Home » Perguruan Rakyat Merdeka » Pengalaman Pas Ngumpul Sama Pa’ Chodjim

Pengalaman Pas Ngumpul Sama Pa’ Chodjim

May 2009
S M T W T F S
« Dec   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Arsip:

PERCAKAPAN 1: PENGALAMAN PAS NGUMPUL SAMA PA’ CHODJIM

T = Share di note dunk Om, pengalaman pas ngumpul sama Pa’ Chodjim !

J = Pengalaman apa yah, saya kan duduk persis di belakang Achmad Chodjim yg ngasih ceramah tentang sembilan ajaran Syekh Siti Jenar. Ada sekitar 40 orang teman yg berkumpul saat itu, semuanya duduk lesehan dengan rapi, sempit-sempitan. Ada juga yg tidak kebagian tempat di dalam dan terpaksa duduk di teras.

Uraian yg diberikan sangat detil, teratur, sistematis. Achmad Chodjim mengerti Bahasa Jawa dan Bahasa Arab, dan referensinya sangat banyak. Penjelasannya sangat masuk akal, terbuka dan sama sekali tidak dogmatis. Gayanya memang konservatif, tapi gaya bisa deceptive juga.

Saya melihat essensi dan bukan gaya, so secara essensial saya merasa bahwa uraian dari Achmad Chodjim itu tidak berbeda dari pengertian saya selama ini bahwa agama-agama tidak lain dan tidak bukan cuma metode belaka. Metode itu alat, sarana, untuk mencapai keseimbangan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.

Tentu saja kita di sini melihat Syekh Siti Jenar seperti ditafsirkan oleh Achmad Chodjim. Bisa juga disebut sebagai Syekh Achmad Chodjim yg sedang berbicara tentang seorang warga nusantara masa lalu yg bernama Siti Jenar. What’s the difference ?

Yg sangat menarik adalah penjelasan gamblang dari Mbah Chodjim bahwa agama adalah alat dari penguasa sejak jaman dahulu kala. Itu benar. Bukan hanya di Jawa, melainkan di semua tempat di muka bumi ini. Dan para penguasa itu menggunakan para ulama untuk memaksakan berjalannya sistem feodalisme di masa lalu. Sampai saat ini bahkan masih ada penguasa yg menggunakan agama dan para ulamanya sebagai alat kekuasaan.

Ada simbiosis mutualisma antara penguasa dan ulama.

Ketika itu terjadi, maka yg rugi adalah masyarakat umum seperti kita semua yg akan menjadi sapi perah belaka, pedahal jelas kita bukan sapi melainkan manusia. Kita manusia yg bisa berpiikir dan menentukan sendiri apa yg kita inginkan dalam hidup.

Penguasa membutuhkan tenaga dan uang dari kita demi kelanggengan kekuasaan mereka. Dan ulama membutuhkan tenaga dan uang dari kita juga untuk melanggengkan kedudukan mereka sebagai ulama. Cocok bukan? Dan ber-simbiosis mutualisma lah mereka.

Tetapi sejak abad pencerahan di Eropa, mulailah ditelanjangi segala kebobrokan dalam simbiosis mutualisma antara penguasa dan ulama. Abad pencerahan di Eropa itu sejaman dengan masa hidup Syekh Siti Jenar di Jawa. Apa yg dicapai di Eropa ternyata bisa dicapai juga oleh manusia nusantara. Banyak manusia yg dipenggal dan dibakar hidup-hidup oleh gereja di Eropa. Kesalahannya kurang lebih sama dengan Syech Siti Jenar, yaitu mereka mencoba menggunakan otak mereka untuk berpikir.

Kalau kita menggunakan otak untuk berpikir, maka simbiosis mutualisma antara penguasa dan ulama akan ambruk. Di Eropa Barat sekarang ini sudah tidak ada lagi penipuan massal atas nama agama. Tetapi di Indonesia masih ada, at least masih diupayakan oleh sebagian ulama. Untungnya banyak dari kita sudah sadar bahwa kita memiliki HAM.

Dan HAM yg dimiliki oleh kita tidak lebih dan tidak kurang daripada HAM yg dimiliki oleh penguasa politik dan ulama. Kalau penguasa dan ulama bisa berbicara, kita juga bisa berbicara. Bicara saja!

Penjelasan tentang paralelisme antara sejarah Eropa Barat dan Syekh Siti Jenar di beberapa alinea di atas bukan dari Achmad Chodjim melainkan dari saya pribadi. Intinya adalah saya melihat dalam penjelasan Achmad Chodjim sesuatu yg paralel dengan pengertian saya selama ini, yaitu bahwa kita manusia di mana-mana memang tidak ada bedanya.

Ada paralelisme dalam pola berpikir manusia di Eropa Barat dan di Jawa 500 tahun lalu. Eropa Barat mengalami Abad Pencerahan, dan kita di Jawa memiliki Syekh Siti Jenar yg walaupun didzolimi oleh para ulama yg berkoalisi dengan penguasa, tetap saja memiliki ribuan pengikut di seluruh nusantara sampai saat ini.

Segala macam simbol yg digunakan oleh agama itu memiliki essensi yg jauh sekali dari pengertian yg mau dipaksakan oleh para ulama, terutama ulama yg berkoalisi dengan penguasa. Kita tahu bahwa sampai sekarang masih ada ulama di Indonesia yg jualan Tuhan agar bisa memperoleh kekuasaan politik. Setelah memperoleh kekuasaan politik, mereka akan membuat segala macam syariat agar menjadi hukum positif dengan alasan Allah yg suruh. Allah yg mana?

Pembodohan massal, pembodohan massal, said Jibril to me secara incognito.

Tuhan itu cuma konsep saja, said Jibril dengan terbuka tanpa malu-malu. Biarpun mungkin ada ulama yg ikut membaca note ini, Jibril tidak malu-malu untuk bilang bahwa Tuhan cuma konsep saja.

Nabi-nabi itu juga manusia biasa saja, tidak ada bedanya dengan anda dan saya.

Dan bahkan diriku sendiri juga cuma simbol belaka, tambah Jibril. Setelah itu Jibril pergi, terbang ke atas langit karena Jibril kan punya sayap.

Penjelasan dari Achmad Chodjim sangat praktis, dan makalahnya yg dibawakan dalam acara kemarin bisa juga di-download sekarang di bagian files di milis spiritual indonesia.

Makalah ini sudah saya mintakan ijinnya untuk di upload dan di share, judulnya “Masih Relevankah Ajaran Syekh Siti Jenar Dewasa Ini?” Klik saja <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. Lalu klik “files”, dan pilih file yg bernama “Syekh Siti Jenar”, atau yg bernama “Shekh”.

Kalau anda bukan member milis sehingga tidak bisa akses file itu, mungkin anda juga bisa klik link berikut:< http://groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia/message/70723>. File termaksud ada di bagian bawah dengan nama “shekh”.

T = Om, ada cara biar OOBE lagi ga’ om? Kalau OOBE, butuh banyak energi ga’ om? Kalau iya, energi apa gituh?

J = Ada berbagai teknik OOBE seperti membayangkan kesadaran kita ke luar dari dalam tubuh, dsb. Butuh banyak energi juga kalau mau dilatih dengan teknik-teknik itu, tapi untuk apa, what’s the use gitu lho. Energi yg dibutuhkan adalah rasa ingin tahu, penasaran, pantang menyerah, dan niat ingin menjadi orang sakti mandraguna.

T = By the way, karena Om apa adanya dan udah tampil di publik, Om pernah diteror ga’ sama orang-orang fanatik? Seperti yang terjadi sama Lia Eden, Ahmadiyah, dan para pengikutnya gituh?

J = Gak pernah. Saya ini orangnya biasa-biasa saja, kalau ketemu orang juga biasa-biasa saja. Dan orang-orang fanatik itu tidak ada urusannya sama saya. Mereka mau fanatik kek, mao gak fanatik kek, is not my business gitu lho. Saya memang berbicara apa adanya saja, tapi itu juga kalau ditanya. Kalau tidak ada yg bertanya, saya akan diam saja.

Kalau bertemu dengan orang fanatik yg mencoba berdakwah di depan saya, tentu saja akan saya tinggal dengan alasan saya tidak tertarik. Tapi sampai selama ini tidak ada tuh, tidak ada yg berani mempertontonkan kefanatikannya langsung di hadapan saya. Mungkin juga karena saya tidak tertarik untuk berdakwah kepada mereka. Saya tidak merasa memiliki panggilan untuk meluruskan orang fanatik agar kembali ke jalan yg benar.

Melalui emails terkadang ada juga orang yg berusaha menjual Allah dan segala asma-nya kepada saya, biasanya lengkap dengan maki-makian. Emails seperti itu saya koleksi sebagai kenang-kenangan, and that’s the reason I know that those fanatics are people with small hearts. Mereka itu manusia yg kerdil secara spiritual. Rajin memaki orang yg tidak sependapat, tetapi tidak berani kalau berhadapan.

+

PERCAKAPAN 2: SAYA INI SEBENARNYA MANUSIA BAGAIMANA YA?

T = Yth Mas Leo,

Mas, saya minta tolong diterawang, pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri saya selalu terlibat dalam perdebatan, tindakan yang saya ambil yang berdasarkan perasaan lebih sering kelirunya. Menurut hasil penerawangan Mas Leo, saya ini sebenarnya manusia bagaimana ya?

J = Anda sedang belajar untuk tidak terlalu memperdulikan perasaan anda karena anda tahu bahwa perasaan anda sering keliru. Coba saja untuk tidak terlalu memperdulikan perasaan anda. Be a new person gitu lho, yg tetap saja berjalan walaupun perasaannya tidak keruan.

Akhirnya anda akan terpaksa merubah cara berpikir anda selama ini.

Caranya itu ada dua, merubah cara berpikir anda dahulu lalu mulai berjalan, atau berjalan dahulu dan merubah cara berpikir anda belakangan. Menurut saya, lebih mudah untuk berjalan lebih dahulu dengan mengabaikan perasaan anda. Setelah anda bisa berjalan, walaupun rasanya tidak keruan, akhirnya anda akan lebih mudah untuk merubah cara berpikir anda.

Akhirnya akan bisa berjalan mulus tanpa disiksa oleh perasaan lagi.

T = Di dalam diri manusia selain: 1) perasaan/feeling yang letaknya di hati dan 2) pikiran/akal yang letaknya di otak, di diri manusia itu ada apa lagi selain dua itu? Saya masih bingung.

J = Kesadaran manusia memiliki beberapa komponen. Sigmund Freud bilang ada yg namanya Ego, Id, dan Superego. Ego itu konsep diri kita, Id itu naluri kita, dan Superego merupakan konsep tentang Tuhan, tradisi, ajaran leluhur, blah blah blah… yg kerjanya untuk mengimbangi ego kita selain untuk menteror kita agar tetap menjadi manusia terbelakang.

Manusia yg dewasa adalah yg berhasil untuk menerima segala perubahan yg tidak terelakkan. Kalau konsep Tuhan dari masa lalu ternyata terbukti cuma merupakan rekaan belaka, maka akhirnya ego di dirinya bisa menerima fakta itu. Walaupun mulanya tidak mau terima dan sempat memaki-maki orang lain yg menunjukkan fakta itu, akhirnya si Ego bisa menerima segalanya dan berubah.

Kata kunci di sini adalah transformasi diri, berubah. Kalau anda mau menerima bahwa manusia itu tidak sempurna, maka separuh jalan sudah terlewati. Tidak ada manusia yg sempurna, semua manusia masih harus membentuk dirinya sendiri dengan meng-inkorporasikan fakta-fakta baru.

Tuhan tidak menciptakan manusia secara sempurna. Nabi-nabi bukanlah manusia sempurna, bahkan Tuhan sendiri tidak sempurna karena itu cuma konsep doang. Kalau sudah sempurna maka kita tidak akan perlu membicarakannya lagi bukan?

T = Sewaktu dulu kuliah tingkat 1, sekitaran tahun 1993, saya pernah bermimpi shalat dua rakaat berdua bersama mantan Presiden Soeharto. Kami berdua shalat menggunakan pakaian ihram. Almarhum Pak Harto sebagai imam, saya di belakangnya sebagai makmum. Lalu Presiden Soekarno memperhatikan kami berdua shalat, tapi Pak Karno hanya terlihat dari pinggang ke atas aja. Pak Karno menggunakan jas, tidak pakai baju ihram.

J = Ini simbol saja, artinya anda berusaha untuk menjalani keislaman anda walaupun anda juga sebenarnya telah sadar bahwa keislaman itu juga cuma metode belaka. Tanpa ada orang lain yg memberitahu, secara intuitif anda telah tahu sendiri. Anda tahu bahwa ada orang-orang yg dicaci maki sebagai pembunuh ternyata tetap shalat, dan spiritualitasnya ternyata boleh dibilang lebih tinggi daripada anda. Orang ini disimbolkan oleh mantan Presiden Soeharto.

Lalu anda melihat mantan Presiden Soekarno yg ternyata tidak ikut sembahyang tapi cuma melihat saja. Soekarno adalah lambang dari orang yg pernah didzolimi oleh Soeharto, tetapi di mimpi itu orang yg didzolimi bahkan tidak ikut sembahyang melainkan hanya melihat saja. Ini juga simbolik yg mungkin bisa juga diartikan bahwa Soekarno memiliki spiritualitas lebih tinggi dibandingkan dengan Soeharto.

T = Beberapa hari sebelum mimpi tersebut, saya bermimpi taubat dan bermimpi kedatangan ibu kandung saya dan bapak tiri saya, mereka berdua pada kurus.

J = Ada kemungkinan bahwa kedua orang tua anda ini adalah mereka yg melakukan suatu laku keagamaan tertentu. Alam bawah sadar anda memperlihatkan bahwa walaupun mereka menjalani laku keagamaan, ternyata spiritual mereka tetap saja kurus. Bukan ada penghakiman di sini, melainkan cuma diperlihatkan suatu simbol bahwa laku keagamaan secara fisik bukan berarti otomatis akan menghasilkan spiritualitas yg dewasa dan bermanfaat, bahkan bagi orangnya sendiri.

T = Oh yah pak, saya juga pernah dua kali bermimpi melihat nabi Muhammad SAW di tengah lautan manusia.

J = Artinya, anda tahu secara intuitif bahwa ada orang yg memiliki spiritualitas tinggi dan tidak bisa dikenali secara fisik oleh manusia lainnya. Orangnya ada di tengah lautan manusia. Anda tahu bahwa orang itu ada, tetapi tidak ada yg mengenalinya. Tetapi ternyata orang itu tidak ada bedanya dengan anda dan manusia lainnya, sama-sama berada di tengah lautan manusia. Walaupun anda tahu bahwa itu nabi, ternyata posisinya sama saja seperti anda dan manusia-manusia lainnya.

+

Leo
@ Komunitas Spiritual Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>

It’s only me, sitting behind Achmad Chodjim dalam acara silaturahmi, Kamis, 21 Mei 2009.

diposting oleh:
leonardo_rimba@yahoo.com



1 Comment

  1. hamdi says:

    bisa boleh tau alamat pa Achmad Chodjim ? Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: