaharu adalah orang liberal bagi jamannya. Yesus atau Isa juga seorang liberal bagi jamannya, sangat liberal malahan, walaupun kemudian Nasrani yg diciptakan berdasarkan ajarannya sempat juga terpuruk menjadi agama terbelakang ketika reformasi yg seharusnya digulirkan terus-menerus ditahan mati-matian oleh organisasi gereja. Organisasi keagamaan selalu bersifat konservatif atau menolak pembaharuan yg dibawa oleh orang-orang liberal. Selalu menolak karena ada vested interests atau kepentingan pribadi yg dipertaruhkan. Kepentingan pribadi ini dalam bentuk kekuasaan dan uang. Jabatan dan materi. Hal-hal keduniawian semata-mata. Organisasi keagamaan itu selalu membela kepentingan duniawi berupa kekuasaan dan uang. Bukan kerohanian.

Balik kepada mimpi anda melihat bahtera Nuh di tengah padang pasir: Bahtera adalah simbol dari diri anda sendiri yg telah berhasil selamat dari air bah yg melanda seluruh bumi. Anda selamat, tidak kurang suatu apapun. Tetapi anda terdampar di suatu padang pasir. Tidak ada apa-apa di sana, selain pasir belaka. Mungkin ada minyak di sana, tetapi anda tidak bisa makan minyak. Kita bukan mesin mobil, bukan robot syariat. Kita manusia belaka. Menurut pakem aslinya, sebagai bahtera Nuh yg selamat dari air bah, seharusnya anda terdampar di gunung Ararat yg bersalju itu, tetapi anda justru terdampar di tempat kebalikannya, yaitu di padang gurun yg tandus. Artinya, anda ternyata telah tiba di tempat yg salah. Tempat itu salah, seharusnya anda tidak berada di sana.

Mimpi adalah pesan dari alam bawah sadar. Jadi seolah-olah bawah sadar anda pada saat itu memperlihatkan bahwa anda berada di lingkungan yg salah, bergaul dengan orang yg salah, bekerja di tempat yg salah, dsb… Yg muncul di mimpi itu simbol saja, dan interpretasinya harus dihubungkan dengan situasi anda secara fisik atau mental pada saat itu. Yg jelas, dari mimpi ini kita bisa tahu bahwa pada saat itu anda berada di suatu keadaan yg salah. Anda seharusnya berada di tempat lain, secara fisik atau secara emosional dan intelektual.

T = Kemudian saya masuk ke dalam bahtera itu… dan saya melihat ada tiga pintu saat itu, tapi hanya dua pintu yg berpenghuni sepasang manusia yg sedang mengerjakan sesuatu. Di pintu 1 terdapat sepasang manusia yg sedang berbenah, dan di pintu 2 terdapat sepasang manusia yg terus-menerus sujud. Tapi ketika saya melihat pintu ke 3, saya hanya melihat ruang gelap dari kejauhan dengan tulisan di atas pintu itu “DAPUR TANPA MAKNA”.

J = Yg anda lihat adalah tiga situasi alternatif yg anda hadapi saat itu di dalam pikiran anda. Pintu-pintu itu adalah simbol dari alternatif yg bisa anda ambil dalam kehidupan anda sendiri. Pintu atau alternatif 1 adalah cara hidup berbenah, yaitu menyiapkan diri untuk abandon the ship, meninggalkan bahtera yg terdampar itu dan pergi ke tempat lain yg lebih layak untuk ditinggali. Bisa pergi ke negara Barat di mana HAM sangat dihormati. Bisa pergi ke Indonesia di mana tanahnya gemah ripah loh jinawi, walaupun terkadang ada bencana alam luar biasa yg memperlihatkan bahwa Allah tidak setuju dengan penerapan syariat Islam. Bencana Tsunami terbesar di dunia melanda Aceh beberapa bulan setelah syariat Islam diterapkan di sana. Dan bagi orang beragama, seharusnya hal itu menjadi pertanda bahwa Tuhan semesta alam muak dengan syariat Islam sehingga memuntahkannya. Terjadilah tsunami. Itu cara berpikir orang yg beriman kepada Tuhan semesta alam. Tetapi organisasi keagamaan tentu saja tidak mau mengakuinya karena, sekali lagi, ada kepentingan pribadi dalam bentuk kekuasaan dan uang. Semuanya tentang keduniawian semata dan bukan kerohanian.

Pintu kedua adalah simbol dari orang yg sujud bersembahyang tanpa berbuat apapun. Dan tentu saja orang itu akan mati kelaparan di tengah padang gurun. Sujud saja terus seolah-olah ada Tuhan yg akan mengirimkan malaikat Jibril, pedahal Jibril itu cuma hasil imajinasi manusia yg sedang stress. Tidak akan ada Jibril yg datang bahkan sampai manusia itu mati mengering di tengah padang pasir. Walaupun mati dengan bersujud, orang itu tidak akan memperoleh apapun. Bahkan tidak pula pencerahan karena jelas the person itu very goblok. Harusnya ke luar dari bahtera dan mencari penghidupan yg layak dan bukannya sujud menyembah “Tuhan” (dalam tanda kutip).

Tuhan yg asli berada di dalam kesadaran kita sendiri. Makanya mereka yg sudah sadar sesadar-sadarnya bisa bilang ana al haq, bisa bilang kula gusti, bisa bilang Abba and me are one. Bahwa Tuhan dan saya itu satu… Mereka yg bilang seperti ini adalah orang-orang liberal. Al Hallaj, Syekh Siti Jenar, Isa Almasih,… semuanya ini orang liberal yg akan di-dzolimi oleh para ulama yg duduk di organisasi keagamaan itu. Di-dzolimi karena orang-orang liberal ini tahu bahwa hidup kita ditentukan oleh kita sendiri. Bahwa Tuhan itu ada di dalam kesadaran kita, dan bukan di tangan para ulama konservatif yg masing-masing merasa diridhoi untuk beristri sampai dengan empat orang.

Pintu ketiga adalah sesuatu yg belum anda jalani sampai saat itu. Anda diperlihatkan oleh alam bawah sadar anda bahwa anda takut. Anda melihat ada tulisan “Dapur Tanpa Makna” di atas pintu nomor 3, tetapi apakah benar seperti itu belum anda buktikan. Anda belum pernah masuk ke sana, atau paling tidak melongok apa benar ada manusia di dalam sana. Kalau tidak ada manusia di sana, maka tulisan “Dapur Tanpa Makna” berarti bohong belaka. Dapur kok kosong? … Tetapi kalau benar itu dapur yg berisi berbagai bahan makanan untuk dimasak, maka berarti anda menemukan harta karun. Anda bisa berpesta pora memasak makanan untuk diri anda sendiri. Dan maknanya tentu saja harus anda sendiri yg memberikan. Dapur tanpa makna cuma seperti itu kalau anda melihat dari kejauhan. Setelah anda masuk dan menikmati makanan di dalamnya, anda akan tahu sendiri bahwa tempat itulah yg paling bermakna. Anda bisa bertahan hidup, bisa makan. Pedahal mereka yg ada di pintu 1 dan pintu 2 akan mati kelaparan. Kelaparan tanpa makanan di tengah padang pasir.

Bagi anda saat itu, dan mungkin sampai saat ini juga, pilihan-pilihan itu selalu terbuka. Mau berbenah saja, mau sujud saja, atau mau makan saja? Berbenah saja dan sujud saja akan membuat anda mati. Makan saja akan membuat anda hidup. Walaupun anda takut untuk masuk ke dalam dapur itu karena diwanti-wanti bahwa dapur itu tanpa makna, cepat atau lambat anda akan bisa memberikan makna juga.

Makna, meanings, diberikan oleh kita sendiri. Bukan oleh ulama konservatif yg memegang teguh ajaran masa lalu yg sudah tidak relevan lagi. Bukan oleh orang lain yg akan memuji anda kalau anda sujud terus menerus tanpa perduli makan. Bukan oleh orang lain yg akan memuji ketika anda selalu sibuk berbenah. Makna itu diberikan oleh diri kita sendiri, oleh kesadaran yg ada di dalam diri kita. Para pembaharu agama yg sekarang disebut sebagai para nabi itu sudah mencontohkan bahwa makna, meanings, diberikan oleh diri kita sendiri. Kita bisa saja menggunakan kata Yehovah atau Allah, dan itu sah saja… walaupun sebenarnya yg melakukan refleksi itu kesadaran kita sendiri saja.

Kita refleksi, kita putuskan untuk melakukan pembaharuan, reformasi. Kita menjadi orang liberal, kita memberikan makna atas hidup kita sendiri. Dan itulah essensi dari spiritualitas atau kerohanian. Bukan tentang syariat atau software agama versi lama, melainkan tentang makna-makna baru yg ditemukan terus-menerus di dalam kesadaran kita ketika kita melakukan dialog dengan Tuhan yg adanya di dalam kesadaran kita sendiri saja.

+

Leo @ Komunitas Spiritual Indonesia .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: