Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Aneka Berita Gempa Sumatra Barat (3)

Aneka Berita Gempa Sumatra Barat (3)

October 2009
S M T W T F S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip:

Kumpulan berita ini juga disajikan di website http://umarsaid.free.fr/

Jawa Pos, , 04 Oktober 2009
Tiga Ribu Warga di Perkampungan Tionghoa Tertimbun Reruntuhan

Berdasar data di Posko Utama Sumatera Barat, korban tewas hingga tadi malam (3/10) berjumlah 611 orang. Selain itu, 347 orang dilaporkan hilang. Korban luka berat berjumlah 402 orang dan luka ringan 2.093 orang.

”Saya kira data resmi di sini benar. Di posko lain, jumlah korban yang meninggal mungkin dobel,” ujar Wapres Jusuf Kalla di Padang kemarin (3/10).

Rinciannya, antara lain, korban meninggal di Kota Padang 235 orang dan Pariaman 49 orang.

Kemudian Bukittinggi empat orang, Kabupaten Padang Pariaman 211 orang, Kabupaten Agam 24 orang, Kabupaten Pasaman Barat tiga orang, dan Kabupaten Pesisir Selatan tujuh orang. Selain itu 30.422 orang mengungsi.

Sedangkan rumah yang hancur dan rusak berat berjumlah 43.137 unit, 6.895 rusak sedang, dan 33.195 rusak ringan. Berdasarkan kalkulasi sementara, kerugian akibat gempa di 19 daerah di Sumatera Barat mencapai Rp 620 miliar.

Menurut Kepala Krisis Bencana Depkes Rustam S. Pakaya, ribuan orang diperkirakan masih tertimbun di Kota Padang. Terutama, di wilayah perkampungan Tionghoa. Lebih dari 80 persen perkampungan itu hancur.

Dia memperkirakan sekitar 3 ribu warga Tionghoa di perkampungan tersebut meninggal akibat tertimbun reruntuhan bangunan. Saat tim SAR membongkar satu rumah di sana kemarin, ditemukan 35 orang yang meninggal tertimbun reruntuhan.

Rustam menjelaskan, Depkes telah mengerahkan lebih dari 3 ribu petugas kesehatan hingga kemarin. Itu termasuk 700 dokter spesialis. ”Untuk masalah kesehatan, kami jamin tidak ada persoalan. Kami sudah keliling seluruh daerah dan semua teratasi,” jelasnya.

Depkes juga menambah 270 bed untuk perawatan korban. Selain itu, dua ton obat-obatan juga sudah didistribusikan. Bantuan asing juga terus mengalir. Misalnya, dari AS, Republik Ceko, Slovakia, Jepang, dan Singapura. Beberapa negara lain juga berencana mengirim bantuan tenaga medis.

Sebelumnya, badan kemanusiaan PBB menyebut korban tewas mencapai 1.100 orang. Selain itu, lebih dari 20 ribu rumah dan bangunan hancur. Sebanyak 2.400 orang warga dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka yang diderita.

Jumlah korban terus bertambah. Selain kerusakan akibat gempa cukup parah, evakuasi terhadap korban masih terhambat di sejumlah daerah karena ketiadaan peralatan berat. Penggunaan alat berat di wilayah tertentu justru mengancam keselamatan para korban, terutama yang diperkirakan masih hidup di bawah reruntuhan bangunan.

Laporan yang masuk ke PBB dan Palang Merah Internasional menyebut bahwa sekitar 4 ribu orang diperkirakan masih terjebak dan terkurung di bawah reruntuhan bangunan. ”Belum diketahui berapa yang bisa bertahan dan diselamatkan,” kata Koordinator Kemanusiaan PBB di Indonesia El-Mostafa Benlamlih.

Bob McKerrow, kepala delegasi Federasi Palang Merah Internasional dan Masyarakat Bulan Sabit Merah, senada. Menurut dia, angka 4 ribu merupakan estimasi setelah timnya mengunjungi Kota Padang dan wilayah sekitarnya. ”Kami perkirakan sebesar itu. Orang tidak suka angka itu karena tidak ingin keluarga mereka bertambah sedih,” ujarnya. (kit/AFP/dwi)
* * *
Update Data: Korban Tewas Gempa Sumbar Capai 588 Jiwa
Media Indonesia, 04 Oktober 2009

PADANG-MI: Korban tewas akibat gempa di Sumatera Barat (Sumbar) hingga pukul 20.00 WIB, Minggu (4/10), terdata mencapai 588 jiwa.

Korban terbanyak berada di Kabupaten Padang Pariaman dengan jumlah 276 jiwa dan selanjutnya menyusul di Kota Padang 231 jiwa.

Kepala Sekretariat Satkorlak penanganan bencana gempa Sumbar Ade Edward menyebutkan, selain di dua daerah terparah itu, korban jiwa meninggal akibat gempa 7,6 SR juga di temukan di Kota Pariaman dengan jumlah 32, Kabupaten Agam 32, Kabupaten Pesisir Selatan 10, dan Kabupaten Pasaman Barat tiga serta Solok empat.

“Korban meninggal terdata mencapai 588 jiwa,” kata Ade, Minggu (4/7).

Sedangkan jumlah korban yang dilaporkan hilang sampai kini mencapai 343 orang. Korban luka berat yang berhasil di evakuasi berjumlah 483 orang, dan korban luka ringan sebanyak 2.093 orang. Jumlah korban yang dilaporkan mengungsi sebanyak 736 orang.
Sementara rumah penduduk yang mengalami rusak berat mencapai 81.863 unit. Rusak sedang sebanyak 34.906 unit dan rusak ringan sebanyak 69.189 unit.

Selain itu, data terakhir kerusakan sarana prasarana pendidikan tercatat sebanyak 172 rusak berat, 119 rusak sedang, 72 rusak ringan. Sebanyak empat jembatan rusak berat dengan rincian dua di Solok dan dua Agam.

“Total kerugian terakhir akibat bencana mencapai Rp648.611.100.000,” ujarnya.(RK/OL-7)
* * *
Lembah Gunung Tigo Dijadikan Kuburan Massal

Minggu, 4 Oktober 2009

PADANG, KOMPAS.Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berencana menjadikan tiga korong atau dusun di Lembah Gunung Tigo, Kanagarian Tandikat, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman sebagai kuburan massal. Sedikitnya 300 orang terkubur oleh tanah longsor di lembah Gunung Tigo dan sulit dievakuasi.

Menurut Kepala Sekretariat Satkorlak Penanggulangan Bencana Provinsi Sumatera Barat Ade Edward, ada pemikiran menjadikan tiga korong, Lubuk Laweh, Pulau Air dan Cumanak yang terletak di Lembah Gunung Tigo sebagai kuburan massal. Edward menuturkan niatan menjadikan Lembah Gunung Tigo menjadi kuburan massal mengingat, biaya evakuasi korban gempa yang terkubur di sana, sangat mahal.
“Dari pada biaya yang mahal tersebut digunakan untuk mengevakuasi mayat, lebih baik diberikan kepada mereka yang selamat. Toh kalau dievakuasi, mereka tak akan hidup kembali,” ujar Edward di Padang, Minggu (4/10). Dia mengatakan, usulan menjadikan lokasi bencana sebagai kuburan massal juga termasuk untuk daerah lain yang sulit proses evakuasinya, seperti di Kanagarian Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Padang Pariaman.

Edward melanjutkan, berdasarkan aturan tata ruang Pemprov Sumbar, lokasi daerah bencana akan menjadi areal tertutup dan tak boleh dihuni warga kembali. Kami tak ingin ada anak cucu kami yang kembali menjadi korban, jadi daerah lokasi bencana akan ditutup. “Karena akan menjadi daerah tertutup inilah, ada usulan menjadikannya sebagai kuburan massal bagi korban yang terkubur di sana,” katanya.
Namun Edward mengatakan, niatan Pemprov Sumbar menjadikan Lembah Gunung Tigo sebagai kuburan massal tetap akan mempertimbangkan usulan masyarakat dan ulama. ” Kami hanya memfasilitasi, semua terserah masyarakat. Kalau masyarakat ingin mayat yang terkubur dievakuasi, ya kami akan evakuasi. Kami juga akan mendengarkan sarana ulama,” ujarnya.
Hingga hari keempat setelah gempa, data di Satkorlak PB Sumbar mencatat jumlah korban meninggal mencapai 588 orang, dan 343 dinyatakan hilang. Korban tewas tercatat paling banyak di Kabupaten Padang Pariaman, yakni 276 orang dan Kota Padang 231 orang. Jumlah korban meninggal tercatat paling banya k di Padang Pariaman, yakni 285 orang. Jumlah korban hilang di Padang Pariaman ini termasuk mereka yang masih tertimbun tanah di Lembah Gunung Tigo.

Memasuki hari keempat, perbaikan infrastruktur di Kota Padang juga terus dilakukan. Listrik yang mengaliri Kota Padang, berdasarkan keterangan petugas PLN, kondisinya sudah diperbaiki hingga 60 persen. “Kalau pun ada yang masih padam, berarti di daerah tersebut mengalami kerusakan trafo atau trafonya jatuh akibat gempa,” ujar Supervisor Pemeliharaan PLN Cabang Bungo, Jambi yang ikut memperbaiki jaringan listrik di Padang.

Abdullah mengatakan, untuk memperbaiki jaringan listrik di Sumbar, PLN dari luar Sumbar, yakni Sumut, Riau dan Jambi ikut dilibatkan. Kami memperbaiki saluran udara tegangan menengah, gardu induk hingga saluran kabel tegangan rendah yang mengalirkan listrik ke pelanggan. “Saat ini kondisi listrik di Padang sudah pulih 60 persen,” katanya.
Sementara itu, kondisi infrastruktur lainnya diakui Edward masih tetap belum pulih sepenuhnya seperti jalan. Masih ada jalan yang terputus, yakni di ruas Muko-muko hingga ke Kelok 44. Selain itu, semua ruas yang sempat terputus kini sudah normal kembali. “Akses telekomunikasi juga sudah berjalan normal, karena semua operator seluler sudah beroperasi kembali. SPBU untuk melayani kebutuhan BBM masyarakat juga sudah beroperasi 90 persen,” ujarnya

* * *
Duh, Tenda 4X6 Meter Itu Diisi 50 Orang

Minggu, 4 Oktober 2009
KERINCI, KOMPAS. Korban gempa di Desa Lolo Gedang dan PS Kerman, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Jambi kekurangan tenda dan selimut, sehingga satu tenda terpaksa dihuni tujuh kepala keluarga (KK) atau 50 jiwa.

Untuk selimut, korban gempa tersebut masih menggunakan kain biasa, karena selimut mereka sudah tidak layak pakai akibat tertimbun reruntuhan bangunan rumah, kata Jarwati (40), seorang korban gempa, Minggu (4/10).

Dia mengatakan hari pertama gempa, enam KK masih tidur di tenda plastik di depan rumahnya yang rusak berat, pada siang harinya tenda mereka bocor dan sobek ditiup angin kencang disertai hujan lebat.

Mereka langsung bergabung dan tenda Ny Jarwati yang masih lumayan bagus. Tenda berukuran 6×4 meter itu dihuni sekitar 50 jiwa, yang sebagian besar adalah anak-anak balita.

Selama berada dalam tenda sempit itu, setiap malam anak-anak tidak luput dari hembusan angin dingin, sehingga sekarang lima dari 24 anak balita dalam tenda itu terserang flu, batuk dan panas tinggi.

Anak-anak baru saja dapat bantuan obat-obatan dari posko Desa Lolo Gedang-Ps Kerman yang berjarak sekitar 50 meter. “Kami sangat membutuhkan bantuan tenda dan selimut karena rumah tidak bisa lagi dihuni, sudah rusak berat,” katanya.

Tenda berukuran 4×6 meter itu ditutupi tiga lembar terpal yang merupakan pinjaman dari Dinas Sosial kabupaten setempat, bukan untuk dimiliki tapi sampai batas waktu yang ditentukan dikembalikan lagi.

Dia menjelaskan tujuh KK di tenda itu baru saja mendapatkan bantuan dari masyarakat peduli korban gempa berupa mie instan delapan bungkus, beras lima kilogram dan dua kaleng sarden kecil.

“Bantuan itu cukup untuk menyambung hidup satu hari, berikutnya siapa tahu masih ada dermawan yang bermurah hati untuk membantu,” katanya.

Sekretaris posko gempa bumi Desa Lolo Gedang-Ps Kerman mengatakan korban gempa di dua desa itu sekitar 960 jiwa, dan dari jumlah itu yang mendapatkan bantuan tenda dan selimut baru sekitar 20 persen, sisanya masih menggunakan tenda plastik tua dan selimut kain usang.
* * *
6 Triliun Untuk Rehabilitasi Pasca Gempa
Minggu, 4 Oktober 2009

JAKARTA, KOMPAS.com – Menko Kesra Aburizal Bakrie mengungkapkan, pemerintah mengalokasikan dana hingga Rp 6 triliun untuk proses rehabilitasi berbagai prasarana fisik dan rumah warga yang hancur akibat gempa berkekuatan 7,6 skala Richter di Sumbar.

Kepada pers di sela-sela acara Munas VIII Partai Golkar di Pekanbaru, Riau, Minggu (4/10) malam, Aburizal menjelaskan, anggaran Rp 6 triliun yang disediakan pemerintah itu nantinya akan diperuntukkan bagi perbaikan rumah-rumah warga yang hancur sebesar Rp 3-4 triliun.

Selanjutnya untuk perbaikan berbagai sarana dan prasarana umum seperti rumah ibadah, sekolah-sekolah dan bangunan pemerintah dialokasikan senilai Rp 1 triliun dan dana sisanya untuk perbaikan jalan-jalan yang juga hancur.

“Untuk verifikasi rumah-rumah penduduk yang rusak akan dilakukan oleh Kementerian PU,” ujar Aburizal Bakrie yang akrab disapa Ical itu.

Ical yang juga kandidat Ketua Umum Partai Golkar itu menambahkan, pemerintah pusat akan mendrop kebutuhan rehabilitasi bangunan warga yang rusak itu dalam bentuk block grant atau model yang sama dengan penanganan gempa Yogyakarta.

Pemerintah berharap agar pemda turut membantu melakukan inventarisasi bangunan warga yang rusak itu. Pucuk pimpinan dari upaya rehabilitasi pascagempa di Sumbar itu adalah gubernur setempat.

Kondisi ini agak berbeda dengan penanganan pascabencana tsunami di Aceh, dimana pemerintah pusat mengambil alih komando rehabilitasi karena pemda setempat tidak bisa berfungsi.

Sementara itu mengenai proses evakuasi korban bencana gempa di Padang, ia mengatakan, kesulitan utama tim evakuasi adalah mencari jenazah-jenazah yang ada dibawah reruntuhan bangunan.

“Tapi sekarang ini sudah banyak alat-alat berat dan dari sejumlah negara sahabat juga telah menawarkan tenaga-tenaga medisnya disamping obat-obatan,” ujarnya.

Ia berharap proses evakuasi para korban bencana itu segera selesai dalam waktu yang singkat
* * *
Ekonomi Padang Lumpuh Total

Rakyat Merdeka 04/10/09,

Jakarta, RMexpose. Pasca gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter, kondisi kehidupan di Padang, Sumbar, lumpuh total. Bukan hanya roda perekono­mian yang tidak berputar, secara sosial masyarakat panik lantaran tak ada yang bisa dimakan.

Direktur Eksekutif Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin meng­­atakan, saat ini pasar tutup lan­taran pedagang tidak ber­­ak­­tivitas. Ironisnya, semua logistik yang bisa menopang kehidupan mas­ya­rakat tidak terlihat.

“Ini akan berbahaya, kalau ti­dak ada restoran, tidak ada wa­rung, tidak ada bahan kebutuhan pokok, tidak ada jual beli, maka dalam sehari dua hari ini akan chaos. Ini hal paling penting di­atasi se­lain tanggap darurat ben­cana medis,” kata Ahyudin yang dihubungi via telepon.

Dia menambahkan, para rela­wan yang turun langsung dan masya­rakat masih kebingungan mencari logistik untuk sekadar ma­kan. Karena itu, harus ada upa­ya yang massif untuk memas­­tikan logistik bisa tersedia.

“Masyarakat akan kelaparan. Saat ini memang mereka masih punya stok. Tetapi akan mem­buat kepanikan jika berlangsung be­berapa hari lagi. Kami sedang me­ngupayakan agar distribusi logistik sembako bisa masuk dari daerah lain. Khususnya di titik-titik pengungsian,” terang Ahyudin.

Ahyudin menceritakan, ACT bergabung dengan jejaring Mitra Peduli Indonesia (MPI), Kabisat Indonesia dan Oxfam mem­­ba­ngun posko-posko peng­ung­­­sian di sejumlah titik di daerah Pa­riaman. Daerah ini merupakan lokasi bencana terparah. DIN

* * *
Penjahat Meneror Korban Gempa

Minggu, 04 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Padang – Tindak kejahatan meningkat sejak gempa hebat mengguncang Kota Padang dan Pariaman pada Rabu lalu. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sumatera Barat Ajun Komisaris Besar Kawedar mengatakan penjarahan terjadi di pusat grosir Sentral Pasar Raya, Padang, pada Jumat lalu dan di sebuah biro perjalanan di depan Matahari Department Store, Kamis. Semua peralatan biro perjalanan itu dijarah.

Menurut Dasril, sopir angkutan kota yang mangkal di depan Sentral Pasar Raya, seorang pemuda ketahuan mengambil belasan telepon seluler dari gerai Nokia. “Namun, aksinya diketahui sejumlah warga dan langsung dihajar beramai-ramai. HP-nya dikembalikan,” kata Dasril.

Pencurian juga merebak di Pariaman. Yasman, 46 tahun, warga Kudu Gantiang, Pariaman, mengatakan pencuri biasanya beraksi pada malam hari. “Sejumlah rumah di Pariaman sering kemalingan,” ujar Yasman kemarin.

Selain menggasak barang berharga yang masih banyak tertimbun reruntuhan rumah, para pencoleng mencuri kendaraan bermotor yang diparkir di depan rumah.

Polda Sumatera Barat kini meningkatkan penjagaan dengan menempatkan beberapa personel di setiap tempat evakuasi, pertokoan, dan mal. Kawedar mengatakan polisi telah menangkap lima pencuri dan penjarah di sejumlah tempat di Kota Padang. “Kami memperketat penjagaan dengan memasang police line, karena ada pencuri pura-pura menjadi petugas evakuasi, tapi kemudian mengambil AC,” kata dia kemarin.

Beberapa warga keturunan Tionghoa korban gempa di Kota Padang juga mengaku diperas orang yang mengaku petugas penyelamat. “Mereka minta bayaran kalau mau rumahnya ditolong,” kata Mariana, mahasiswi keturunan Tionghoa asal Padang, di Jakarta kemarin.

Mariana mendapat kabar itu dari kerabatnya yang menjadi korban pemerasan di Padang. Keluarganya yang masih tertimbun puing-puing rumah belum bisa dievakuasi karena minimnya bantuan. “Saya belum bisa kontak keluarga di Padang,” ujar mahasiswi universitas swasta di Bandung ini.

Menurut dia, pemerasan terhadap warga Tionghoa kerap terjadi, termasuk ketika gempa Nias. “Teman saya (warga keturunan Tionghoa) juga diminta bayaran kalau rumahnya mau dibongkar,” ujarnya.

Mariana mengaku tak bisa berbuat apa-apa. “Bingung, mau minta tolong siapa lagi?” kata dia, yang mengaku tak tahu satuan asal petugas penyelamatan itu.

Jin, warga keturunan Tionghoa di Padang, mengatakan, untuk membongkar puing-puing rumahnya, orang yang mengaku petugas penyelamat dan mengoperasikan alat berat itu meminta bayaran Rp 300-500 ribu. “Kalau tidak mau, tidak diladeni. Kalau mau bayar, baru digali,” ujar Jin melalui sambungan telepon kemarin. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar warga kawasan Pondok, Padang, ini.

* * *

Jawa Pos, 03 Oktober 2009 ]
Alat Berat Kurang, Proses Evakuasi Terhambat

Gempa di Sumbar, 3 Ribu Orang Diperkirakan Tertimbun

PADANG PARIAMAN – Evakuasi korban gempa di Sumatera Barat berjalan sa­ngat lambat. Ratusan korban hilang di tiga jo­rong (desa) di Kecamatan Kepatuhan, Ka­­bupaten Padang Pariaman, yang rata de­­ngan tanah hin­g­ga kemarin (2/10) belum ber­­hasil ditemukan.

Proses evakuasi menghadapi kendala karena tidak ada peralatan berat yang dapat digunakan. Petugas penyelamat mencari korban di antara puing bangunan hanya dengan menggunakan tangan.

Tiga desa itu adalah Pulau Air, Pakanan Cumanak, dan Lubuk Lawas. Kondisi tiga desa tersebut rata dan hampir tidak terlihat. Hanya timbunan tanah kuning yang tampak di wilayah paling ujung Kabupaten Padang Pariaman yang berbatasan dengan Kecamatan Sicincin tersebut. Hal itu terjadi hanya beberapa saat setelah gempa bumi berskala 7,6 skala Richter (SR) mengguncang Sumatera Barat Rabu sore lalu (30/9). Sebanyak 245 orang warga dilaporkan hilang.

Dari data yang diperoleh Riau Pos (Jawa Pos Group), 18 kepala keluar­ga (KK) yang meliputi 44 jiwa di Pulau Air belum ditemukan. Di Pakanan Cumanak, 44 KK atau 69 jiwa hilang. Di Lubuk Laweh 57 KK atau 132 jiwa belum ditemukan.

”Semua berlangsung sangat cepat. Begitu sadar, kami sudah ti­dak melihat lagi rumah-rumah kami. Semua tertimbun tanah ku­ning bercampur pasir,” ujar Sijun, seorang warga Pulau Air yang selamat, di tenda pengungsian kemarin siang.

Sijun masih shock atas musibah tersebut. ”Kami tidak pernah menyangka kampung yang sudah kami huni berpuluh-puluh tahun ini hancur,” kenangnya.

Sijun bersama 12 saudaranya berhasil selamat dari msibah itu karena berada di luar rumah. Dia secara refleks segera menghindari reruntuhan tanah di dekat rumahnya. ”Saat itu kami lansgung lari ke semak-semak sambil berpegangan. Tanah yang runtuh akibat longsor seperti mengejar kami. Alhamduli­llah, kami akhirnya selamat,” ceritanya dengan wajah tegang.

Itu tidak terjadi pada tetangga­-nya. Mereka hilang. Rumah-rumah mereka tidak tersisa.

Rusniawati, 45, warga Pulau Air, menuturkan bahwa saat gempa ter­jadi, dia segera memeluk dua anaknya, yakni Indah, 8, dan Tari, 9. Tapi, karena begitu kuatnya hantaman tanah longsor akibat gempa, dia terbawa hingga tidak sadarkan diri.

”Menurut suami dan warga yang menyelamatkan saya, saat itu saya sempat berteriak minta tolong. Suami saya langsung mengeluarkan wajah saya dari timbunan tanah agar bisa bernafas,” katanya.

Tetapi, dua anak perempuannya tidak berhasil diselamatkan. Je­nazah dua siswa sekolah dasar itu ditemukan tidak jauh dari posisi Rusniawati.

Tubuh Rusniawati masih terasa sakit, khususnya di bagian dada. Begitu pula pergelangan kaki dan tumit belum bisa digerakkan. Ber­untung, anaknya yang ketiga, M. Fadri, selamat setelah berteriak da­ri bawah timbunan tanah dan tangannya menggapai ke atas. Seorang anaknya yang lainnya tewas, yakni Jefri. Dia diperkirakan tertimbun tanah di dalam rumahnya.

Tim SAR dan Satuan Brimob Su­matera Selatan mulai menyisir desa yang tertimbun itu sejak Ka­­mis sore (1/10). Tapi, mere­ka tak bi­sa bekerja maksimal ka­rena ti­dak ada peralatan pendukung. Hingga kemarin petang, baru sekitar delapan je­nazah yang ditemukan. Empat di antaranya anak-anak.

Data Korban

Departemen Kesehatan (Depkes) menyebutkan, sampai kemarin korban tewas mencapai 715 orang. Selain itu, 2.400 orang dirawat di rumah sakit karena luka-luka.

Menurut Priyadi Kardono, juru bicara Badan Penanganan bencana Depkes, lebih dari 20 ribu bangun­an dan rumah hancur. Selain itu, sekitar 3 ribu orang diperkirakan masih terjebak atau tertimbun reruntuhan di Padang dan enam wilayah lain di Sumbar.

Data lain kemarin menyebut bah­wa korban tewas gempa di Sum­bar mencapai 777 orang. Selain itu, 2.100 orang luka-luka. Sebagian besar di antaranya kritis dan luka berat. Lembaga kemanusiaan PBB justru merilis data bahwa korban te­was gempa mencapai 1.100 orang.

Pemkab Padang Pariaman mendata, korban tewas yang ditemukan di 13 kecamatan mencapai 211 jiwa. Sedangkan 245 warga lain­nya belum ditemukan atau hilang. Tetapi, mereka diduga tewas kare­na tertimbun puing-puing bangun­an dan longsor akibat gempa.

Selain korban jiwa, tak kurang dari 13.750 rumah rusak parah atau roboh rumbuh. Ratusan sekolah juga rusak berat, sedangkan sejumlah fasilitas pemerintah untuk sementara waktu belum bisa difungsikan.

PLN Rugi Rp 170 M

Hingga kemarin, listrik di Kota Padang belum pulih. Akibatnya, seluruh aktivitas warga terganggu. Warga yang bertahan di rumah maupun di pengungsian terpaksa menggunakan penerangan seada­nya. Hanya satu-dua rumah yang dialiri listrik. Itu pun mereka yang memiliki genset.

Dari data PT PLN Persero wila­yah Sumbar, sekitar 22 trafo di antara 990 di Kota Padang dan 7 trafo di Kota Pariaman rusak. Mulai kemarin (2/10), petugas PLN secara bertahap memperbaiki trafo tersebut. Total kerugian diperkirakan Rp 170 miliar.

”Setelah gempa, kami telah me­nu­runkan tim untuk menyisir kawasan mana yang terparah dan berdampak pada kelistrikan. Saat pe­nyisiran itu terungkap bahwa un­tuk Kota Padang, 22 trafo PLN rusak,” ungkap GM PT PLN Persero Wilayah Sumbar Doddy Budiawan kepada wartawan kemarin.

Untuk pemulihan listrik pasca­gempa, PLN akan melepas ja­ri­ng­an lis­trik yang terganggu un­tuk dialihkan ke jaringan yang ma­sih berfungsi. ”Jika dilakukan se­kaligus, bisa berdampak ke­ba­karan,” tutur Doddy.

Doddy belum dapat memastikan kapan listrik bisa hidup kembali.

Kantor Padang Ekspres Rusak Berat

Gedung tiga lantai yang ditempati harian pagi Padang Ekspres dan harian pagi Posmetro Padang (Jawa Pos Group) di Jl Proklama­si No 38 A-B nyaris roboh diguncang gempa 7,6 SR, Rabu (30/9) pukul 17.15. Saat itu, awak redaksi dua harian terkemuka di Suma­te­ra Barat (Sumbar) tersebut sedang memenuhi tenggat cetak (dead­line) terbitan edisi Kamis (1/10) di lantai tiga.

Sekitar 30 awak redaksi, mulai reporter, redaktur, pracetak, hingga teknisi komputer, berlarian ke ba­wah dengan kepanikan luar bia­sa. Sebagian lainnya bertahan dalam guncangan hebat itu sambil me­meluk beberapa tiang penyangga.

Puluhan komputer berjatuhan dan memercikkan kilatan api. Kon­disi lantai 3 dibanjiri air galon. Seluruh lemari tersungkur. Lorong tangga dipenuhi debu asap reruntuhan dinding. Dada serta kerongkongan sesak oleh debu dan kepala dipenuhi pasir halus.

Semua awak dua redaksi itu berhasil menyelamatkan diri ke luar. Malahan, seorang desain grafis Posmetro Padang, Nanang, hampir nekat terjun dari lantai tiga, jika tidak ditarik Mardefni Zainir, awak redaksi lainnya.

Dua orang itu terjatuh saat berdesakan turun dan nyaris terjebak di dekat reruntuhan dinding kamar mandi yang roboh di dekat tangga lantai satu. Sementara itu, Yossi, Kabag Keuangan Posmetro yang akan menikah pekan ini, meng­alami luka bocor di kepala karena tertimpa reruntuhan.

Menurut Pemimpin Umum Padang Ekspres Marah Suryanto, ak­tivitas jurnalistik dipindahkan ke gedung Padang TV di Jl Proklamasi 52, Padang. ”Kondisi gedung Padang Ekspres sangat tidak memungkinkan digunakan lagi. Aktivitas kerja sementara di ruang tamu Padang TV. Sudah tanggung jawab moral bagi kami memberikan informasi bagi masyarakat. Kami putuskan tetap terbit.” (tim jpnn/dwi/kum)
* * *
Distribusi Bantuan Korban Gempa Semrawut

Sabtu, 03 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Padang – Penanganan penerimaan dan pendistribusian bantuan untuk korban gempa Sumatera Barat masih semrawut. Puluhan kendaraan pengangkut beragam bantuan, sejak tengah malam hingga pagi ini, masih tertahan di Posko Satkorlak Gempa Sumatera Barat, di depan kantor Gubenur Sumatera Barat, Jalan Jenderal Sudirman.

“Sejak malam tadi kami tidak tahu mau dikemanakan titipan bantuan di tiga truk ini,” ujar salah seorang rombongan pembawa bantuan Pemerintah Kota Pekanbaru, Akmal. Ia dan rombongannya membawa sembako, obat-obatan, dan pakaian, tiba sekitar pukul 03.00 WIB tadi.

Namun, saat ditanya ke sejumlah petugas di Posko Satkorlak, tidak satu pun pihak yang memberikan informasi. “Ada yang menyebut nanti saja. Ada yang menyebut tidak tahu dan sebagainya,” tambah Akmal.

Akibat belum jelasnya penanganan bantuan, kata Akmal, pihaknya akan membawa bantuan itu langsung ke kantor Wali Kota Padang. Akmal mengatakan sejumlah pihak lain juga mengaku belum mengetahui ke mana bantuan dibawa. “Pimpinan memutuskan diserahkan langsung ke Wali Kota Padang.”

Sementara itu bantuan dari Jambi, Solok, dan daerah lain, termasuk dari PTPN V Riau, masih menumpuk di Satkorlak Jalan Jenderal Sudirman.

Salah seorang anggota rombongan pembawa bantuan dari PTPN V Riau mengatakan pihaknya akan langsung membongkar sendiri dan menumpuk bantuan di kantor Gubenur.

“Kita bongkar sendiri saja. Sejak subuh tadi, belum ada koordinasi dengan penerima,” ujar petugas pembawa bantuan gempa dari PTPN V Riau, Renta Purba.

“Kami juga masih menunggu mau dikemanakan bantuan ini,” ujar Afriani, dari rombongan pembawa bantuan dari Solok.

Pihak petugas Satkorlak gempa Sumbar sendiri mengatakan tertahannya pembongkaran dan pendistribusian bantuan dari Satkorlak itu hanya menunggu waktu pendistribusian.

Menurut Andi, salah seorang petugas di pencatatan Posko Satkorlak Gempa Sumbar, pihaknya masih menunggu petugas. “Masih menunggu Tim yang membongkar dan mendistribusikan. Biasanya, dibongkar langsung disalurkan kepada posko di daerah-daerah,” kata Andi. “Maklum sudah dua hari. Dan mereka masuk tengah malam.”

Sementara itu, sebatas pantauan Tempo di sejumlah daerah, terlebih di kabupaten Padang Pariaman, korban bencana belum menerima bantuan apa pun. Hingga hari kedua sore kemarin, sejumlah desa malah masih terisolir.

“Belum ada yang memberi. Datang saja belum,” ujar Kepala Desa Cubadak Air Utara, Dajid Mansyur. “Padahal, desa kami yang paling parah. Hampir semua rumah ambruk. Malah entah berapa yang tertimbun di longsor bukit,” ujarnya.
* * *
Bantuan Asing Harus Dilaporkan ke Posko Daerah

Sabtu, 03 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Pariaman – Bantuan bagi korban gempa dari sejumlah lembaga internasional mulai mengalir ke lokasi. Sebagian bantuan itu disalurkan sendiri oleh lembaga itu langsung kepada korban. Namun Wali Kota Pariaman Muklis Rahman meminta setiap bantuan yang diberikan agar dilaporkan.

“Memang ada sebagian yang memilih menyalurkan langsung, tapi sebaiknya kalau sudah disalurkan segera dilaporkan ke posko,” kata Muklis kepada Tempo di posko Balai Kota Pariaman, Sabtu.

Berdasarkan pengamatan Tempo, di sepanjang jalan dari arah Kota Padang menuju Kota Pariaman, hampir di setiap rumah sudah tersedia tenda darurat. Tenda-tenda berwarna biru itu berlogo salah satu lembaga internasional.

Dengan tenda darurat itu, kata dia, warga sudah mendapatkan tempat bernaung. Sebab, sebagian besar rumah mereka rusak dihantam gempa.

Ia mengatakan Kota Pariaman juga sudah mendapatkan bantuan tenda dari Departemen Sosial sebanyak 200 buah. “Hari ini masih menunggu 500 buah tenda lagi dari BNPB,” katanya.

Ia menambahkan, penyaluran bantuan bagi korban dilakukan bertahap. Bantuan dari Satkorlak Provinsi Sumatera Barat diserahkan kepada Satkorlak daerah baru kemudian disalurkan kepada posko bantuan di kecamatan untuk kemudian didistribusikan kepada korban. “Namun bantuan akan segera disalurkan,” katanya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: