Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Aneka Berita Noordin M Top (8)

Aneka Berita Noordin M Top (8)

September 2009
S M T W T F S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip:

Kumpulan berita ini juga disajikan di website http://umarsaid.free.fr

Berita berita ini dikumpulkan dari berbagai sumber

= = =

Sinar Harapan, , 26 Agustus 2009
Jibril Dikonfrontasi dengan Dua WNA

Jakarta – Densus 88 Mabes Polri, Rabu (26/8), memeriksa Muhammad Jibril alias Muhammad Riki Ardan bin Mu­ham­mad Iqbal, tersangka yang diduga kuat terlibat pendanaan dalam jaringan teroris ter­kait peledakan bom Hotel JW Mar­riott dan Ritz-Carl­ton. Muhammad Jibril tidak lain adalah anak dari Abu Jibril.

Yang bersangkutan akan dikonfrontasi dengan dua warga negara asing (WNA) yang telah ditetapkan sebagai terangka terkait kasus pendanaan untuk melakukan pe­ngemboman JW Marriott dan Ritz-Carlton, 17 Juli 2009 lalu.
Secara terpisah, ayah tersangka, Abu Jibril, Rabu pagi ini menggelar jumpa pers di Masjid Al-Munawwarah di Pamulang, Tangerang Selatan, berkaitan dengan penangkap­an Muhammad Jibril oleh Po­lisi. Muhammad Jibril diduga terkait pendanaan luar negeri dalam jaringan teroris.

Saat bersamaan muncul 20 orang yang menamakan dirinya Barisan Muda Betawi (BMB). Mereka mendatangi Masjid Al-Munawwarah ber­niat membubarkan jumpa pers Abu Jibril. Massa BMB datang dengan mengenakan seragam loreng-loreng. Mereka rencananya akan memasuki masjid. Belasan petugas dari Polsek Pamulang berjaga-jaga di depan masjid.

Densus 88 menangkap Muhammad Jibril saat ia tengah berjalan di dekat rumahnya di Jalan Muhammad Saidi RT 10/01, Pesanggrahan, Pe­tukangan Selatan. Keter­libatan Muhammad Jibril diketahui Densus 88 dari keterangan Al Qalil Ali alias Al Hamid Ali, warga negara Arab yang kini telah ditahan terkait pendanaan dalam kelompok Noordin M Top.

“Berdasarkan keterangan tersangka yang kini sudah ditahan ini, Polisi akhirnya mengejar Muhammad Jibril, dan kini masih terus dilakukan pe­meriksaan terkait adanya pendanaan dan penerimaan kiriman dana dari luar. Dana yang diterima Muhammad Jibril ini selanjutnya diguna­kan untuk melakukan pele­dakan di Hotel Marriott dan Ritz-Carlton,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Nanan Soekarna, Rabu (26/8) siang.

Polisi sendiri kini tengah melakukan pemeriksaan ter­kait dana yang diterima Mu­hammad Jibril. Salah satunya, ia diketahui telah menerima uang sebesar Rp 50 juta yang diakui untuk membuka warung internet (warnet).

Kantor Digeledah
Densus 88 Mabes Polri, Selasa (25/8) malam, mengamankan sejumlah komputer jinjing, CPU, buku, serta DVD berbau jihad dari kantor milik Muhammad Jibril di Bintaro Jaya, Sektor V, Tangerang, dan di kediaman orang tuanya di Perumahan Jalan Witanaharja III, Pamulang Kota, Tangerang Selatan.

Penggeledahan pertama berlangsung pukul 20.00 WIB di rumah yang berlokasi di Jalan Pisok, Blok EB X, No 45 A, RT 07/11, Jurangmangu Timur, Pon­dok Aren, Tangerang Se­latan. Kantor itu diduga digu­na­kan Muhammad Jibril se­bagai kantor situs Arrah­mah.com. Untuk meng­hindari ma­syara­kat yang hendak melihat langsung proses peng­geledahan ini, petugas bahkan memasang garis polisi hingga berjarak dua rumah dari lokasi. Joni, ketua RT setempat yang turut mendampingi pro­ses penggeledahan menga­ta­kan, di lokasi ini petugas me­ngambil empat buah CPU, se­buah komputer jinjing, dan ber­bagai buku serta DVD yang ber­kaitan dengan jihad. Pe­nge­le­dahan ini sendiri baru ber­akhir sekitar pukul 23.00 WIB.
Selain menyita aset Mu­hammad Jibril, petugas juga sempat meminta keterangan pemimpin redaksi Arrah­mah.com Fachri dan Jizris yang merupakan kar­yawan. “Mereka tidak dibawa, hanya dimintai keterangan di rumah itu dan ditanya peran mereka. Fachri dan Jizris mengaku kalau Jibril adalah atasan mereka,” ujar Joni.

Dia mengatakan, selama tiga bulan menyewa rumah milik warganya yang bernama Tuti, Muhammad Jibril tidak pernah sekalipun terlihat olehnya. “Saya tidak pernah bertemu langsung dengannya termasuk saat salat Jumat. Hanya dua karyawannya saja yang kerap terlihat,” sahutnya.
Hal senada dilontarkan beberapa warga sekitar yang tidak mau disebutkan nama­nya. Ia mengakui Jibril jarang menunjukkan wajahnya di muka umum. “Kalau datang selalu mengenakan helm serta jaket dan baru dibuka saat masuk ke dalam rumah,” kata seorang warga.

Setelah melakukan peng­ge­le­dahan di Bintaro, petugas yang mengendarai empat mobil, masing-masing Toyota Kijang Innova hitam B 2389 EF, Toyota Avanza hitam B7878, Avanza hitam W 1899 PA, dan KIA Travello B 1159 QZ bergegas mendatangi kediaman Mu­hammad Iqbal Ab­durrahman alias Abu Jibril yang merupakan orang tua Muhammad Jibril di Perumahan Jl Wita­naharja III Gang Nakula, RT 03/16, Blok C No 137, Pa­mu­lang Barat, Tangerang Selatan.

Seperti halnya di peng­geledahan sementara, petugas kembali memasang garis polisi hingga berjarak sekitar 30 meter dari lokasi sampai proses berakhir tiga jam kemudian.
Pimpinan LPW Majelis Mujahidin Jakarta H Salim yang mendampingi keluarga Abu Jibril mengatakan, petugas yang melakukan peng­geledahan mengaku berniat mencari paspor milik Mu­hammad Ricky Ardan yang tidak lain adalah Muhammad Jibril. Abu Jibril sendiri diketahui adalah Wakil Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)/Pembimbing Majelis Ilmu Ar Royan. “Mereka mengambil dua buah laptop dan kaset-kaset pengajian,” jelas H Salim.

Dalam kesempatan yang sama, H Salim mengungkapkan, Abu Jibril kemarin siang sempat dipanggil ke Mabes Polri, namun yang bersangkutan tidak bertemu dengan Muhammad Jibril yang di­ka­barkan telah diamankan petugas Densus 88 Mabes Polri.
(maya handhini)

* * *
Abu Jibril: Polisi Tangkap Jibril karena Panik

Rabu, 26 Agustus 2009

TANGERANG, KOMPAS.com — Abu Jibril, ayah dari Mohamad Jibril yang ditangkap karena diduga sebagai penyalur dana bom JW Marriott dan Ritz-Carlton, mengatakan, anaknya itu ditangkap polisi karena pihak kepolisian gagal menangkap gembong teroris Noordin M Top.

“Setelah diumumkan Noordin M Top tewas, tetapi ternyata itu Ibrohim, diperluaslah pencarian terhadap orang-orang yang diperkirakan terkait,” ujarnya dalam konfrensi pers di Masjid Al Munawwarah, Pamulang, Tangerang, Rabu (25/8).

Adapun mengenai anaknya, Abu Jibril mengatakan bahwa Mohamad Jibril hanya mengelola situs media Arrahmah. Situs tersebut menceritakan tentang jihad internasional. “Jadi, ini adalah rekayasa. Saya tahu persis anak saya. Ia sering datang minjam uang ke rumah. Sekali lagi ini adalah rekayasa kezaliman dan keburukan dari petugas. Anak saya ditangkap sebelum ada surat penangkapan,” kata dia.

Sementara itu, Munarman, tim kuasa hukum Mohamad Jibril mengatakan, dalam penangkapan kliennya telah terjadi pelanggaran HAM yang sistematis. Pasalnya, penangkapan tersebut tidak sesuai prosedur yang ada.Ia menuturkan, sesuai prosedur hukum pidana, orang yang dapat ditangkap tanpa surat adalah mereka yang tertangkap tangan. “Kalau mau ditangkap langsung harusnya beberapa jam setelah kejadian. Ini sudah berhari-hari,” kata dia.

Dengan begitu, kata dia, penangkapan harus dibatalkan. “Kami tuntut secara hukum, kalau perlu praperadilan,” ujar dia.

* * *

Suara Pembaruan, 26 Agustus 2009


Noordin M Top Sudah Berlindung di Malaysia

[JAKARTA] Gembong teroris Noordin M Top diduga kuat kini sudah berada kembali ke negara asalnya, Malaysia, menyusul upaya gencar aparat keamanan Indonesia untuk membekuknya. Kembalinya Noordin ke Malaysia tak terlepas dari permainan oknum intelijen negara tersebut yang tidak ingin Indonesia maju di bidang ekonomi.

Sumber SP di Kepolisian, Rabu (26/8) menyebutkan, setelah bom meledak di JW Marriott dan Ritz-Carlton, 17 Juli lalu, Noordin kembali ke negaranya melalui “jalan- jalan tikus” di wilayah Sumatera, kemudian menumpang perahu atau kapal kecil. Hal itu bisa dilakukannya karena ada bantuan dari oknum intelijen negara tersebut. “Noordin tak berani naik pesawat atau kapal besar, karena wajahnya sudah diketahui banyak orang. Informasi yang kami dapatkan, dia pulang-balik Indonesia-Malaysia,” katanya.

Senada dengannya, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mensinyalir operasi terorisme Noordin di Indonesia selama tujuh tahun terakhir merupakan permainan oknum-oknum intelijen Malaysia yang tidak menginginkan Indonesia maju dari segi ekonomi dan pariwisata. Aksinya tak hanya menelan korban jiwa dan luka-luka, tetapi telah menurunkan kepercayaan internasional terhadap iklim bisnis dan pariwisata Indonesia. Pemerintah Malaysia juga terkesan tidak maksimal melakukan pencegahan atas ulah warga negaranya itu.

“Setelah melihat beberapa kali serangan Noordin di Indonesia dengan target kepentingan dan warga negara asing, terutama Amerika Serikat, investor pasti menjauh. Kalau memang Noordin tidak senang dengan orang-orang Amerika, kenapa dia tidak menyerang orang atau bisnis Amerika di Malaysia? Aksi Noordin tak lepas dari oknum intelijen Malaysia,”

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna mengatakan lokasi persembunyian Noordin bisa saja di Indonesia atau Malaysia. “Sampai saat ini Noordin masih diburu, di mana pun dia berada, termasuk misalnya kembali ke Malaysia. itu bisa saja terjadi. Apakah Noordin masih bersembunyi di dalam negeri atau sudah ke luar negeri, adalah bagian target penangkapan Polri. Warga juga diharapkan tidak takut melaporkan kepada petugas setempat jika mengetahui keberadaan Noordin,” katanya.

Selain Noordin, Polri juga terus memburu empat orang yang masuk daftar pencarian orang (DPO), yakni Syaifudin Zahri, Mohamad Syahrir, Bagus Budi, dan Ario Sudarso.

Pada Selasa (25/8), Polri telah menangkap pengelola situs arrahmah.com, Muhammad Jibril Abdul Rahman bin Abu Jibril yang diduga terlibat pengelolaan dana asing untuk operasi jaringan teroris di Indonesia.

Sampai Rabu (26/8), dia masih diperiksa Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Dia adalah anak Abu Jibril alias Muhammad Iqbal yang tergabung dalam sebuah ormas di Indonesia. Abu Jibril pernah ditangkap anggota Densus 88 karena dituduh terlibat kasus teroris tahun 2004.

“Penangkapan dan pemeriksaan Abdul Rahman berikut penyitaan laptop oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri untuk kepentingan penyelidikan terkait tuduhan terlibat pengelolaan dana asing dalam jaringan teroris,” kata Nanan.

Musuh Bersama

Sementara itu, pengamat militer Jaleswari Pramodhawardani mengatakan terorisme yang mengancam perkembangan pariwisata, ekonomi, politik, dan dimensi kehidupan lainnya, harus diperangi bersama. “Indonesia juga bisa menggunakan ASEAN Charter untuk meningkatkan perlawanan terhadap terorisme dengan menggandeng negara-negara tetangga,” katanya kepada SP di Jakarta, Rabu (26/8).

Yang terpenting, lanjutnya, kemampuan diplomasi Indonesia untuk meyakinkan negara-negara tetangga, terutama Malaysia dan Singapura, untuk menjadikan terorisme sebagai musuh bersama. “Kerja sama dengan kedua negara itu harus diintensifkan, khususnya dalam penanganan terorisme,” lanjutnya.

Sedangkan, pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Arie Sujito menyatakan spekulasi persaingan politik dan ekonomi antara Indonesia dan Malaysia yang melatarbelakangi aksi teror di Tanah Air harus dibuktikan. Jika spekulasi itu benar, Indonesia harus menuntut pertanggungjawaban Malaysia.

“Kita harus terlebih dahulu membuktikan kebenaran spekulasi tersebut, kemudian menuntut pertanggungjawaban yang sifatnya diplomasi. Jangan sampai Malaysia lepas tangan,” ujarnya.

Arie juga menyarankan dibentuknya tim investigasi khusus untuk membuktikan benar atau tidaknya spekulasi tersebut. [G-5/EMS/C-4]

* * *


Inilah Kronologi Penangkapan Jibril Versi Keluarga

Selasa, 25 Agustus 2009

JAKARTA, KOMPAS.com — Hanya selang beberapa jam setelah diumumkan sebagai buron dalam daftar pencarian orang (DPO), M Jibril (sesuai dengan nama dalam situs Arrahmah.com) ditangkap aparat Densus 88.

Penangkapan tersebut sempat diprotes pihak keluarga karena tidak ada pemberitahuan dari pihak kepolisian. Abu Jibril, orangtua M Jibril, sempat mendatangi Mabes Polri, Selasa (25/8) sore, dan meminta kejelasan.

Seperti diberitakan situs Arrahmah.com, Mikaiel, adik M Jibril, menuturkan bahwa kakaknya dibawa paksa oleh tiga orang berbadan besar. “Di dekat rumah saya lihat kakak saya ditangkap tiga orang berbadan besar. Saya lihat dia (Jibril) diborgol,” kata Mikaiel seusai bertemu Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Sukarna di kantornya, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (25/8).

Ia menambahkan, kemudian Jibril dimasukkan ke dalam mobil Honda CR-V silver bernopol B 8190 CX. Mobil itu langsung melesat ke arah Pondok Cabe, Jakarta Selatan. “Kami sempat ngejar, tapi kehilangan jejak di Pondok Cabe,” kata Mikaiel. Menurut Mikaiel, saat itu M Jibril akan ke rumah ayahnya, Abu Jibril, di bilangan Pamulang.

Sementara itu, Abu Jibril memprotes cara penangkapan yang dilakukan tiga orang tak dikenal itu, yakni menengkurapkan M Jibril, menginjak, dan lalu memborgolnya. Ketiga orang tersebut yang belakangan diketahui anggota Densus 88 membawa M Jibril tanpa didampingi pengacara.

M Jibril selama ini dikenal sebagai pimpinan Ar Rahmah Media. Selain mengelola situs Arrahmah.com, ia juga mengelola akun di Facebook, dan juga penerbitan. Nama M Jibril disebut polisi sebagai tersangka teroris baru yang terlibat dalam pendanaan pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.

Sesuai pernyataan Abu Jibril, Arrahmah.com adalah salah satu media yang dikelola Mohamad Jibril.

* * *


Polisi Sita 2 Laptop dan 4 Komputer

Rabu, 26 Agustus 2009

TANGERANG, KOMPAS.com — Tim Densus 88 menyita 2 unit laptop dan 4 unit komputer dalam penggeledahan yang dilakukan di rumah Abu Jibril di kawasan Pamulang dan kantor Arrahmah di daerah Bintaro, Selasa (25/8). Dua unit laptop disita dari rumah Abu Jibril, sementara empat unit komputer dari kantor Arrahmah.

Malam itu, tutur Abu Jibril, kepada wartawan di Tangerang, Rabu, Densus 88 menggeledah semua kamar di rumahnya. Pasukan Densus lantas membawa dua buah laptop. “Satu milik Mikail Abdurrahman (adik Mohamad Jibril) dan satu lagi milik tamu. Selain itu, pihak kepolisian juga membawa rekaman kaset dakwah,” kata dia.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi Arrahmah M Fahri menceritakan, sekitar 20 personel Densus 88 mendatangi kantor sekitar pukul 24.00.

Pada saat penggeledahan, kata dia, polisi menunjukkan surat penyitaan dan penggeledahan. Selama penggeledahan berlangsung sekeliling kantor Arrahmah dipasangi garis batas polisi. Garis polisi itu dicopot setelah penggeledahan.

Dalam penggeledahan tersebut, Densus menyita empat buah CPU dan beberapa berkas. “Kalau pegawai tidak ada yang ditangkap, hanya ditanyai,” tuturnya.

* * *


Arrahmah: Kami Mewartakan Jihad

Rabu, 26 Agustus 2009

TANGERANG, KOMPAS.com — Pemimpin Redaksi Arrahmah Media, Muhammad Fachry, menduga penahanan Mohammad Jibril terkait pemberitaan yang selama ini ada pada arrahmah.com. Situs itu merupakan salah satu media yang berada di bawah payung usaha Arrahmah Media. Jibril adalah pendiri dan pemilik Arrahmah Media.

“Mungkin polisi gerah atau gimana. Ada juga yang mengatakan ini situs teroris. Saya yakin dugaannya memang seperti itu (terkait dengan pemberitaan),” kata dia saat ditemui di Masjid Al Munawarrah, Pamulang, Rabu (26/8).

Fachry mengakui selama ini Arrahmah Media memang fokus mewartakan kabar tentang jihad, baik di dalam maupun luar negeri. Selain mengelola situs, Arrahmah juga memproduksi VCD tentang jihad, menerbitkan majalah Jihad Magz, poster jihad, dan buku-buku tentang jihad.

Situs arrahmah.com pernah membuat kontroversi ketika memuat foto jenazah Imam Samudra setelah dieksekusi. Situs itu juga memuat foto jenazah Air Setiawan, teroris yang tewas dalam penyergapan di Jati Asih, sebelum dimakamkan di Solo.

Lebih jauh ia menjelaskan, meski Mohammad Jibril telah ditangkap, fokus pemberitaan Arrahmah tidak akan berubah. “Kita juga akan beritakan itu (penangkapan Mohammad Jibril). Tapi, kalau ada berita lain yang lebih menarik, seperti Palestina juga akan kita beritakan,” tandasnya.

* * *


Munarman: Kenapa Sidney Jones Tidak Diawasi?

Rakyat Merdeka, 26 Agustus 2009,

Jakarta, RMOL. Ketua Tim Advokasi Forum Umat Islam, Munarman menyayangkan polisi yang tidak mengawasi sisa intel-intel asing yang ada di Indonesia.

Seperti Sidney Jones. Kenapa tidak diawasi? Kenapa mesti mesjid dan dakwah yang harus diawasi polisi?” kata eks Ketua YLBHI dalam sebuah diskusi publik di Jakarta, Rabu (26/8).

Munarman juga mempertanyakan alasan polisi mengeluarkan kebijakan ijin terhadap orang-orang yang hendak berdakwah. Sebelumnya, Kepala bidang Mitra Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Zulkarnaen menyatakan pengawasan polisi terhadap kegiatan dakwah khusus terkait penangkapan 18 warga asing yang tidak memiliki ijin mendakwah di Indonesia.

* * *


Jibril Diduga Terkait Pendanaan Peledakan Bom

Rabu, 26 Agustus 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta – Mohamad Jibril Abdul Rahman alias Muhamad Ricky Ardhan, 24 tahun, yang diringkus anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror di Pamulang, Tangerang Selatan, diduga terkait dengan pendanaan peledakan bom Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta pada 17 Juli lalu.

“Jibril diborgol dan dibawa (dengan) mobil CRV silver oleh tiga lelaki tanpa seragam. Anak saya diculik,” kata Abu Jibril, ayah Jibril, didampingi tim pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Muslim Indonesia, setelah bertemu dengan juru bicara Polri, Inspektur Jenderal Nanan Soekarna, di Markas Besar Polri, Jakarta.

Abu Jibril, Ketua Majelis Ta’mir Masjid Al-Munawwarah, Pamulang, pernah beberapa kali dituduh terlibat aksi terorisme di Malaysia dan Indonesia, tapi tak terbukti. Pemilik nama asli Muhammad Iqbal ini menerangkan, sekitar pukul 14.00 WIB tayangan di televisi menyebutkan anak sulungnya itu menjadi buron. Ia lantas meminta Jibril pulang dari tempat kerjanya untuk diajak bersama meminta penjelasan ke Mabes Polri. “Dia anak yang baik,” ucapnya.

Dalam perjalanan pulang, Jibril, yang pernah 20 tahun tinggal di Malaysia, merasa dibuntuti sehingga turun dari sepeda motornya dan berganti naik taksi. Jibril akan dijemput oleh adiknya, Abdul Rahman. Jibril ditangkap sekitar 500 meter dari kediaman ayahnya di Perumahan Witanaharja, Pamulang. “Adiknya melihat Jibril ditangkap.” Tiga Anggota Densus 88 itu mengendarai mobil Honda CRV B-8190-CX warna silver.

Nanan Soekarna mengumumkan, Jibril diduga terlibat pendanaan aksi bom bunuh diri di Marriott dan Ritz pada 17 Juli 2009 bersama Al-Khalil Ali, 51 tahun, asal Timur Tengah, yang lebih dulu ditangkap. “Dana itu dari negara mana, oleh siapa, dan berapa jumlah uangnya masih diselidiki,” ujarnya. Yang pasti, dana dikirim secara tunai. “Cash on hand.” Polisi belum memastikan kewarganegaraan Ali, Arab Saudi atau Yaman.

Jibril memiliki identitas ganda. Berdasarkan paspor dan KTP, ia lahir di Banjarmasin, 3 Desember 1979, serta Lombok Timur, 28 Mei 1984. Menurut Nanan, terakhir Jibril tinggal di Jalan M. Saidi RT 010/001, Pesanggrahan, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.

Jibril pernah aktif dalam kelompok studi Al-Ghuraba di Pakistan, yang diduga merupakan penghubung Al-Qaidah dengan Jamaah Islamiyah. Aktivis Al-Ghuraba lainnya adalah Abdul Rahim dan Rusman Gunawan alias Gun Gun, yang juga adik Hambali, tahanan di Guantanamo. Abdul Rahim, pendiri Al-Ghuraba, adalah putra Abubakar Ba’asyir. Jibril belakangan memimpin Arrahmah, website yang mendukung perjuangan kelompok Islam di berbagai negara.

Kini, polisi sudah membekuk 10 tersangka. Mereka yang ditahan adalah Jibril, Ali, Aris Susanto, Amir Abdillah, serta Indra Arif Hermawan. Lima lainnya tewas, yakni Ibrohim, Eko Joko Sarjono alias Eko Peang, Air Setiyawan, Dani Dwi Permana, serta Nana Maulana. Polisi masih memburu Noor Din Mohd. Top, Saefuddin Zuhri, Mohamad Syahrir (Aing), Bagus Budi Pranoto (Urwah), dan Ario Sudarso alias Mistam Husamudin alias Suparjo Dwi Anggoro alias Aji alias Dayat.

* * *


Dana Bom Marriott dari Muh Jibril

Selasa, 25 Agustus 2009

JAKARTA—Media Indonesia: Al Khalid Ali alias Al Hamid Ali, warga negara Arab yang menjadi tersangka terorisme mengaku mendapatkan dana dari Mohamad Jibril alias Muhamad Ricky Ardhan bin Muh Iqbal. Dana itu untuk operasional peledakkan bom JW Marriot dan Ritz Carlton. Sedangkan Muh Jibril, kini menjadi buronan yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Polri.

Kadiv Humas Polri Irjen Nanan Soekarna saat dikonfirmasi menyatakan bahwa memang ada keterkaitan Al Khalil Ali dengan Muh Jibril. \”Tetapi soal dana Al Khalil Ali dari Muh Jibril atau dari manapun, masih dalam penyidikan kepolisian,\”ujar Nanan.

Nanan menyatakan, Muh Jibril masuk dalam DPO Polri. Soal keterkaitan Abu Jibril dengan tersangka DPO Muh Jibril, masih dalam penyidikan. \”Saya belum tahu, apa tersangka itu anaknya atau saudaranya atau hanya kebetulan namanya mirip,\” ujar Nanan.

Abu Jibril pernah dituntut 10 bulan karena memakai dan memberikan nama palsu Muhammad Iqbal alias Muhammad Jibril dalam paspornya. Dia dituntut di PN Jakarta Pusat, Oktober 2004 lalu.

Abu Jibril tinggal di Jl Bima Blok C/106, Komplek Perumahan Witanaharja, Pamulang Barat. Abu Jibril adalah aktivis Majelis Mujahidin Indonesia.

Abu Jibril juga pernah diperiksa polisi terkait kasus bom 2004 lalu. Namun, karena tidak ada bukti yang mendukung, Abu Jibril pun dilepas Polri.

Dari sumber di kepolisian, Al Khalil Ali alias Al Hamid Ali mengaku menerima uang Rp50 juta dari Muhamad Jibril. \”Namun, pengakuannya, uang itu dibuat warung telekomunikasi dan internet (Warnet),\” ujar polisi. Pengakuan Al Khalil, dia tidak terkait kasus bom. Namun, menurut Nanan, sudah cukup bukti Al Khalil dijadikan tersangka teroris dan ditahan.

Soal Al Khalil juga menginap di kamar 1621, saat terjadi ledakan bom Marriot dan Ritz Carlton, Nanan menyatakan belum tahu. \”Saya belum mendapat informasi itu,\” ujar Nanan.

Sementara itu, gambar DPO Muh Jibril sudah disebarluaskan Divisi Humas Polri. Moh Jibril, lahir di Banjarmasin 3 Desember 1979 dan beralamat di Jl M Saidi RT 010/01 Pesanggrahan, Petukangan Selatan. Tinggi badannya 165 cm.

Dia juga memiliki identitas lainnya, dengan lahir di Lombok Timur 28 Mei 1989. Nomor paspornya S335026 dan masih aktif. Bagi yang melihatnya dan memiliki informasi dirinya diharap menghubungi Bareskrim Polri 021-7218875 dan 021-7256586 atau sms ke 081383950059. (San/OL-03)

* * *
Jibril Sering Dakwah Jihad

Selasa, 25 Agustus 2009

JAKARTA, KOMPAS.com — Lima hari sebelum polisi merilis Mohamad Jibril alias Ricky Ardhan alias Jibriel Abdul Rahman sebagai buron kasus terorisme, terjadi ribut-ribuat di Masjid Al Munawaroh, kompleks perumahan Witana Harja, Pamulang. Sekelompok massa dipimpin Habib Abdurrahman Assegaf mendatangi pengajian rutin yang digelar Abu Jibril—ayah Mohamad Jibril—di masjid itu, Kamis (20/8) malam.

Massa yang menamakan diri Barisan Muda Betawi berniat membubarkan pengajian tersebut karena dianggap menyebarkan paham wahabiah. Namun, rencana tersebut batal dilaksanakan karena Masjid Al Munawaroh dan rumah Abu Jibril dijaga ketat oleh polisi.

Abu Jibril membantah tuduhan menyebarkan ajaran wahabi radikal, termasuk pernah melarang umat Muslim melaksanakan tahlil dan membaca qunut saat shalat subuh. “Semua ucapan Ustaz Abdurrahman Assegaf merupakan kebohongan dan fitnah,” ujar Abu Jibril, sehari setelah pengepungan yang dilakukan pendukung Habib Abdurrahman Assegaf.

Namun, Abu Jibril mengakui dirinya beserta para pengikutnya memang tidak menganjurkan membaca tahlil dan qunut. Alasannya, hal itu tidak ada dalam Al Quran dan hadis. Mantan aktivis Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu juga menegaskan Masjid Al Munawaroh bukan tempat tertutup. “Siapa pun boleh menggunakan. Saya hanya kebetulan ditunjuk sebagai imam oleh dewan pengurus masjid,” ujarnya.

Menurut Abu Jibril, masalah tersebut tidak pernah muncul sebelumnya. Pengurus Masjid Al Munawaroh pernah duduk bersama Habib Abdurrahman. Dikatakan, sudah lama Abdurrahman ingin menguasai Masjid Al Munawaroh, tetapi ditolak pengurus masjid.

“Jadi, apa yang dilakukan itu adalah satu bentuk rekayasa untuk menyingkirkan kami dari masjid, agar dia leluasa untuk menyampaikan bid’ahnya di masjid. Hubungan kita selama ini baik, di hari raya, kami silaturahim,” katanya.

Menurut Ketua Umum Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII) Habib Abdurrahman Assegaf, yang tinggal tidak jauh dari kediaman Abu Jibril, mengatakan, Abu Jibril menggeser posisi Harkomoyo sebagai Ketua DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Al Munawaroh. “Sejak saat itu Abu Jibril menguasai masjid tersebut. Di masjid itu Abu Jibril kerap memberikan pengajian berisi jihad, pengharaman tahlil serta yasin dan sebagainya,” katanya.

Mohamad Jibril, anak sulung Abu Jibril, juga kerap memberi pengajian di Masjid Al Munawaroh. “Sama dengan bapaknya, ceramah Mohamad Jibril tidak jauh dari jihad, bid’ah, dan sebagainya,” tambahnya.

Warga di kompleks perumahan itu yang ikut pengajian hanya tujuh orang, sedangkan sisanya berasal dari luar. Tak pelak warga sekitar menjadi gerah dan memilih tidak melakukan shalat di masjid bersangkutan.

Terkait isu penyerangan ke masjid tersebut, Habib Abdurrahman membantah berita di website arrahmah.com yang menyatakan dirinya memimpin massa untuk menyerbu Masjid Al Munawaroh. “Itu inisiatif pemuda sini yang sudah gerah karena masjidnya mereka duduki,” katanya.

Diungkapkan, peristiwa pengepungan pada 20 Agustus lalu ia ketahui pada pukul 22.00. “Kebetulan saat itu saya pulang kerja. Setelah tahu kejadiannya, saya ajak massa membubarkan diri,” katanya. (Persda Network/Yogi Gustaman)

* * *


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: