Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Have A Nice Phony Ramadhan !

Have A Nice Phony Ramadhan !

September 2009
S M T W T F S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip:

T = Dear Mas Leo,

Saya lagi muak nih sama ‘atmosfir’ sekarang yang dengan mudahnya orang bicara/ menulis mohon maaf lahir-bathin (most of them very shallow to me). Kenapa mereka bisa berpikir kalo segala kesalahan mereka terhadap sesama manusia ataupun terhadap mahluk hidup lainnya bisa otomatis terhapuskan simply karena mereka akan melakukan ibadah tertentu ?

J = Biarin aja, urusan orang.

T = Orang ini terpuruk Mas Leo, and the saddest part is, mereka sudah merasa cukup ! I’ve been there and I know how it felt like, dulupun aku pernah merasakan hidup as a ‘hamba’. Menjalankan perintahNya, menjauhi laranganNya. Sampai akhirnya saya menyadari, beberapa perintahNya menyakiti perasaan orang yang berbeda, orang yang memilikiNya yang berbeda, dengan satu set perintah dan larangan yang berbeda pula.

J = Kalau sudah sadar artinya bagus, and then ?

T = I’m also sick of reading comments from your notes di facebook yang mostly isinya kopian dari textbook, ajakan untuk dialog lintas-agama, mencoba untuk membenarkan, etc.

J = Komentar di notes saya isinya “dialog” (dalam tanda kutip).

Ini dialog di dalam diri orang itu sendiri. Kalau orangnya sudah sadar, maka akan terlihat di tulisannya. Kalau orangnya masih terbutakan, itu juga akan terlihat di tulisannya. Mereka melakukan dialog dengan diri mereka sendiri saja, dengan persepsi (cara pandang) mereka sendiri.

Persepsi orang selalu bergerak dalam proses. Dari tidak oke menjadi lebih oke. Dari lebih oke menjadi paling oke. Yg paling oke itu yg tidak perduli lagi orang lain mau berpendapat apapun. Pendapat apapun merupakan pendapat thok. Dan itu adanya di dalam pikiran orang lain, dan bukan di dalam pikiran kita. Pikiran orang, persepsi orang, hidup orang,… semuanya ada di luar diri kita. Dan tidak ada hubungannya dengan kita.

So, apapun yg mau orang lain bilang tentang kita merupakan “milik” (dalam tanda kutip). Milik orang itu sendiri dan bukan milik kita. Kalau miliknya itu isinya pendapat klise, ya biar sajalah. Itu hidupnya sendiri bukan ? Kalau ternyata pendapat klise itu nyaman bagi orangnya, biar sajalah. Kalau orang itu tidak nyaman dengan pendapatnya sendiri, dan akhirnya memaki-maki di notes saya, itupun sebaiknya dibiarkan saja. Yg dia maki-maki adalah “saya” (dalam tanda kutip).

Tetapi apakah saya yg dia maki adalah saya sebagai saya sendiri ? Tentu saja bukan. Yg dia maki adalah saya yg ada di dalam pikiran dia. Persepsi dia sendiri saja. Dan tiap orang bisa mempersepsikan apapun tentang diri saya. Itu termasuk HAM juga, namanya HAM Kebebasan Berpikir.

Orang bebas berpikir apapun tentang saya dan mengekspresikannya melalui ucapan dan tulisan, namanya HAM Kebebasan Berpendapat. Saya sama sekali tidak keberatan karena saya tahu bahwa apapun yg orang pikir tentang saya merupakan persepsi yg ada di dirinya. Jadi, seperti orang itu melakukan “dialog” (dalam tanda kutip) dengan saya.

Pedahal yg dilakukannya cuma dialog antara orang itu dengan dirinya sendiri. Orang itu berdialog dengan kesadaran di dirinya sendiri menggunakan saya sebagai simbol. Seolah-olah saya yg diajak berbicara, pedahal dia cuma berbicara dengan dirinya sendiri saja. Makanya bisa ada komentar yg memuja-muji setinggi langit, bisa ada komentar yg bernada misterius, seperti melecehkan tapi saya tahu sebenarnya mengungkapkan kekaguman juga. Ada yg vulgar memaki seolah-olah saya menginjak ekornya terus dan tidak saya lepaskan dari kemarin.

Pedahal saya tidak merasa berdialog dengan siapapun.

Mereka itu berdialog dengan “saya” yg ada di dalam imajinasi mereka. Dan itu sah saja, valid saja. Sama saja seperti mereka melakukan “dialog” (dalam tanda kutip) dengan Allah.

Kita bisa puja-puji as well as memaki Allah bukan ? Pedahal Allah yg kita puja-puji dan maki-maki itu cuma simbol saja, sesuatu yg kita anggap ada, pedahal cuma merupakan figment dari imajinasi kita saja. Proyeksi dari pikiran kita saja. Kita bisa proyeksikan sesuatu dari pikiran kita dan kita sebut itu “Allah” yg lalu kita ajak berdialog.

Anda juga bisa memproyeksikan sesuatu di dalam pikiran anda ke suatu obyek yg anda sebut “Mas Leo” (dalam tanda kutip). Pedahal itu cuma proyeksi dari kesadaran anda yg bisa anda ajak berdialog dengan penuh kagum ataupun anda caci maki.

Allah seperti itu bagi anda. Saya juga seperti itu bagi anda. Allah dan saya adalah proyeksi dari pikiran anda saja.

T = Is it true Mas Leo, after 2012 there will be a world without religion ? Cause that would be heaven to me…

J = No, there will even be many more religions after 2012.

Bahkan akan ada lebih banyak lagi agama setelah tahun 2012. Sekarang saja agama sudah tidak terhitung banyaknya. Setiap orang sedikit banyak memiliki agama pribadi, apa yg benar diyakini dan dijalaninya. Dan agama pribadi ini tidak perlu di-syiarkan dan di-khotbahkan. Kita semua memilikinya bukan ? Dan kita nabi as well as Allah dari agama pribadi kita. Umatnya juga cuma satu, yaitu diri kita sendiri. Kita menjadi Allah, nabi dan umat dari agama pribadi kita.

Dan dari saat ke saat kita melakukan reformasi di dalam agama pribadi kita. Kalau tadinya kita ikut cuap-cuap seperti radio rusak, maka akhirnya kita akan mulai berpikir sendiri. In the end kita akan mengambil kesimpulan bahwa memang benar segalanya merupakan buatan pikiran kita saja. Buatan pikiran manusia.

Akhirnya kita akan menyadari juga setelah jatuh bangun puluhan tahun. Kita akan menyadari bahwa ternyata Allah yg kita sembah itu cuma figment dari imajinasi di diri manusia-manusia yg hidup sebelum kita. Kita akan tahu dengan pasti karena Allah yg ada di dalam pikiran kita juga cuma figment dari imajinasi kita saja. Ciptaan pikiran kita.

Segala asma Allah itu apa kalau bukan hasil olah pikir manusia ? Segala syariat agama, haram halal, larangan dan kewajiban,… itu semua apa kalau bukan hasil olah pikir manusia juga ? Dan Allah yg selalu namanya dicantumkan ternyata memang cuma simbol dari sesuatu yg kita konsepkan di dalam pikiran kita.

Tetapi ini semuanya proses. Ada yg dalam usia belasan tahun sudah bisa mencapai pengertian seperti itu, dan ada juga yg sudah puluhan tahun mempraktekkan amal ibadah tetapi masih belum bisa melihat essensi dari semuanya itu. Ada yg sampai mati percaya bahwa benar ada Allah, pedahal itu cuma proyeksi dari pikiran kita saja.

Yg mutlak dan abadi itu kesadaran di dalam diri kita dan bukan segala macam ajaran agama dan Allah-nya. Tetapi untuk mencapai pengertian ini tentu saja tidak instant. Dan kalau prosesnya harus dilalui melalui acara caci maki, ya laluilah. Caci makilah orang-orang lain yg berpendapat berbeda karena anda diajarkan untuk membela agama dengan cara mencaci maki orang lain. Cara itu sah saja, namanya HAM juga. HAM untuk mencaci-maki orang lain yg berbeda pendapat. Tetapi sebenarnya, yg dicaci-maki bukanlah orang lain, melainkan bagian dari kesadaran di diri orang itu sendiri.

Ada bagian dari kesadarannya yg tahu bahwa agamanya itu seperti rekayasa belaka. Tetapi orangnya diajar untuk tidak bertanya dan tidak berpikir. Dan ketika ada orang lain yg memperlihatkan bahwa agamanya itu ternyata benar rekayasa, maka orang itu merasa memiliki kesempatan untuk meyakinkan dirinya sekali lagi. Caranya bisa dengan memaki. Tetapi yg dimakinya sebenarnya cuma dirinya sendiri saja. Dirinya sendiri yg meragukan ajaran agamanya.

Dan tahun-tahun akan berlalu sampai sedikit demi sedikit orangnya akan menyadari bahwa apa yg dipraktekkan dan dipercayainya semasa muda ternyata isapan jempol belaka. Amal dan ibadah kepada siapa ? Kepada Allah ? … Ini semua akhirnya akan disadarinya sebagai isapan jempol. Tapi itu nanti.

T = Trus mas, aren’t you tired of being an online messiah ? Karena pola pikir society di sini sangatlah ‘Semit-Javanic’. Orang selalu mencari something to worship or at least somebody to lead. Sehingga in case something goes wrong, mereka bisa murtad/ mencaci pemimpinnya.

J = Am I an online messiah ?

As far as I know everybody is a messiah. You are a messiah too, an almasih. Everybody reading this is a messiah. Kalau belum menyadarinya, maka hal itu tidak akan membatalkan ke-messias-an dirinya. Even a messiah needs time to realize his / her messiahship, ke-almasih-an dirinya.

Almasih is Ratu Adil. Bukan Isa AS yg akan datang pada hari kiamat, melainkan anda sendiri yg menyadari bahwa ternyata Isa AS itu diri anda sendiri. Dan anda cuma bisa menyadarinya di sini dan saat ini saja. Bukan di hari kiamat nanti melainkan di sini dan saat ini. Here and now.

T = Thanx Mas Leo, have a nice phony Ramadhan !

+

Leo @ Komunitas Spiritual Indonesia
.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: