Home » Bulletin SADAR » Edisi: 236 Tahun V – 2009, MEDIA DAN KONSTRUKSI BAHASA OLEH PEMILIK MODAL

Edisi: 236 Tahun V – 2009, MEDIA DAN KONSTRUKSI BAHASA OLEH PEMILIK MODAL

September 2009
S M T W T F S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip:

Oleh Fredy Wansyah *

Koran, sebagai media masa terbesar di negeri ini, telah menjadi referensi suatu fakta dan bahkan dianggap faktual. Di kalangan mahasiswa, koran dianggap sebagai gaya kehidupan. Beberapa mahasiswa (teman saya) membaca koran di kampus telah menjadi kebiasaan. Sebuah persepsi menyatakan hal tersebut sebagai gengsi mahasiswa aktivis. Dinyatakan orang tersebut dengan kata, “Kalau tidak membaca koran tidak mahasiswa sejati namanya.” Terlepas dari implementasi pembacaan wacana yang tertera di dalam koran, mahasiswa telah teracuni dengan pola konsumsi wacana oleh media. Dari beberapa media yang menawarkan harga yang di atas harga Rp.15.000 pun laku di dunia mahasiswa.

Ketika media masa telah merekonstruksi dan menembus dunia kampus, bahkan menjadi style (gaya sebagai aktivis), para pemilik modal dalam dunia bisnis media pun dengan bangga menyatakan keberhasilannya. Konstruksi dari berbagai perspektif telah dilakukan media. Di antaranya adalah bahasa, ekonomi, politik dan gaya kehidupan.

Melihat perspektif bahasa tersebut, konstruksi bahasa oleh media tidak sedikit yang telah merusak tatanan berbahasa. Kepentingan adalah hal utama yang menjadi landasan berbahasa tersebut. Misalnya, pada masa kampanye, secara sadar maupun tidak sadar penggunaan kata-kata jargon para capres telah berhasil merekonstruksi pola-diksi individu. Hal ini merupakan dampak ruang-ruang iklan secara besar-besaran yang dilakukan oleh para capres di media masa.

Bahasa adalah identitas makhluk dengan peradabannya. Artinya, bahasa dipandang sebagai salah satu unsur terpenting dalam peradaban di dunia. Bahasa nasional merupakan identitas kebangsaan. Melalui bahasa yang sesuai konvensi umum secara kesatuan nasional, maka kekuatan bermasyarakat akan semakin utuh. Memandang dalam dunia media masa, bahasa merupakan politik utama sebagai alat penyampaian ide dan yang terpenting adalah sampainya komoditi ke pasar. Seperti halnya penyediaan iklan-iklan, tendensi berbahasanya: “Bagaimana caranya agar komoditi ini laku terjual dengan cepat di pasaran melalui pemahaman pasar yang mudah.” Norma-norma kebahasaan pun seakan terabaikan demi mengikuti pemahaman pasar dengan praktis.

Secara tidak sadar, melalui bahasa oleh media masa tersebut, telah terjadi konstruksi individu. Penggunaan-penggunaan kalimat yang dituangkan dalam media pun lebih tendensius terhadap pemilik modal, hal ini yang disebut dengan istilah marketing-media. Hampir setiap media massa, baik cetak maupun elektronik, kita disuguhkan dengan kata-kata iklan para capres. Intensitas yang berulang-ulang tersebut dapat merekonstruksi bagi individu atau masyarakat yang tanpa skeptis akan menerima iklan tersebut dan dengan mudah akan melekat dalam pikiran. Sesungguhnya media adalah peran terpenting dalam rekonstruksi melalui bahasa terhadap masyarakat.

Sejak zaman Gutenberg (penemu mesin cetak), buku, surat kabar, majalah, radio, televisi, hingga saat ini dengan meluasnya jaringan internet, media-media tersebut selalu dikendalikan oleh pemilik modal. Seperti yang diungkap oleh Benedict Anderson, bahwa kapitalisme percetakan sudah pasti ada. Artinya, penguasaan media atas kepentingan komoditi hasil produksi atau atas kepentingan kekuasaan pada masa-masa kerajaan telah diciptakan demi kelangsungan kekuasaan. Kepentingan-kepentingan tersebut, khusus dalam konteks kekinian yang telah dikuasai oleh pemilik modal tanpa kontrol dari negera, telah terjadi distorsi esensi. Pesan-pesan yang seharusnya merupakan fakta sosial telah mengalami perubahan akibat orientasi dalam marketing-media. Pemilik modal, baik penguasaan media ataupun relasi media terhadap perusahaan merupakan titik pondasi keberlangsungan atas kehidupan media tersebut.

Contoh yang nyata, beberapa kali ditemukan penggunaan bahasa “Miskin itu seksi” dalam media masa. Bahasa merupakan cerminan paradigma. Dari hal inilah dapat dinyatakan bahwa penggunaan kata “Miskin itu seksi” merupakan paradigma pemilik modal. Dan, kata-kata ini sering digunakan oleh kalangan mahasiswa dan kemungkinan besar juga digunakan masyarakat umum. Pada tahap ini, konstruksi melalui bahasa terhadap masyarakat telah dilakukan media masa. Jika mencermati frasa “Miskin itu seksi,” apakah kita harus memperkosa atau menyetubuhi kemiskinan?

Dapat diprediksikan bila ketergantungan kita terhadap media masa tidak diminimalisir, atau secara radikalnya adalah memutuskan hubungan ketergantungan terhadap media masa tidak segera dilakukan, maka pola-pola konsumtif semakin jauh tertanam. Khusunya mahasiswa, yang menjadi style aktivis, secara tidak sadar telah menjadi korban dari kapitalisme media. Sebab, mahasiswa sejati bukan mahasiswa yang mengkonsumsi fakta dari media masa, melainkan mahasiswa sejati adalah mahasiswa yang ikut terjun langsung dengan fakta sosial; kemiskinan ekonomi dan politik.

Manuver-manuver politik praktis dan menuver-menuver pemilik modal sudah seharusnya ditandingi dengan media pula. Sebab, tanpa tandingan media, maka intensitas rekonstruksi melalui bahasa tersebut akan semakin kokoh dan terus berlangsung. Satu hal penyikapan dini terhadap media masa yang telah didominasi pemilik modal adalah skeptik dan kritik.

Dan, berhati-hatilah terhadap bahasa yang dilontarkan pemilik modal!

* Penulis adalah mahasiswa sastra yang aktif di Front Demokratik Unpad Bandung, sekaligus Anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.

** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau http://www.prakarsa-rakyat.org).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: