Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Berita-Berita Soal Tommy Soeharto

Berita-Berita Soal Tommy Soeharto

September 2009
S M T W T F S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip:

Berikut di bawah ini disajikan lanjutan atau tambahan dari kumpulan berita tentang Tommy Soeharto ingin menjadi Ketua Umum Golkar dalam bulan Oktober yang akan datang dan juga menjadi Presiden RI tahun 2014. Berita-berita lain sebelumnya mengenai persoalan yang sama dapat disimak dalam website http://umarsaid.free.fr .

Berhubung besarnya dan seriusnya persoalan ini, yang akan menjadi masalah yang sangat ramai dibicarakan atau ditulis oleh banyak kalangan maka website tersebut di atas akan menyajikan sesering mungkin dan sebanyak mungkin berita, tulisan, atau pendapat mengenai persoalan yang penting ini. Berita-berita atau tulisan itu, yang diambil dari berbagai sumber, dikumpulkan dalam “Aneka berita utama terkini”. Harap maklum dan mengikutinya.

1. Umar Said

Suara Pembaruan, 22 Agustus 2009
Agung Laksono: Belum Waktunya Tommy Maju

[JAKARTA] Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono mengingatkan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto bahwa dia tidak memenuhi syarat untuk ikut dalam pencalonan Ketua Umum Partai Golkar periode 2009-2014. Sehingga, belum saatnya putra mendiang mantan Presiden Soeharto itu untuk maju sebagai kandidat ketua umum.

Agung menegaskan, sesuai anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) partai, syarat utama untuk menjadi ketua umum harus minimal lima tahun pernah menjadi pengurus Partai Golkar. Tommy Soeharto tak memenuhi syarat itu.

“Tommy sebaiknya bersabar dulu. Dia masih muda. Masih panjang waktunya berkarier di Partai Golkar. Apalagi, dia anak pendiri Golkar. Peluangnya cukup besar ke depan,” ujar Agung kepada wartawan di Gedung MPR/DPR Jakarta, Jumat (21/8).

Syarat lainnya yang juga menentukan, katanya, calon ketua umum adalah kader yang sehari-hari terlibat dalam kegiatan partai dan mendapat dukungan dari daerah minimal 30 persen. Karena itu, Agung menyarankan agar Tommy sebaiknya aktif dulu di kepengurusan partai.

Kedekatan dengan partai akan lebih memudahkan dirinya maju sebagai pemimpin ke depan. “Terlibat aktif di partai menentukan besar dan kecilnya peluang seorang calon ketua umum. Semakin sering terlibat, peluang itu akan semakin besar,” katanya.

Dikatakan, perubahan AD/ART bisa dilakukan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar pada 4 hingga 7 Oktober mendatang di Pekanbaru, Riau. Munas akan memilih pengurus Partai Golkar periode 2009-2014.

Tapi, perubahan itu tidak bisa hanya untuk memenuhi kepentingan sesaat, apalagi hanya ingin mengakomodasi kebutuhan satu atau dua orang. Agung menegaskan, menjadi pemimpin partai bukan untuk mencari posisi atau untuk kepentingan pribadi.

Selain Tommy, bursa pencalonan Ketua Umum Partai Golkar juga memunculkan nama Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Yuddy Chrisnandi, dan Ferry Mursyidan Baldan. Sedangkan, Munas Partai Golkar akan diikuti 467 DPD tingkat kabupaten dan kota, 33 DPD tingkat provinsi, 10 organisasi sayap, serta DPP.

Dingin

Sementara itu, suhu politik di tubuh Partai Golkar yang kian panas menjelang munas disikapi dingin oleh DPD Partai Golkar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketua DPD Golkar DIY Gandung Pardiman mengatakan, pihaknya belum menentukan pilihan calon ketua umum yang akan didukung. Pasalnya, semua figur yang ingin maju belum mendekati DPD DIY.

“Kami belum menentukan, karena Jakarta sama sekali belum berkomunikasi. Komunikasi ini penting untuk mengetahui progres ke depan, sekaligus menakar kepentingan dan orientasi kepemimpinan para calon itu. Karena, sampai sekarang belum ada yang mempromosikan diri. Kami menunggu saja,” ujarnya.

Ketua DPD I Sulawesi Tenggara (Sultra) Ridwan Bae mengatakan, keinginan Tommy untuk memimpin Partai Golkar harus diapresiasi. Namun, bentuk apresiasi tersebut bergantung pada forum tertinggi partai, yakni munas.

“Sebagai kader Partai Golkar, tentu Tommy mempunyai keinginan untuk membangun partai. Karena itu, keinginan tersebut harus diapresiasi melalui forum tertinggi partai,” ujarnya.

Menurutnya, bentuk apresiasi tersebut tidak harus menjadi ketua umum, melainkan bisa sebagai pengurus lain di tingkat DPP. Karena, ujar Ridwan, untuk menjadi ketua umum, Tommy harus memiliki persyaratan-persyaratan yang diatur dalam AD/ART.

Dikatakan pula, dari sejarah perjalanannya, Partai Golkar tidak bisa dipisahkan dari Keluarga Cendana. “Pak Harto juga pernah membesarkan Partai Golkar, meski ada kelemahan di sana sini. Jadi, ketika berbicara tentang sejarah Golkar, tidak bisa dipisahkan dengan Keluarga Cendana,” ujarnya. [J11/152/M-16]

* * *
Tommy Memang Siapkan Diri Jadi Ketum Golkar

Kompas, 22 Agustus 2009

JAKARTA, KOMPAS.com – Keinginan putra mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto untuk menggantikan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Golkar, ternyata sudah dengan persiapan matang. Salah satu orang dekat Tommy Soeharto, Yusysafri Syafei menyatakan posisi Ketum Golkar adalah target awal untuk mencapai target utama, menjadi calon Presiden di tahun 2014 mendatang. Kini, Tommy Soeharto, diakuinya sedang melakukan operasi senyap, menggalang dukungan di berbagai daerah untuk bersaing sehat bersama para kandidat ketum Golkar lain, termasuk Aburizal Bakrie, atau Ical.

Dalam perbincangan dengan Persda Network, Jumat (21/8) malam Yusyafri Syafei tak membantah saat dikonfirmasi tentang pertemuan Tommy Soeharto dengan kandidat lain, Yuddy Chrisnandy, di salah satu gedung di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/8) sore lalu. Pertemuan itu, kata Yusyafri hanyalah sebatas silaturahmi saja dan belum ada kesepakatan apapun atau berkoalisi.

“Pertemuan dengan Mas Tommy dengan Yuddy memang benar. Tapi belum ada deal apa-apa, karena keduanya sama-sama berniat maju menjadi calon ketua umum Golkar. Pertemuan itu sebatas silaturahmi saja. Dan kalau ditanya apakah Mas Tommy serius, 100 persen Mas Tommy sudah mempersiapkan diri secara serius untuk memimpin Golkar ke depan dan siap bersaing sehat dengan yang lain termasuk dengan Pak Aburizal Bakrie (Ical),” katanya.

Tommy, ujarnya, sudah mempersiapkan tim pemenangan yang memang tidak diungkap kepada publik. Ia memberikan alasan, hal ini karena masing-masing kandidat memiliki cara serta taktik sendiri-sendiri dalam bersaing sehat di Munas Golkar 4-7 Oktober mendatang di Pekanbaru, Riau.

“Masing-masing memiliki taktik peperangan mas. Kalau dikatakan taktik dengan cara melakukan operasi senyap, boleh jugalah. Karena memang tidak terlihat ke publik taktik apa seperti apa. Kalau kita umbar taktik apa yang dilakukan, itu sama saja mengungkapkan kesombongan. Yang jelas, setiap orang dijamin dalam undang-undang termasuk Mas Tommy untuk terjun ke dunia politik. Salah satu saratnya adalah melalui partai politik,” katanya.

“Mas Tommy sebagai warga negara ingin berkiprah di dunia politik melalui partai politik. Yaitu, ingin merebut kursi Golkar 1. Soal dukungan, berarti harus ada pernyataan di atas kertas, berupa surat dukungan. Mengenai ini, memang sudah masuk beberapa surat dukungan dari beberapa daerah. Dari mana saja, kami belum mau sebut, karena tidak etis, bisa berakibat buruk terhadap DPD I maupun DPD II yang memberikan dukungan itu. Jadi, untuk sementara kami rahasiakan dulu,” Syafei menjelaskan.

“Kalau ditanya prosentasenya, saya hakul yakin akan sangat tinggi dari yang lain. Nah, soal dukungan yang diungkap oleh kubunya Pak Aburizal Bakrie, apakah itu realistis? Kan, harus dibreakdown dulu, bisa saja itu hanya sebatas taktik saja untuk menjatuhkan lawan. Ingat, Mas Tommy punya team work dibidang bisnis yang sudah running well,” Syafei menandaskan.

Syafei kemudian menjelaskan merebut kursi Golkar 1 adalah keinginan Tommy Soeharto awal saja. Ke depannya, Tommy Soeharto diakuinya memang ingin menjadi salah satu calon presiden di 2014 nanti, bisa menjadi pengisi Istana Negara.

“Apapun ceritanya, Tommy adalah anak Soeharto. Yang jenius di dalam strategi yang secara genetik diturunkan kepada Tommy Soeharto. Jadi, target maksimalnya adalah menuju Istana, bertarung menjadi capres di 2014. Memperebutkan kursi Golkar 1, adalah target jangka pendeknya. Istilah orang minang, bajanjang naik, batangga turun,” ungkapnya lagi.
* * *
Yuddy Syukuri Kehadiran Tommy

Rakyat Merdeka, 22 Agustus 2009

Jakarta, RMOL. Kerja-kerja koalisi antara kaum muda di Partai Golkar akan sangat mungkin terjadi mengingat adanya kemandekan regenerasi di tubuh partai senior itu.

Politisi senior, AS Hikam, memandang adanya keinginan kuat dari kelompok muda di Golkar untuk menghilangkan kemandekan partai. Gerakan kaum muda Golkar yang dipelopori oleh Yuddy Chrisnandi juga disebutnya dilegakan dengan datangnya pangeran Cendana, Tommy Soeharto. Apalagi, Yuddy dan Tommy telah melakukan pertemuan perdana yang langsung membicarakan kemungkinan koalisi.

“Kerja-kerja koalisi antara kaum muda sangat dimungkinkan. Yuddy sebagai politisi muda menggunakan peluang kehadiran Tommy,” ucap AS Hikam, saat dihubungi Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Sabtu, 22/8).

Ditambahkannya, saat ini kehadiran Tommy tidak penting untuk diperdebatkan dan dituding macam-macam. Karena, bisa jadi kehadiran Tommy bisa menambah kekuatan generasi muda partai demi misi pengembalian Golkar sebagai mesin politik dan partai yang berkualitas. [ald]

* * *
Tommy Digadang-gadang, Golkar Bisa Terjebak
Kapitalisme Politik Fulus

Rakyat Merdeka, 21 Agustus 2009

Jakarta, RMOL. Lepas dari faktor Tommy Soeharto yang berkantong tebal, tidak bisa dibantah partai politik di Indonesia ini terjebak kapitalisme politik uang.

Demikian pandangan politisi muda Partai Golkar Viktus Murin kepada Rakyat Merdeka Online sore ini (Jumat, 21/8). Viktus mengatakan pasca reformasi budaya politik di Indonesia mengalami degradasi. Mengedepankan ideologi bukan lagi hal yang dijunjung tinggi, apalagi menghadapi momen seperti munas. Menghadapi momentum itu, partai politik kata Viktus mengalami kapitalisme politik finansial.

“Lepas dari siapa Tommy Soeharto tidak dapat dibantah bahwa dalam budaya politik pasca reformasi hampir semua partai mengalami kapitalisasi financial. Semua terjebak dalam kapitalisme politik berdasarkan uang,” katanya.

Kondisi seperti itu menurut dia menjadi masalah bagi Partai Golkar dan juga partai-partai lainnya. Apakah tetap ingin terjebak dalam politik seperti itu atau meletakkan kembali basis kekuatan pada ideolog partai. Oleh karena itu menurut Viktus, jika partai berlambang pohon beringin ingin menciptakan eksistensi baru, munas adalah momentum yang tepat untuk mengeluarkan Golkar dari kapitalisme politik yang didasarkan uang.

Mantan Sekjen GMNI periode 1999-2002 ini mengakui siapapun yang ingin maju menjadi Ketua Umum Partai Golkar harus menyiapkan dana. Namun jangan sampai hal itu jadi faktor penentu dan Golkar semakin kehilangan idealismenya. [dry]
* * *Berita-berita soal Tommy Soeharto

Berikut di bawah ini disajikan lanjutan atau tambahan dari kumpulan berita tentang Tommy Soeharto ingin menjadi Ketua Umum Golkar dalam bulan Oktober yang akan datang dan juga menjadi Presiden RI tahun 2014. Berita-berita lain sebelumnya mengenai persoalan yang sama dapat disimak dalam website http://umarsaid.free.fr .

Berhubung besarnya dan seriusnya persoalan ini, yang akan menjadi masalah yang sangat ramai dibicarakan atau ditulis oleh banyak kalangan maka website tersebut di atas akan menyajikan sesering mungkin dan sebanyak mungkin berita, tulisan, atau pendapat mengenai persoalan yang penting ini. Berita-berita atau tulisan itu, yang diambil dari berbagai sumber, dikumpulkan dalam “Aneka berita utama terkini”. Harap maklum dan mengikutinya.

1. Umar Said

Suara Pembaruan, 22 Agustus 2009
Agung Laksono: Belum Waktunya Tommy Maju

[JAKARTA] Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono mengingatkan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto bahwa dia tidak memenuhi syarat untuk ikut dalam pencalonan Ketua Umum Partai Golkar periode 2009-2014. Sehingga, belum saatnya putra mendiang mantan Presiden Soeharto itu untuk maju sebagai kandidat ketua umum.

Agung menegaskan, sesuai anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) partai, syarat utama untuk menjadi ketua umum harus minimal lima tahun pernah menjadi pengurus Partai Golkar. Tommy Soeharto tak memenuhi syarat itu.

“Tommy sebaiknya bersabar dulu. Dia masih muda. Masih panjang waktunya berkarier di Partai Golkar. Apalagi, dia anak pendiri Golkar. Peluangnya cukup besar ke depan,” ujar Agung kepada wartawan di Gedung MPR/DPR Jakarta, Jumat (21/8).

Syarat lainnya yang juga menentukan, katanya, calon ketua umum adalah kader yang sehari-hari terlibat dalam kegiatan partai dan mendapat dukungan dari daerah minimal 30 persen. Karena itu, Agung menyarankan agar Tommy sebaiknya aktif dulu di kepengurusan partai.

Kedekatan dengan partai akan lebih memudahkan dirinya maju sebagai pemimpin ke depan. “Terlibat aktif di partai menentukan besar dan kecilnya peluang seorang calon ketua umum. Semakin sering terlibat, peluang itu akan semakin besar,” katanya.

Dikatakan, perubahan AD/ART bisa dilakukan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar pada 4 hingga 7 Oktober mendatang di Pekanbaru, Riau. Munas akan memilih pengurus Partai Golkar periode 2009-2014.

Tapi, perubahan itu tidak bisa hanya untuk memenuhi kepentingan sesaat, apalagi hanya ingin mengakomodasi kebutuhan satu atau dua orang. Agung menegaskan, menjadi pemimpin partai bukan untuk mencari posisi atau untuk kepentingan pribadi.

Selain Tommy, bursa pencalonan Ketua Umum Partai Golkar juga memunculkan nama Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Yuddy Chrisnandi, dan Ferry Mursyidan Baldan. Sedangkan, Munas Partai Golkar akan diikuti 467 DPD tingkat kabupaten dan kota, 33 DPD tingkat provinsi, 10 organisasi sayap, serta DPP.

Dingin

Sementara itu, suhu politik di tubuh Partai Golkar yang kian panas menjelang munas disikapi dingin oleh DPD Partai Golkar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketua DPD Golkar DIY Gandung Pardiman mengatakan, pihaknya belum menentukan pilihan calon ketua umum yang akan didukung. Pasalnya, semua figur yang ingin maju belum mendekati DPD DIY.

“Kami belum menentukan, karena Jakarta sama sekali belum berkomunikasi. Komunikasi ini penting untuk mengetahui progres ke depan, sekaligus menakar kepentingan dan orientasi kepemimpinan para calon itu. Karena, sampai sekarang belum ada yang mempromosikan diri. Kami menunggu saja,” ujarnya.

Ketua DPD I Sulawesi Tenggara (Sultra) Ridwan Bae mengatakan, keinginan Tommy untuk memimpin Partai Golkar harus diapresiasi. Namun, bentuk apresiasi tersebut bergantung pada forum tertinggi partai, yakni munas.

“Sebagai kader Partai Golkar, tentu Tommy mempunyai keinginan untuk membangun partai. Karena itu, keinginan tersebut harus diapresiasi melalui forum tertinggi partai,” ujarnya.

Menurutnya, bentuk apresiasi tersebut tidak harus menjadi ketua umum, melainkan bisa sebagai pengurus lain di tingkat DPP. Karena, ujar Ridwan, untuk menjadi ketua umum, Tommy harus memiliki persyaratan-persyaratan yang diatur dalam AD/ART.

Dikatakan pula, dari sejarah perjalanannya, Partai Golkar tidak bisa dipisahkan dari Keluarga Cendana. “Pak Harto juga pernah membesarkan Partai Golkar, meski ada kelemahan di sana sini. Jadi, ketika berbicara tentang sejarah Golkar, tidak bisa dipisahkan dengan Keluarga Cendana,” ujarnya. [J11/152/M-16]

* * *
Tommy Memang Siapkan Diri Jadi Ketum Golkar

Kompas, 22 Agustus 2009

JAKARTA, KOMPAS.com – Keinginan putra mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto untuk menggantikan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Golkar, ternyata sudah dengan persiapan matang. Salah satu orang dekat Tommy Soeharto, Yusysafri Syafei menyatakan posisi Ketum Golkar adalah target awal untuk mencapai target utama, menjadi calon Presiden di tahun 2014 mendatang. Kini, Tommy Soeharto, diakuinya sedang melakukan operasi senyap, menggalang dukungan di berbagai daerah untuk bersaing sehat bersama para kandidat ketum Golkar lain, termasuk Aburizal Bakrie, atau Ical.

Dalam perbincangan dengan Persda Network, Jumat (21/8) malam Yusyafri Syafei tak membantah saat dikonfirmasi tentang pertemuan Tommy Soeharto dengan kandidat lain, Yuddy Chrisnandy, di salah satu gedung di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/8) sore lalu. Pertemuan itu, kata Yusyafri hanyalah sebatas silaturahmi saja dan belum ada kesepakatan apapun atau berkoalisi.

“Pertemuan dengan Mas Tommy dengan Yuddy memang benar. Tapi belum ada deal apa-apa, karena keduanya sama-sama berniat maju menjadi calon ketua umum Golkar. Pertemuan itu sebatas silaturahmi saja. Dan kalau ditanya apakah Mas Tommy serius, 100 persen Mas Tommy sudah mempersiapkan diri secara serius untuk memimpin Golkar ke depan dan siap bersaing sehat dengan yang lain termasuk dengan Pak Aburizal Bakrie (Ical),” katanya.

Tommy, ujarnya, sudah mempersiapkan tim pemenangan yang memang tidak diungkap kepada publik. Ia memberikan alasan, hal ini karena masing-masing kandidat memiliki cara serta taktik sendiri-sendiri dalam bersaing sehat di Munas Golkar 4-7 Oktober mendatang di Pekanbaru, Riau.

“Masing-masing memiliki taktik peperangan mas. Kalau dikatakan taktik dengan cara melakukan operasi senyap, boleh jugalah. Karena memang tidak terlihat ke publik taktik apa seperti apa. Kalau kita umbar taktik apa yang dilakukan, itu sama saja mengungkapkan kesombongan. Yang jelas, setiap orang dijamin dalam undang-undang termasuk Mas Tommy untuk terjun ke dunia politik. Salah satu saratnya adalah melalui partai politik,” katanya.

“Mas Tommy sebagai warga negara ingin berkiprah di dunia politik melalui partai politik. Yaitu, ingin merebut kursi Golkar 1. Soal dukungan, berarti harus ada pernyataan di atas kertas, berupa surat dukungan. Mengenai ini, memang sudah masuk beberapa surat dukungan dari beberapa daerah. Dari mana saja, kami belum mau sebut, karena tidak etis, bisa berakibat buruk terhadap DPD I maupun DPD II yang memberikan dukungan itu. Jadi, untuk sementara kami rahasiakan dulu,” Syafei menjelaskan.

“Kalau ditanya prosentasenya, saya hakul yakin akan sangat tinggi dari yang lain. Nah, soal dukungan yang diungkap oleh kubunya Pak Aburizal Bakrie, apakah itu realistis? Kan, harus dibreakdown dulu, bisa saja itu hanya sebatas taktik saja untuk menjatuhkan lawan. Ingat, Mas Tommy punya team work dibidang bisnis yang sudah running well,” Syafei menandaskan.

Syafei kemudian menjelaskan merebut kursi Golkar 1 adalah keinginan Tommy Soeharto awal saja. Ke depannya, Tommy Soeharto diakuinya memang ingin menjadi salah satu calon presiden di 2014 nanti, bisa menjadi pengisi Istana Negara.

“Apapun ceritanya, Tommy adalah anak Soeharto. Yang jenius di dalam strategi yang secara genetik diturunkan kepada Tommy Soeharto. Jadi, target maksimalnya adalah menuju Istana, bertarung menjadi capres di 2014. Memperebutkan kursi Golkar 1, adalah target jangka pendeknya. Istilah orang minang, bajanjang naik, batangga turun,” ungkapnya lagi.
* * *
Yuddy Syukuri Kehadiran Tommy

Rakyat Merdeka, 22 Agustus 2009

Jakarta, RMOL. Kerja-kerja koalisi antara kaum muda di Partai Golkar akan sangat mungkin terjadi mengingat adanya kemandekan regenerasi di tubuh partai senior itu.

Politisi senior, AS Hikam, memandang adanya keinginan kuat dari kelompok muda di Golkar untuk menghilangkan kemandekan partai. Gerakan kaum muda Golkar yang dipelopori oleh Yuddy Chrisnandi juga disebutnya dilegakan dengan datangnya pangeran Cendana, Tommy Soeharto. Apalagi, Yuddy dan Tommy telah melakukan pertemuan perdana yang langsung membicarakan kemungkinan koalisi.

“Kerja-kerja koalisi antara kaum muda sangat dimungkinkan. Yuddy sebagai politisi muda menggunakan peluang kehadiran Tommy,” ucap AS Hikam, saat dihubungi Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Sabtu, 22/8).

Ditambahkannya, saat ini kehadiran Tommy tidak penting untuk diperdebatkan dan dituding macam-macam. Karena, bisa jadi kehadiran Tommy bisa menambah kekuatan generasi muda partai demi misi pengembalian Golkar sebagai mesin politik dan partai yang berkualitas. [ald]

* * *
Tommy Digadang-gadang, Golkar Bisa Terjebak
Kapitalisme Politik Fulus

Rakyat Merdeka, 21 Agustus 2009

Jakarta, RMOL. Lepas dari faktor Tommy Soeharto yang berkantong tebal, tidak bisa dibantah partai politik di Indonesia ini terjebak kapitalisme politik uang.

Demikian pandangan politisi muda Partai Golkar Viktus Murin kepada Rakyat Merdeka Online sore ini (Jumat, 21/8). Viktus mengatakan pasca reformasi budaya politik di Indonesia mengalami degradasi. Mengedepankan ideologi bukan lagi hal yang dijunjung tinggi, apalagi menghadapi momen seperti munas. Menghadapi momentum itu, partai politik kata Viktus mengalami kapitalisme politik finansial.

“Lepas dari siapa Tommy Soeharto tidak dapat dibantah bahwa dalam budaya politik pasca reformasi hampir semua partai mengalami kapitalisasi financial. Semua terjebak dalam kapitalisme politik berdasarkan uang,” katanya.

Kondisi seperti itu menurut dia menjadi masalah bagi Partai Golkar dan juga partai-partai lainnya. Apakah tetap ingin terjebak dalam politik seperti itu atau meletakkan kembali basis kekuatan pada ideolog partai. Oleh karena itu menurut Viktus, jika partai berlambang pohon beringin ingin menciptakan eksistensi baru, munas adalah momentum yang tepat untuk mengeluarkan Golkar dari kapitalisme politik yang didasarkan uang.

Mantan Sekjen GMNI periode 1999-2002 ini mengakui siapapun yang ingin maju menjadi Ketua Umum Partai Golkar harus menyiapkan dana. Namun jangan sampai hal itu jadi faktor penentu dan Golkar semakin kehilangan idealismenya. [dry]
* * *


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: