Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Jiwa Mereka Sakit

Jiwa Mereka Sakit

July 2009
S M T W T F S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip:

PERCAKAPAN 1: LOGIKA YG BERJALAN

T = Bagaimana menurut Anda keadaan dunia pendidikan pada saat ini ?

J = Pendidikan formal di Indonesia jelas semakin lama semakin mahal.

Waktu saya kuliah di Universitas Indonesia, uang kuliah hanya Rp40 ribu per semester. Sampai lulus SMA saya bersekolah di sekolah swasta Katolik, uang sekolahnya mungkin sekitar Rp20 ribu per bulan saat itu. Sekarang sekolah yg sama mungkin memungut Rp500 ribu per bulan.

Sehabis lulus dari UI saya melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat, di Penn State, dan lulus tahun 1994. Master’s degree sudah cukup, dan yg penting saya tahu seperti apa yg diajarkan di luar negeri.

Ternyata pendidikan di luar Indonesia mengajarkan hal yg sama dengan di Indonesia. Cuma kenapa lulusan mereka lebih dihargai ? Apa karena kemampuan berbahasa Inggris ? Atau adakah suatu kelebihan lainnya yg tidak dimiliki oleh lulusan Indonesia ?

Saya bukan pemerhati pendidikan, walaupun secara sepintas lalu saya bisa melihat bahwa lulusan baru sikapnya lebih kritis. Anak-anak belasan tahun itu sudah bisa berpikir bahwa banyak hal yg diajarkan di sekolah-sekolah, terutama yg berhubungan dengan agama dan akhlak adalah omong kosong belaka.

Kita tidak bisa lagi membohongi anak-anak kita dengan bilang bahwa Allah menurunkan kitab suci dan bahwa ada Sorga dan Neraka kalau para pemimpin negara memperlihatkan bahwa mereka tidak takut masuk Neraka dan cuma perduli pada Sorga ketika mengucapkan innalilahi wa innaillahi roji’un, semoga di terima di sisi-Nya.

Nya itu siapa ? Allah ?

Saya pemerhati spiritualitas manusia, dan saya melihat bahwa kemunafikan semakin meraja-lela. Memang jilbab sedang menjadi mode sekarang, bahkan pemerintah Pekanbaru secara tidak tahu malu mengeluarkan peraturan bahwa di sekolah-sekolah umum diwajibkan memakai jilbab bagi siswi wanita.

Itu adalah “pendidikan” (dalam tanda kutip) yg diberikan oleh kita terhadap generasi muda. Pendidikan kemunafikan. Munafik luar dalam. Yg dikutip adalah alasan bahwa akhlak itu ditentukan oleh jilbab, pedahal dalam praktek siswa siswi itu tahu bahwa pemerintah Indonesia, baik pusat maupun daerah, bukanlah pemerintahan yg bersih. Korupsi merajalela, dan bahkan banyak dari orang tua para siswa siswi itu juga terlibat korupsi, dan mereka juga tahu itu.

Tapi Allah tetap disembah bukan ? Pelajaran agama tetap menjadi pelajaran wajib bukan ? Pedahal yg penting bukanlah pelajaran agama yg hasil akhirnya adalah kemunafikan, melainkan pelajaran etika dan logika. We do good to each other because we want to do good, dan bukan karena ada Allah.

Logika juga penting, karena kalau tidak kita akan seperti ini saja, seperti MUI yg bilang bahwa pluralisme haram. Bahwa perbedaan itu haram, tetapi kondom dijual bebas, dan sudah banyak sekali yg menggunakannya. Itu kemajuan luar biasa sekali, yg di jaman saya sekolah belum ada.

Anak-anak sekarang semakin lebih cepat dewasa, they can have sex with each other walaupun tetap pakai jilbab. Bukan akhlak yg rusak, tetapi logika yg berjalan.

+

PERCAKAPAN 2: GAK HABIS PIKIR

T = Gak habis pikir,

Bagaimana bisa ada sekelompok orang yg agar “dipuji” oleh Tuhannya dan dijanjikan masuk Surga agar bisa bersetubuh dengan bidadari dengan cara membunuh sebanyak mungkin orang-orang yg tidak berdosa ? Suatu kepercayaan yg sangat sangat menyesatkan dan sangat sangat berbahaya.

Pertanyaan saya, apa yg bisa kita lakukan dengan orang-orang seperti itu ?

J = Orang-orang seperti itu tetap bebas berkeliaran karena kita tidak bisa mengadili jalan pikiran orang. Apapun yg orang mau percayai merupakan HAM yg ada di orang itu. Namanya HAM Kebebasan Beragama.

Tetapi kalau sudah melakukan tindakan terorisme, maka tentu saja sudah masuk kriminalitas, dan pelakunya harus ditindak dengan tegas.

Menurut saya, kita masih bisa melakukan tindakan preventif dengan berbicara dan menulis terus terang bahwa Allah itu cuma konsep saja.

Dan bahwa kitab-kitab suci itu semuanya buatan manusia belaka, walaupun tentu saja ada ayat yg bilang bahwa dia Allah yg menciptakan langit dan bumi dan menjanjikan Sorga as well as mengancam dengan Neraka.

Surga bagi manusia yg mau taat kepada si Allah, dan Neraka bagi orang yg tidak mau mengikuti kemauan si Allah.

Ayat-ayat itu semuanya buatan manusia belaka, dan dibuatnya oleh manusia yg jauh lebih terbelakang pemikirannya dibandingkan dengan kita yg hidup di abad 21 M ini.

Cukup pengertian itu saja yg disebar-luaskan, dan sedikit demi sedikit orang akan sadar juga bahwa yg selama ini diajarkan ternyata kebohongan belaka.

Mengajarkan bahwa agama diturunkan oleh Allah adalah suatu kebohongan. Itu belief system belaka, sesuatu yg tidak benar tetapi dipercayai sebagai benar.

Sesungguhnya agama-agama itu diciptakan oleh manusia-manusia di masa lalu yg bilang bahwa Allah menurunkan ayat-ayat itu. Pedahal semua ayat itu asalnya dari si manusia itu sendiri, hasil pemikirannya sendiri.

And this is as honest as I can say it.

Kalau kita sudah sadar bahwa ternyata agama-agama itu buatan manusia di masa lalu, akhirnya kita akan tergugah untuk menciptakan agama yg lebih manusiawi. Kalau agama yg kita warisi ternyata tidak beradab dengan melakukan diskriminasi terhadap kaum wanita, maka kita akan mampu untuk membuat agama yg lebih beradab dengan menghapuskan diskriminasi terhadap kaum wanita.

Manusia sadis di masa lalu menciptakan syariat supaya kita bisa masuk Sorga. Kita di masa kini bisa saja menendang syariat itu dan bilang bahwa kita tidak masochistic. Kita tidak memerlukan Allah yg sadis yg cuma ada di pikiran si manusia masa lalu yg mengatas-namakan Allah.

Pedahal Allah yg asli ada di dalam kesadaran setiap manusia.

Kalau itu bisa disadari dan diterima, maka dunia ini semakin lama akan semakin baik. Kita akan bisa membawa rahmatanlil alamin.

Rahmatanlil alamin tanpa syariat dan tanpa Allah yg gila kuasa, gila darah orang “kafir” dan sangat melecehkan wanita.

+

PERCAKAPAN 3: JIWA MEREKA SAKIT

T = Tuhan,

Apa yg membuat mereka melakukan itu ?

J = Karena mereka tidak tahu bahwa saya juga Tuhan.

T = Apakah karena mereka terlalu merindukan MU juga ?

J = Mereka terlalu merindukan fantasi mereka tentang saya. Mereka pikir saya ada di dalam Sorga, pedahal saya ada di sini saja, di Jakarta, Indonesia.

T = Ataukah iming-iming MU akan surga dan neraka itu ?

J = Saya tidak mengiming-imingi mereka dengan Sorga dan Neraka. Saya cuma bilang bahwa Tuhan yg mereka sebut sebagai Allah dan mengiming-imingi mereka dengan Sorga cuma hasil fantasi mereka saja.

Mungkin juga mereka belum sadar atau tidak mau sadar karena otaknya terlalu banyak dicuci dengan ayat-ayat.

Mereka pikir mereka menyenangkan hati Tuhan yg haus darah itu. Pedahal yg mereka senangkan hanyalah kesakitan jiwa mereka sendiri saja.

Jiwa mereka sakit.

Orang yg telah tercuci otaknya oleh ayat-ayat yg “diturunkan” oleh Tuhan yg haus darah adalah orang yg jiwanya sakit.

T = Jernihkanlah mereka…

J = Merekalah yg harus menjernihkan isi pikiran mereka sendiri. Harus tobat dan mengaku bahwa selama ini mereka telah tertipu oleh ayat-ayat itu, bahwa mereka telah dicuci otak oleh pemimpin agama mereka, bahwa jiwa mereka sakit.

+

Leo @ Komunitas Spiritual Indonesia .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: