Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Campur Sari : Nasionalisme Di Tapal Batas, A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism

Campur Sari : Nasionalisme Di Tapal Batas, A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism

August 2009
S M T W T F S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arsip:

Ekspedisi 100 Pulau Zamrud Khatulistiwa
seluruh link-link bacaan terkait silah kunjung

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/nasionalisme-di-tapal-batas-atau-di.html

Dalam rangka menyambut Hari Peringatan Kemerdekaan ke-64 Harian Kompas akan menurunkan laporan khusus (dari tanggal 10-21 Agustus 2009) tentang semangat nasionalisme dan bagaimana bangsa ini menggulati makna kemerdekaan. Kompas memilih tema “Nasionalisme di Tapal Batas” karena masalah nasionalisme semakin kritis. Kompas menilai dalam konteks wilayah-wilayah perbatasan, kekritisan masalahnya semakin terasa. Demikian pula dalam perspektif politik nasional dan konstelasi politik regional, masalah pun kian kompleks.

Nasionalisme di Tapal Batas

Untuk laporan khusus ini Kompas memilih satu petikan tulisan Sutan Sjahrir dalam Renungan Indonesia 1934 sebagai prolog laporan Nasionalisme di Tapal Batas sbb :

Oleh karena itu, kita pun harus lebih kuat daripada yang sudah-sudah jika kita hendak mengerjakan tugas kita dan menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Kita tidak boleh memboroskan waktu dan engergi kepada kesulitan-kesulitan pribadi, bahkan tidak kepada kesedihan pribadi kita, maka kita pun akan bisa menghilangkan diri kita ke dalamnya. Begitu banyak hal yang masih gelap yang sekali sudah menjadi terang, mungkin akan membuka perspektif-perspektif baru yang tidak terbatas.

Perjalanan Nasionalisme Di Tapal Batas ini akan melalui rute yang berawal pada Menerawang Aceh dari Sawang;Siberut Si Cantik yang Terabaikan; Kepulauan Riau : Tak Indonesia Hilang di Hati; Perca di Kalimantan Barat; Keseriusan Masalah di Kalimantan Timur; Perbatasan Miangas dan Marore; Maluku, Menguggah Ke Indonesiaan di Bibir Pasifik; Perbatasan NTT-Timor Leste; Geliat Pendidikan di Tengah Keterbatasan dan kemudian ditutup dengan Dua Stigma tentang Papua.

Saat membaca promosi laporan khusus Kompas ini, saya segera meledak dengan antusiasme atau minat yang meluap, walau sesunguhnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Walaupun alur perjalanan laporan ini tetap akan saya baca dengan penuh minat, saya mencerap Nasionalisme di Tapal Batas (yang sebenarnya datar dan netral ini) lebih sebagai padanan sebuah sikap menggugat yang tegas. Nasionalisme di Simpang Jalan!

Tapal Batas ini bagi saya adalah simpang jalan atau narasi Nasionalisme yang ’Membunuh’ atau Nasionalisme Yang Merawat Kebhinekaan, Mitos Nasionalisme atau Kenyataan Nasionalisme, Nasionalisme Right or Wrong is My Country atau Right is Right, Wrong is Wrong, That’s All dstnya.

A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism

Ini kemudian mengingatkan saya pada Andreas Harsono yang saat ini sedang menyiapkan buku A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism yang menurut duga saya akan tanpa ampun menggugat pemaknaan dan praktek nasionalisme ’brutal’ yang sempat beranak pinak di negeri ini.

Sembari menyiapkan bukunya Andreas Harsono menulis catatan-catatan dari perjalanannya untuk menulis buku. Dengan membaca sebagaian tulisan-tulisan pendeknya di bawah ini kita bisa makin jelas menangkap sikap kritisnya (dan bahkan menurut saya ”keras tanpa ampun”).

Simak saja beberapa tulisannya seperti Murder at Mile 63, Precisely, 86 locations in three years, Biak, Militer dan Melanesia, Semuel Waileruny- Pemimpin Forum Kedaulatan Maluku di Ambon, Pramoedya, fascism and his last interview, Protes “Indopahit” Lewat Kaos Anarkis, Tahun Kelahiran Hasan di Tiro; Miangas, Nationalism and Isolation; hingga Republik Indonesia Kilometer Nol (pernah di muat Pantau desember 2003)

Kebangsaan Indonesia dan kebangsaan Aceh dalam peperangan di ujung Pulau Sumatra adalah jendela artikel dalam tulisannya Republik Indonesia Kilometer Nol. Anda juga bisa membaca dengan cermat satu tulisannya (menurut saya ini tulisan luar biasa) “Hoakio dari Jember” untuk memahami latar belakang, posisinya, penyikapan dan pemihakannya.

Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa

Bila anda tertarik dan punya minat dan antusiasme yang sama dengan saya disamping laporan Kompas dan bakal buku Andreas Harsono, menurut saya jangan pula dilewatkan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (walau dengan aksentuasi dan nada yang beda – soft) ke 100 pulau yang dilakukan oleh Farid Gaban dan Ahmad Yunus. Tim ekspedisi keliling Indonesia ini selama 8 (delapan) bulan dari Mei hingga Desember 2009, mengunjungi, mendokumentasikan dan mempublikasikan lewat produk multimedia kehidupan di 100 pulau pada 40 gugus kepulauan. Kita bisa mengikuti catatan (artikel pendek) tentang perjalanan kedua kawan ini sementara kita menunggu mereka menyelesaikan seluruh perjalanan dan laporannya.

Cermati pendasaran ekspedisi ini yang saya kutipkan dari web ekspedisi

Indonesia adalah negeri kepulaun terbesar di dunia. Berisi sekitar 17.000 pulau, negeri ini memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Mengandung kekayaan alam, baik darat maupun laut, tiada tara, dia berisi keanekaragaman hayati yang kaya-raya.

Namun, sebagian besar penduduk pesisir dan kepulauan Indonesia tergolong miskin; tidak tersentuh deru pembangunan. Paradigma pembangunan kita masih cenderung memanjakan darat dan perkotaan, serta mengabaikan laut dan kepulauan kecil.

Di masa lalu, Nusantara dikenal sebagai negeri bahari. Pelaut-pelaut tradisional kita adalah pelaut petualang dan pemberani. Citra itu telah pudar belakangan ini. Padahal, di masa depan, laut dan pulau-pulau kita dengan segala keindahan dan kekayaan di dalamnya, merupakan jawaban atas sebagian besar problem Indonesia. Namun, perhatian, kepedulian dan pengetahuan kita tentang laut masih relatif minim.

Sekitar 2/3 wilayah Indonesia adalah laut. Negeri ini juga memiliki terumbu karang yang kaya akan keragaman hayati (1/8 populasi dunia) – “The Jewel of World’s Coral Triangle”.

Namun sayang, luasnya laut dan jumlah pulau serta kekayaan khasanah hayati di dalamnya itu belum termanfaatkan dengan baik. Wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil cenderung masih menjadi kantong kemiskinan, terisolasi dan tidak tersentuh oleh deru pembangunan.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia perlu mengubah cara berpikir: mulai secara serius menengok khasanah kekayaan hayati dan budaya laut serta kepulauan sebagai jawaban atas krisis ekonomi dan lingkungan yang sekarang melanda negeri ini.

Ekspedisi ini diharapkan bisa menyumbang dokumentasi, pengetahuan serta ajakan yang lebih keras agar kita lebih serius mengembangkan potensi kelautan dan kepulauan kita sekaligus melestarikannya.

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia!

Walau Revrisond pernah mengatakan setelah kita memproklamirkan RI, sesungguhnya itu hanyalah memasuki masa transisi dari kolonialisme ke neo-kolonialisme. Saya kuatir rezim yang berkuasa hasil dari Pemilu 2009 akan menuntaskan masa transisi itu…….

Kalau begitu,….. Dirgahayu Indonesia!

salam hangat
andreas iswinarto

seluruh link-link bacaan terkait silah kunjung

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/nasionalisme-di-tapal-batas-atau-di.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: