Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Aneka Berita Gempa Sumatra Barat (4)

Aneka Berita Gempa Sumatra Barat (4)

October 2009
S M T W T F S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip:

Kumpulan berita ini juga disajikan di website http://umarsaid.free.fr/

Aneka berita gempa Sumatra Barat
(bahan-bahan diambil dari berbagai sumber)

Gempa Rusak 533 Gedung Sekolah di Sumbar

Media Indonesia, 05 Oktober 2009

PADANG–MI:
Sebanyak 533 unit gedung sekolah rusak akibat gempa tektonik 7,6 SR yang menguncang Sumatra Barat, Rabu (30/9).

Data Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar di Padang, Senin (5/10), menyebutkan, dari 533 gedung sekolah yang rusak, 251 unit diantaranya rusak berat dan sulit untuk bisa digunakan lagi.

Kemudian, sekolah yang rusak sedang mencapai 192 unit dan rusak ringan 90 unit. Gedung sekolah yang paling banyak rusak berat terdapat di Kabupaten Padang Pariaman yakni 124 unit, kemudian Kabupaten Agam (43), Kota Pariaman (34), Kabupaten Pasaman Barat (21) dan Padang (7).

Meski banyak gedung sekolah yang rusak, kegiatan pendidikan telah dimulai Senin ini, namun belum dilakukan secara penuh. Murid-murid yang sekolahnya hancur dan tidak bisa digunakan mengikuti proses belajar mengajar di tenda-tenda sekolah yang didirikan badan BPP,
Unicef.

Tenda-tenda sekolah dikirim Unicef sejak Minggu dan terus didatangkan hingga Rabu (7/10), yang diangut dengan dua kapal, kata Kepala Sekretariat Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edwar.

Tenda-tenda sekolah itu akan didirikan di sekolah-sekolah yang hancur karena gempa, atau yang tidak bisa dipakai lagi untuk belajar-mengajar. Sedangkan jumlah tenda sekolah yang akan didirikan itu mencapairatusan unit dan akan terus ditambah untuk mencukupi penggantian sementara gedung-gedung sekolah yang rusak, tambahnya.

Tenda-tenda sekolah itu kemungkinan juga ada yang dibawa dari Nanggroe Aceh Darussalam yang sebelumnya dipakai untuk tempat belajar sementara anak-anak korban tsunami di daerah itu.(Ant/OL-01)

* * *
Duh, 320 Keluarga Terancam Kelaparan

Senin, 5 Oktober 2009

PADANG PARIAMAN, KOMPAS.com- Sebanyak 320 keluarga yang menghuni Korong atau Dusun Koto Tinggi, Kanagarian Gunung Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman, terancam kelaparan. Wilayah mereka terisolasi karena semua akses jalan menuju Koto Tinggi terputus dan tak bisa dilalui kendaraan roda empat. Sejak gempa terjadi, bantuan baru datang hari Minggu (4/10).
Korban gempa di Koto Tinggi kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Menurut salah seorang sesepuh dusun, Abdul Azis Sutan Bandaharo, tak banyak bantuan yang diperoleh masyarakat hari Minggu. Semua serba terbatas karena karena bantuan diangkut berjalan kaki, sementara jarak ke dusun kami sangat jauh dari tempat terakhir kendaraan bisa melewati jalan di simpang tiga. “Masyarakat sangat membutuhkan bahan makanan dan obat-obatan karena banyak warga kami yang sakit dan belum terobati,” ujar Bandaharo, Senin (5/10).

Menurut dia, sebanyak 13 orang warga Koto Tinggi tertimbun tanah longsor dan belum ditemukan jenazahnya. Selain itu ada dua orang warga yang meninggal di dekat rumahnya yang runtuh, juga belum dapat dievakuasi karena tak ada alat berat. Tim penyelamat baru datang ke Koto Tinggi hari Senin. Mereka terdiri dari tim Manggala Agni Departemen Kehutanan dan relawan dari pemadam kebakaran asal Perancis.
Akses ke Koto Tinggi hanya bisa ditempuh dari dua titik, yakni dari Padang Alai dan Malalak di Kabupaten Agam. Jalan dari Padang Alai maupun Malalak menuju Koto Tinggi terputus sejak gempa.

Bahkan putusnya jalan dari Padang Alai terjadi di tiga titik. Jalan yang terputus bisa mencapai satu kilometer. Selain terputus, di beberapa titik, jalan juga tertimbun longsoran tanah sehingga tak bisa dilewati kendaraan.
Relawan dari Perancis yang juga membawa dokter dan paramedis, sempat mendirikan klinik darurat di sebuah sekolah. Tercatat hampir 50 warga langsung mendatangi klinik tersebut. Sebagian warga mengeluh sesak nafas, sementara anak-anak menderita demam tinggi selama beberapa hari terakhir. Ada juga orangtua yang kekurangan nutrisi karena tak mendapat asupan bahan makanan cukup. Mereka langsung diinfus oleh tim medis relawan asal Perancis.

Kasman, warga setempat menuturkan, bantuan yang datang harus diangkut dengan berjalan kaki dari Padang Alai. Waktu tempuh dari Padang Alai menuju Koto Tinggi berjalan kaki selama dua jam. “Jumlahnya jadi tak seberapa karena diangkut dengan berjalan kaki, sementara kami betul-betul membutuhkan bahan makanan. Mungkin kalau beras, kami masih cukup, karena sebagian warga adalah petani, tetapi bahan makanan lain untuk memasaknya seperti minyak tak bisa kami dapatkan,” katanya.
Berharap akses bantuan dari Malalak juga tak mungkin karena jalan dari sana juga terputus di beberapa titik. “Kendaraan yang lewat hanya sepeda motor. Itu pun kami harus berhati-hati,” ujar warga lainnya, Zul Effendi.

Bantuan memang bisa didrop lewat udara menggunakan helikopter. Akan tetapi bantuan dari helikopter diturunkan asal-asalan, seperti yang dilakukan oleh helikopter Badan SAR Nasional, Senin sore. Mereka menurunkan bantuan berupa indomie di dekat lapangan sekolah tempat relawan Perancis membuat klinik darurat. Ini membuat korban gempa yang berobat terganggu, sementara tenda darurat yang didirikan warga rusak oleh getaran suara helikopter.
* * *
Jalur Padang-Bengkulu Putus

Senin, 5 Oktober 2009

PADANG, KOMPAS.com- Hujan deras yang mengguyur Sumatera Barat, Minggu malam hingga Senin (5/10) siang, menyebabkan jalan lintas barat Sumatera jalur Padang-Bengkulu, terputus di kilometer 43, di Baruang-Baruang Belantai, Kabupaten Pesisir Selatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Barat, Dody Ruswandi mengatakan, putusnya jalan di kawasan Pesisir Selatan itu karena badan jalan terban digerus arus sungai sepanjang 30 meter. “Jalan alternatif tidak ada, sehingga kini ratusan kendaraan antre baik menuju Painan dan Bengkulu maupun sebaliknya,” katanya.

Menurut Dody, pihaknya sepanjang Senin sudah menurunkan petugas dan alat berat untuk menanggulangi. Besok (Selasa, 6/10) diupayakan kendaraan bisa melewati jalan yang masih darurat. Sementara itu, badan jalan lintas tengah Sumatera jalur Padang-Solok yang putus di kawasan Panorama Sitinjau Lauik, Kota Padang, yang menyebabkan dua kendaraan tertimbun, sudah mulai pulih.
Dody mengingatkan, pengendara agar hati-hati jika hari hujan. Kawasan pebukitan rawan longsor, dan kawasan jalan pinggir sunggai rawan ambles/terban. “Berhentilah melewati daerah rawan jika hujan lebat, setelah mereda silakan lanjutkan perjalanan,” katanya.
* * *
Lagi, Malam Ini Pariaman Diguncang Gempa 5,1 SR

Rakyat Merdeka, 05 Oktober 2009,

Jakarta, RMOL. Malam ini (Senin, 5/10), sekitar pukul 19.51 WIB terjadi gempa susulan di Pariaman, Sumatera Barat.

Gempa terjadi dengan lokasi 0,5 Lintang Selatan (LS) /99,63 Bujur Timur (BT). Pusat gempa terjadi di 62 KM barat daya Pariaman.

Kekuatan gempa susulan ini mencapai 5,1 skala richter dengan kedalaman 58 KM. [yan]
* * *
Layanan Perbankan di Padang Berangsur Pulih

Senin, 05 Oktober 2009

TEMPO Interaktif, Padang – Aktivitas perbankan di Padang pascagempa berangsur pulih. Masyarakat tampak mulai memadati kantor maupun gerai anjungan tunai mandiri. “Tapi belum semua layanan bisa dilayani,” ujar Apep Mochammad, Koordinator Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Padang, Senin (5/10).

Apep mengatakan aktivitas layanan sudah dioperasikan oleh seluruh perbankan di wilayah Padang. Jenis layanan yang paling banyak dimanfaatkan para nasabah umumnya adalah penarikan tunai melalui 288 mesin anjungan tunai mandiri yang tersebar di seluruh Padang.

Sebagai badan otoritas monoter nasional, kata Apep, BI telah menjalankan sejumlah unit kerjanya guna mengatur lalu lintas keuangan antarbank. “Cuma Bank Internasional Indonesia yang belum bisa difasilitasi layanan real time gross settlement (sistem transaksi jumbo antar bank) dan sistim kliring nasional,” ujarnya.

Lumpuhnya layanan BII terjadi karena kantor cabang mereka yang berada di Jalan Sudirman rusak berat. Gedung dengan tiga lantai itu roboh dan menghancurkan sejumlah peralatan kerja. “Para karyawan juga masih dalam keadaan berduka karena pimpinan cabang mereka ikut menjadi korban,” ujarnya.

Untuk menanggulangi dampak gempa, kata Apep, BI telah menyiapkan stok uang kartal yang cukup bagi warga Padang. Penarikan tunai yang dalam jumlah besar terjadi di Nagari beberapa waktu lalu untuk keperluan pembayaran gaji pegawai pemerintah daerah Padang.

Berdasarkan pantauan Tempo, layanan perbankan di sejumlah tempat memang belum sepenuhnya pulih. Gempa berkekuatan 7.6 skala Richter yang mengguncang wilayah Padang dan Pariaman lima hari lalu merusak bangunan sejumlah kantor perbankan seperti yang tampak di kantor Cabang Utama BCA, Sawahan.

Akibat kerusakan tersebut, manajemen BCA terpaksa mengalihkan layanan mereka ke kantor cabang yang berada di Jalan Pemuda. Di sana mereka telah mendirikan sebuah tenda besar seluas 24 meter. “Itu juga untuk mengantisipasi dampak gempa susulan,” ujar Lefiater Sitohang, Kepala Cabang BCA Padang.

Dampak gempa relatif tidak berpengaruh terhadap Bank Mega di Jalan Sudirman. Kantor dengan tiga lantai itu hanya mengalami retak ringan di sejumlah tempat. “Dua dari tiga gerai ATM kami belum berfungsi. Layanan ATM hanya bisa dimanfaatkan di kantor,” ujar Yose Rizal, Kepala Bagian Umum Bank Mega Cabang Padang.

* * *

Detik News, 05/10/2009
Warga Keturunan Keluhkan Diskriminasi Bantuan

Padang – Pengiriman bantuan terhadap korban gempa di Sumatera Barat dirasakan tidak merata. Warga keturunan Tionghoa mengeluhkan pemerintah bersikap diskriminatif dalam mengirimkan bantuan di Kampung China, Padang, Sumatera Barat.

“Benar ada diskriminasi. Kami tidak pernah dibantu oleh pemerintah,” kata Koordinator Penanggulangan Gempa Masyarakat Tionghoa, Andreas di Kampung China, Padang, Sumatera Barat, Senin (5/10/2009).

Menurut Andreas, warga keturunan Tionghoa mencari dan mengevakuasi mayat sendiri. Pemerintah meski sudah datang ke lokasi bencana, tidak memberikan bantuan apapun.

“Kami lakukan sendiri. Mereka datang kemarin tapi cuma lihat saja tidak memberikan apapun. Dari etnis kita yang tewas 48 orang. Lainnya saya nggak tahu,” jelasnya.

Andreas mengatakan, pihaknya pun mengirimkan bantuan kepada korban gempa tidak hanya sesama etnis Tionghoa tapi juga korban lainnya. Bantuan itu didapat keluarga dan jaringan.

“Lalu kita distribusikan kembali ke daerah bencana seperti Pariaman dan kecamatan sekitar sini,” imbuhnya.

Kendalanya, lanjut Andreas, bantuan masih dirasa kurang karena banyak korban gempa selain yang di Kampung China mengambil makanan di dapur umum mereka.

“Butuh bantuan yang lebih banyak. Kita kan juga membantu orang yang bukan etnis kita. Kayak mendirikan dapur umum itu banyak yang mengambil di sini,” katanya.

* * *

Jawa Pos 05 Oktober 2009

Distribusi Makanan Lambat, Korban Gempa Mulai Kelaparan

PADANG – Para korban gempa berkekuatan 7,6 skala Richter mulai kelaparan. Mere­ka yang kekurangan makanan tak hanya yang berada di daerah terpencil, tapi juga di Kota Pa­riaman dan Padang.

Bantuan makanan telat datang. Hal itu dikeluhkan para warga Enam Lingkung Naga­ri Pakandangan, Kampung Panas, Padang Pa­riaman. Menurut Yulianti, salah seorang warga, sejak gempa terjadi Rabu lalu (30/9), desanya belum mendapat bantuan makanan sama sekali.

”Ada bantuan pakaian. Tapi, buat apa? Kami nggak butuh pakaian,” keluhnya.

Yulianti bersama ratusan warga lain hampir putus asa. Pasalnya, persediaan makanan mereka sudah menipis. ”Bisa makan sekali sehari sudah untung,” ujarnya.

Hal serupa terjadi di Kota Pariaman. Tak urung, saat bantuan tiba, para warga langsung mengular antre di posko bencana. Bahkan, mereka saling berebut mi yang dibagikan para relawan. ”Sabar, ya bapak-bapak, ibu-ibu,” ujar sa­lah seorang relawan.

Namun, para warga semakin tidak sabar. ”Sabar bagaimana, sudah ke­laparan seperti ini,” celutuk salah seorang ibu. Mendengar celetukan itu, para relawan hanya tersenyum.

Di perkampungan China, Kota Padang, warga keturunan Tionghoa juga kekurangan makanan. Apalagi, mereka yang rumahnya habis “tertelan” gempa.

Sampai hari keempat pascagempa, sejumlah masyarakat mengeluh belum menerima bantuan dari pemerintah setempat. Masyarakat hanya bertahan dengan persediaan logistik yang tersisa. Para korban itu mengaku kecewa atas lambannya pendistribusian makanan.

”Sampai hari ini kami sama sekali belum menerima bantuan. Bagaimana bentuk bantuan dan apa rasanya kami tak tahu. Sementara persediaan di rumah sudah sangat terbatas. Jika kondisi ini terus berlanjut, bisa-bisa kami mati kelaparan,” ujar Zulkani, salah seorang korban gempa di RT 01 RW 07 Pasar Ambacang.

Dia sangat menyayangkan lambannya pendistribusian logistik dari pemerintah. Padahal, logistik tersebut sangat dibutuhkan masya­rakat setempat. ”Kami sangat ingin bantuan logistik itu segera datang. Kami yang tua-tua bisalah menahan lapar. Tapi, bagaimana dengan anak-anak?” ujarnya. Hal senada dikeluhkan Kasman, ketua RT 03 RW 05 Rawang Ketaping. Padahal, di tempat tinggalnya ada sekitar 500 korban gempa.

Lebih parah lagi beberapa dusun terpencil di Padang Pariaman. Di antaranya Dusun Korong Siala­ngan, Padang Alai, Koto V Timur dan Desa Nagari Tandikek, yang ber­batasan dengan Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung.

Persediaan makanan warga, seper­ti beras dan mi, sudah menipis. Bah­kan, ada yang sudah tak me­miliki beras sama sekali. ”Di bawah (Padang Alai, Red) katanya ada posko. Kami ingin minta bantuan makanan,” ujarnya.

Memasuki dusun itu, yang terlihat hanya puing-puing rumah berserak­an. Tatapan para bocah terlihat kosong, seolah tak bermasa depan. Sudah beberapa hari ini mereka hanya makan mi. ”Kami harus berhemat. Yang penting bisa makan bareng-bareng,” jelas Firdaus, salah seorang warga Korong Sialangan.

Bukan hanya kondisi rumah me­reka yang mengenaskan. Pada ma­lam, dusun itu gelap gulita. Selain listrik yang memang belum masuk, minyak tanah yang biasa untuk menghidupkan lampu tidak bisa lagi mereka dapatkan. Kalaupun ada sisa sedikit, mereka lebih memilih menggunakan untuk memasak.

Kemarin warga mulai berbenah. Mereka mengais-ngais barang yang diperkirakan masih bisa dipakai. Peralatan rumah tangga yang masih bisa diperbaiki mereka selamatkan. Kursi, meja, lemari, dan perabotan lain mereka kumpulkan. Mereka juga mengais sisa makanan di reruntuhan rumah mereka. ”Setiap hari kami mencari sisa makanan seperti ini,” ujar Tahir, warga lainnya.

Karena mulai kelaparan, warga mu­lai ada yang turun ke bawah per­bukitan. Mereka mendatangi posko bantuan yang ada di Padang Alai. ”Hingga hari ini, belum ada bantuan yang datang,” ujar Samiun, juga warga Korong Sialangan.

Sejatinya, warga memaklumi bila belum ada bantuan yang datang lantaran sulitnya akses menuju ke du­sun mereka. Tapi, mereka berharap agar usaha mencari bantuan makanan ke posko bisa berhasil. ”Dari dulu kami memang terisolasi, apala­gi setelah ada gempa ini,” ucapnya.

Nagari Tandikek memiliki beberapa korong (setingkat dusun), an­tara lain Jumanak, Gunuang Tigo, dan Lubuaklaweh. Kira-kira 90 persen rumah penduduk dan fasilitas umum di tiga dusun itu rata dengan tanah. Ratusan orang diperkirakan tertimbun reruntuhan bukit yang mengitari nagari tersebut.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Heryanto Rustam tidak menampik adanya daerah yang belum tersentuh bantuan. Karena itu, dia berjanji mempercepat pendis­tribusian bantuan. ”Memang kami akui, mungkin masih ada daerah yang belum tersentuh bantuan. Bantuan yang masuk dibagi rata. Jadi, dapatnya memang sedikit-sedikit seperti itu,” jelasnya.

Dirjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI mendeteksi 10 titik yang dikategorikan kawasan rawan penyakit menular. Penyakit yang dianggap rawan tersebut, antara lain, malaria dan kolera. Untuk itu, pihaknya melakukan penyemprotan. Lokasi awal penyemprotan adalah Adira, Ambacang, dan kawasan Pondok. Tiga kawasan itu dianggap rawan terhadap penyakit menular tersebut.

Hingga kemarin, jumlah korban tewas terus meningkat. Namun, pendataan yang dilakukan kerap berbeda. Pada Sabtu (3/10) pukul 21.00, data korban meninggal yang dirilis Satkorlak Pemprov Sumbar mencapai 613 orang. Na­mun, hingga pukul 16.00 kemarin, jum­lahnya turun menjadi 606 orang. “Ada kesalahan verifikasi,” ujar salah seorang petugas pendataan yang enggan namanya dikorankan.

Di sisi lain, para korban gempa masih trauma. Ratna, 33, warga yang rumahnya roboh di Jalan Kapal Karam, memilih tidur di luar bersama dua anaknya. “Anak-anak sampai nggak berani tidur di rumah,” ungkapnya. Seluruh warga Desa Banuaran, Padang, juga memilih tidur di luar rumah.

Mereka mengkhawatirkan datangnya gempa susulan. “Kami akan tidur di luar sambil memastikan tak ada gempa susulan,” ucap Prakoso, salah seorang warga.

Sementara itu, kemarin warga Rao Kabupaten Pasaman dikejutkan guncangan gempa Minggu (4/10) dua kali. Gempa terjadi pukul 03.00 WIB dan pukul 13.45.04 WIB. Gempa dengan kekuatan 4,2 SR itu berlangsung selama beberapa detik disusul getaran kecil.

Gempa tektonik juga mengguncang wilayah Kabupaten Mano­kwari. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa dengan kekuatan 6,1 Skala Richter (SR) terjadi Ming­gu (4/10) siang pukul 12.36 Wit. (kit/jpnn/iro)
* * *
Militer Asing Berdatangan ke Sumbar

Media Indonesia, 05 Oktober 2009

PADANG-MI:
Puluhan personel militer asing berdatangan ke Sumatra Barat (Sumbar) untuk membantu upaya pencarian korban gempa 7,6 skala Richter di provinsi tersebut.

Berdasarkan pantauan di Satuan Koordinasi Pelaksana (Sarkorlak) Penanggulangan Bencana Sumbar di Padang, Minggu (4/10), sejumlah pimpinan dari militer asing berseragam loreng nampak berkoordinasi dan melaporkan kehadirannya di posko
tersebut. Personel asing itu, antara lain dari Australia, Jepang, Rusia, Korsel, Malaysia.

Truk-truk bercat loreng milik militer asing juga mulai nampak di Padang seperti milik Malaysia.

Selain personel militer, ratusan relawan dari puluhan lembaga sosial dan tim pencari serta penolong (SAR) asing juga telah berdatangan ke Sumbar sejak sehari setelah bencana terjadi Rabu (30/9).

SAR asing itu, seperti dari Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, Australia, Swiss, Jerman, Kanada, Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi, Uni Eropa dan lembaga-lembaga di bawah PBB.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) menawarkan bantuan personel militer dan berbagai peralatan dibawa dengan kapal induk untuk membantu upaya evakuasi para korban gempa.

Tawaran bantuan itu disampaikan pemerintah AS melalui Konsul Jenderal AS untuk Sumatera, kata Ketua Harian Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar Marlis Rahman.

Kapal induk dengan ratusan personel militer serta didampingi kapal korvet AS itu kini tengah berlayar tidak jauh dari perairan Sumatera, tambahnya.

Ia mengatakan, menurut Konsul Jendral AS itu jika tawaran ini dapat diterima pihak Indonesia, maka dalam beberapa hari kapal induk dengan personelnya telah dapat mendekati perairan laut Sumbar. (Ant/OL-7)

* * *
Ya Ampun, Bantuan Korban Gempa Sumbar Dijarah

Rakyat Merdeka, 04 Oktober 2009,

Jakarta, RMOL. Banyak bantuan korban gempa Sumatera Barat berupa makanan yang dibawa truk lewat jalur darat dijarah oleh orang tak dikenal.

“Kita sudah menerima laporan penjarahan yang dilakukan oknum masyarakat dan tindakan itu sangat disesalkan,” kata Kepala Sekretariat Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edwar di Padang, Minggu (4/10).

Dia mengakui bantuan itu memang tidak dikawal oleh aparat. Menurut dia, banyak oknum warga menghentikan truk yang membawa bantuan di tengah jalan. Lalu mereka memaksa barang diturunkan. Supir sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia mengharapkan, masyarakat dapat membantu upaya pendistribusian bantuan bagi para korban gempa dan aksi penjarahan diharapkan tidak lagi terjadi. Sementara itu dari Kabupaten Padang Pariaman, terjadi penjarahan di posko penampungan bahan bantuan. Ironisnya, barang-barang yang dijarah dibawa oleh warga menggunakan kendaraan roda empat. [dry]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: