Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Ngebut di Ring Road dan Ketidakadaban Politik Kota?

Ngebut di Ring Road dan Ketidakadaban Politik Kota?

September 2009
S M T W T F S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip:

Silang Raya Purworejo, Godean, Yogyakarta, Jakarta, Tokyo, London, New York

Catatan Penonton Pameran Seni Grafis ”Yang Melintas di Ring Road” karya Syahrizal Pahlevi, Bentara Budaya 3-13 September 2009

artikel selengkapnya berikut dokumentasi karya-karya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/09/realisme-syahrizal-pahlevi-yang.html

Saya menikmati sensasi hitam putih dan kelugasan yang memang secara sengaja dihadirkan oleh Pahlevi. Tetapi senyatanya saya lebih tergugah dan terkesan dengan permainan hitam merah pada sebagian kecil karyanya. Menurut saya ini menghadirkan efek yang lebih dramatis, bahkan efek keterasingan, paradoks, hingga kesuraman yang biasanya kita ditemukan pada karya-karya surealis.

Ini berkesuaikan dengan bagaimana saya mencatat politik kuasa dibalik proyek-proyek jalan raya dan trasportasi atau lebih luas lagi jalan raya sebagai bagian proyek kota (jalan-jalan lebih mengabdi kepada kota bahkan memfasilitasi penghisapan oleh kota), hukum rimba raya disana (termasuk balas dendam rakyat terhadap orang kaya), keterasingan, hingga kaburnya arah perkembangan negeri ini. Demikian pula dengan buramnya dan kaburnya jalan yang hendak dituju atau arah untuk pulang.

Mungkin disengaja pula nampaknya Pahlevi tidak memberikan perhatian yang banyak pada mobil-mobil pribadi (bahkan cenderung absen menghadirkan sedan-sedan pribadi). Yang menonjol kemudian adalah truk-truk angkutan barang, bus, sepeda motor hingga pengendara sepeda, pejalan kaki dan pedagang asongan (koran).

Demikian pula saya kehilangan sensasi ’sekencang-kencangnya’ pada segala kendaran bermotor diluar pengendara sepeda dan pejalan kaki tentunya sebagai ciri pelintas Ring Road ini. Juga barangkali ”Realisme Pahlevi” kemudian memang secara tepat hanya membidik para pengguna jalan dan obyek jalan raya itu sendiri. Dengan dominan menghadirkan latar, meminjam Aminudin, ”sesak dan gaduh oleh garis” saja.

Atau ini cermin negeri ini dengan mitos atau seolah berlari sekencang-kencangnya di jalan raya kemakmuran (neo-liberalisme sesungguhnya) yang juga melintasi Tokyo, London dan New York, tapi senyatanya-nyatanya mandeg, macet, involutif. Atau fenomena segelintir orang berlari sekencang-kencangnya, mayoritas rakyat makin terpinggirkan.

Bagi saya kemudian yang menarik adalah daya upaya untuk menemukenali ekspresi para pengguna jalan yang nampak terang benderang seperti ibu pengendara sepeda, pemuda pejalan kaki dan pandangan koran asongan. Dimana saya cenderung membaca jalan dari ekspresi wajah-wajah para penggunanya, bukan moda trasportasinya atau lintasan jalan rayanya.

Bisa jadi keras, dingin, ’no fear’ (seperti pesan yang sering muncul pada stiker-stiker diatas kendaraan dan kaos oblong), perjuangan hidup sehari-hari rakyat kebanyakan. Dan saya kemudian tidak menangkap sepenuhnya sikap was-was dan ekstra hati-hati seperti dialami Pahlevi.

Pada akhirnya meminjam kembali Aminudin pada karya-karya cukil kayu Pahlevi ini disisakan ”ruang kosong : rongga yang mengajak kita pada renungan filosofis”. Itulah saya rasa salah satu hikmah terpenting pengalaman interaksi yang demokratis dan memperkaya antara penonton dan tontonannya (dalam hal ini dialog yang ditawarkan oleh Pahlevi). Selamat.

Selengkapnya
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/09/realisme-syahrizal-pahlevi-yang.html

Referensi :
Booklet ”PRINT PROJECT : YANG MELINTAS DI RING ROAD

– Realisme Pahlevi – Aminudin TH Siregar (Dosen Seni Rupa – ITB)
– Pengantar karya oleh Syahrizal Pahlevi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: